
"Iya, Bu. Saya bahkan pernah satu kelas dengan mereka waktu kelas satu. Saya mendapat tawaran masuk kelas akselerasi saat kelas dua. Karena itu saya tamat lebih dulu dari mereka. Tapi, saya heran saja, waktu kelas satu, Cara adalah peraih nilai tertinggi. Saya akui dia sangat pintar. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia malah menjadi peringkat tengah. Saya malah berpikir kalau dia mungkin bisa bersama saya mengikuti kelas akselerasi," ungkap Rian.
Untuk kedua kalinya Torih dan Sasdia terdiam mendengar kalimat Rian. Dua paruh baya itu teringat kejadian sekitar empat belas tahun yang lalu. Saat penerimaan hasil ujian, Cara adalah siswa pemegang nilai tertinggi di kelas mereka kala itu. Namun, bukannya bangga, Torih malah memarahi putrinya dan menuduh Cara bermain curang.
Mengingat itu, Torih kembali merasakan getaran rasa bersalah di dalam hatinya. Laki-laki paruh baya itu menunduk merutuki sifat brengsek dirinya dahulu. 'Heh, kau memang brengsek, Torih. Logikannya saja, mana mungkin anak sekecil itu akan memiliki pikiran untuk mencontek. Bahkan aku yakin, dia saja tidak tahu apa itu mencontek,' batin Torih merasa miris.
Rian terus bercerita tentang kejadian masa lalu. Sasdia dan Torih hanya diam sambil mendengarkan perkataan Rian. Hati mereka sesekali merasa hangat mendengar cerita masa kecil putrinya. Namun, sesekali mereka juga merasa tersindir dengan kejadian masa lalu kepada Dea dan Cara.
"Jadi, anggap saja semua ini saya lakukan sebagai teman sekolah Jesy. Saya tidak meminta apa-apa, Bu, Pak. Saya sungguh senang, ternyata ilmu dan kepandaian saya bisa berguna untuk salah satu teman saya," tutur Rian.
Sasdia dan Torih menghela napas panjang mendengar kalimat Rian. "Terima kasih, Dokter Rian. Kami tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu teman sekolah dasar Jesy di sini. Apa lagi dengan keadaan seperti ini," papar Sasdia.
Rian kembali tersenyum tipis mendengar kalimat Sasdia. Rian memang tipe laki-laki ramah dan hangat, memang sesuai dengan posisinya sebagai psikolog. "Semua orang ada kalanya merasa berada dititik paling rendah. Ada kalanya setiap orang yang memiliki akal pikiran merasakan tertekan sampai tidak bisa menguasai diri sendiri. Jadi, hal seperti ini memang sangat menyakitkan perasaan setiap keluarga. Namun, semangat kita mampu membawa aura positif kepada mereka untuk segera pulih."
__ADS_1
Sasdia dan Torih kembali terdiam mendengar perkataan Rian. Mereka menilai, Rian adalah laki-laki yang begitu dewasa dengan wawasan dan pikiran yang terbuka. Mungkin karena memang sebagai psikolog, berbicara dan bercakap dengan Rian, terasa begitu nyaman dan menenangkan bagi sepasang paruh baya itu.
"Oh, iya. Di mana Cara sekarang?"
Deg …. Entah untuk keberapa kalinya, Torih dan Sasdia dibuat terdiam oleh Rian. "Ekhm … Cara sudah menikah dan sekarang dia tinggal bersama suaminya," balas Torih.
"Wah, benarkah? Apa dia menikah sambil berkuliah?" tanya Rian penasaran dengan salah satu teman sekolah dasarnya itu.
"Iya, seperti yang Dokter katakan. Cara memang sangat pintar, dia bahkan berkuliah dengan kepandaiannya sendiri. Dia mendapat beasiswa full," papar Torih.
...*****...
"Dad, apa harus aku pakai ini?" tanya Cara. Saat ini wanita itu sedang memakai setelan yang serba panjang dan longgar.
__ADS_1
Geo menoleh dan nampak masih kurang puas. "Ck, kenapa kamu malah terlihat imut memakai ini, Mom?" desah Geo nampak kesal.
Cara hanya diam, pasrah dengan kalakuan sang suami yang sedari tadi menyuruhnya mengganti baju. "Sudahlah, Daddy. Aku pakai ini saja, sudah lima kali aku mengganti baju. Aku lelah ini," keluh Cara.
"Tapi anggota Tiger akan ke sini, Sayang. Aku tidak mau kalau kamu dilihat berpenampilan cantik di depan mereka," celoteh Geo.
"Hufft … sudahlah, aku pasrah saja," gumam Cara. Sang suami masih nampak sibuk memilih pakaian di dalam lemari di ruangan walk-in closet itu.
Tring … Tring … Tring …
Suara telepon genggam Geo mengalihkan perhatian Cara. Wanita itu melirik layar ponsel sang suami. "Dad, Kak Alex menelepon. Pasti yang lain sudah sampai," ucap Cara.
"Angkat saja, Sayang,," sahut Geo.
__ADS_1
Mendengar itu, Cara menekan ikon angkat di layar benda pipih itu. "Hei! Apa kau tidak sadar kalau ini sudah dua jam lebih? Haruskan bermain air selama itu? Bedebah!"