Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
198. Karena Dia Laki-laki (lb)


__ADS_3

Cara tersenyum senang melihat Tiara menggendong Geno. Wanita itu merasa senang dan merasa seakan Tiara adalah sosok mendiang bundanya. Cara menghela napas pelan saat pikirannya kembali mengingat mendiang Dea. Geo yang melihat perubahan raut wajah sang istri mendekat dan mengusap rambut Cara.


"Ada apa, Baby?" tanya Geo.


Cara menoleh dan menatap wajah Reo dengan senyum tipisnya. "Tidak Kak, aku hanya sedang mengingat mendiang Bunda. Jika Bunda masih ada, dia pasti juga akan begitu senang dengan kelahiran Geno," ucap Cara.


Geo terdiam mendengar perkataan Cara. Laki-laki itu tersenyum tipis kepada sang istri sambil mengusap pipi Cara lembut. "Lain waktu jika Geno sudah sedikit lebih besar, kita ajak dia bertemu dengan kedua Nenek dan juga Kakeknya," papar Geo.


Cara ikut tersenyum tipis mendengar perkataan Geo. Memang tidak bagus jika harus membawa Geno yang masih begitu kecil saat ini. "Iya, Kak," sahut Cara.


Cara menoleh saat Tiara mulai mendekat ke arahnya. "Sepertinya Baby Al sudah lapar, Ra," papar Tiara.


"Oh, mungkin iya, Ma. Sudah satu jam juga," sahut Cara.

__ADS_1


Secara perlahan Tiara cara memberikan tubuh mungil Geno ke dalam pelukan Cara. Cara menunduk menatap wajah tampan bayi kecil itu dengan senyum bahagia. "Anak Mommy sudah lapar lagi?" ucap Cara seakan sedang berbicara dengan sang anak.


Secara perlahan Cara mulai membuka kancing bajunya, untuk menyusui bayi tampan itu. Ruangan rawat Cara yang saat ini memang hanya ada Tiara dan Reo, membuat Geo tidak terlalu posesif. Sebab tidak ada laki-laki lain di sana kecuali dirinya.


Namun, entah kenapa melihat kegiatan Cara menyusui sang anak. Malah masih membuat Geo merasa cemburu. Cara yang melihat wajah kesal sang suami hanya bisa tertawa kecil. "Lihatlah, Sayang. Daddymu ini malah cemburu kepada putranya sendiri. Lucu sekali bukan?" sindir Cara.


Geo yang mendengar itu hanya bisa mendengar kecil. "Bagaimana aku tidak cemburu, seharusnya itu hanya milikku," papar Geo kesal.


Cara tertawa mendengar perkataan Geo yang begitu jujur dan spontan. Wanita itu melirik ke arah Tiara yang untungnya saat ini sedang sibuk dengan telepon genggamnya. Entah Tiara memang tidak mendengar percakapan mereka atau hanya sekedar pura-pura tidak mendengar.


"Pokoknya Geno tidak boleh terlalu lama menyusui dengan kamu," ketus Geo.


Cara mengulum bibirnya mencoba menahan tawa melihat wajah kesal sang suami. Bagaimana tidak, masa iya ada seorang bapak yang cemburu kepada anaknya. "Memang tidak akan terlalu lama kok, Kak. Hanya dua tahun saja, setelah itu Geno bisa lepas, tidak harus menyusui lagi," terang Cara.

__ADS_1


Mata melotot mendengar kata dua tahun yang diucapkan Cara. "Dua tahun? Itu sudah sangat lama, Sayang. Bagaimana mungkin selama dua tahun aku bisa menahannya," sahut Geo tidak percaya.


Untuk kesekian kalinya Cara kembali tertawa kecil. "Memang dua tahun, Sayang," tutur Cara.


Geo hanya mampu menundukkan kepalanya merasa lesu dengan kata dua tahun yang terus terngiang di kepalanya. Sedangkan Cara yang melihat wajah frustasi milik sang suami hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil. "Kamu ada-ada saja, Kak. Masa iya kepada anak sendiri harus cemburu?"


"Bagaimana pun dia itu laki-laki, Sayang," papar Geo.


"Tapi kan anak kamu," balas Cara.


"Tetap dia itu laki-laki," sahut Geo tidak mau kalah.


Cara memutar bola matanya mendengar kalimat Geo yang seakan tidak ingin kalah. "Jadi kalau dia perempuan, kamu tidak akan merasa cemburu, begitu?" tanya Cara.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan cemburu kalau dia perempuan. Tapi dia laki-laki, apalagi dia lebih tampan dariku. Aku sama sekali tidak mau kalau dia sampai merebut kamu dariku. Apalagi nanti kalau dia membanggakan wajah tampannya itu. Bagaimana pun wajah tampannya itu didapat dariku."


Cara menganga melihat wajah kesal Geo yang berucap seperti itu. Saat ini laki-laki itu seakan sedang menghadapi seorang laki-laki dewasa yang sedang menarik perhatian Cara. Padahal saat ini Cara hanya sedang berhadapan dengan putra mereka. "Iya, terserah kamu saja, Kak," pungkas Cara pasrah.


__ADS_2