Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
151. Bertengkar (lb)


__ADS_3

"Bukan hati aku yang tertutup, Mas. Tapi kamu yang sudah terpengaruh, apa karena Cara memperlihatkan foto mendiang gembel itu kepadamu?" ucap Sasdia sinis.


"Cukup Sasa, kalau sampai Cara mendengar kalimatmu yang menghina mendiang bundanya lagi. Kita bisa berada dalam masalah besar," tegur Torih.


"Kamu yang cukup, Mas. Kenapa sekarang kamu kembali membela Cara? Apa karena dia juga anakmu dengan gembel itu?" murka Sasdia hilang kendali.


"Aku bilang cukup, Sasa. Aku memiliki anak dengan Dea juga karena ulahmu bukan? Kamu yang membuat aku mabuk dan bergairah kala itu, sampai menghamili Dea dan menghadirkan Cara ke dunia ini. Jadi jangan menyalahkan orang lain lagi, salahkan diri kamu sendiri!" bentak Torih.


"Kamu yang tiba-tiba berubah saat Cara memperlihatkan foto Dea kala itu. Bahkan kamu tega bermain tangan kepada aku dan Jesy."


"Kau membahas masalah itu lagi? Aku sudah meminta maaf, kenapa kau malah membahasnya lagi? Lagi pula waktu itu bukan karena hal itu, kau salah paham. Aku waktu itu memang berada di luar kendali sebab perusahaan berantakan. Bukan karena hal yang kau sebutkan itu," geram Torih.

__ADS_1


"Huh, aku tahu kamu ha …."


"Mama, Papa." Kalimat Sasdia terpotong saat mendengar suara pelan Jesy. Sepasang paruh baya itu menoleh dan menatap Jesy yang sedang menatap sendu ke arah mereka.


Sasdia melotot, dia baru sadar kalau suaranya sudah lepas kendali sampai membuat sang anak bangun. "Maafkan Mama, Sayang. Mama jadi membangunkan kamu," sesal Sasdia.


Jesy hanya diam, wanita itu menatap Sasdia dan Torih secara bergantain. Beberapa saat kemudian, mata Jesy berembun dan mulai memanas. Satu air mata lolos keluar dari mata sayu Jesy. "Kenapa kalian bertengkar lagi? Tolong jangan seperti ini, aku … hanya memiliki kalian. Kekuatanku saat ini hanya ada pada kalian. Jika kalian bertengkar dan saling berpecah belah lagi, maka … biarkan saja aku mati."


"Jesy!" tegur Sasdia tidak suka. "Mama minta maaf, Mama dan Papa tadi hanya lepas kendali. Kami mengkhawatirkan keadaan kamu, sampai merembes kemana-mana. Jangan berbicara seperti itu, Sayang. Mama dan Papa akan selalu ada di samping kamu. Iya kan, Mas?" Sasdia menoleh ke arah Torih, sedangkan Torih mengangguk kecil sambil mencoba memaksakan senyumnya.


Rical menggenggam tangan Helen erat, laki-laki itu sesekali melirik wajah kosong gadis itu. Rical menghela napas berat, dia merasa begitu tidak bersemangat melihat Helen masih saja seperti itu. Wajah murung yang beberapa hari ini setia menemani kesehariannya. "Sy," panggil Rical.

__ADS_1


Helen menoleh dan menatap Rical dengan ekspresi kosongnya itu. "Berbicaralah, aku lebih suka dengan sifat cerewet kamu dari pada seperti ini," ungkap Rical.


"Aku malas saja, Kak," sahut Helen pelan.


Rical kembali menghela napas berat mendengar suara pelan Helen. Suara yang begitu lesu seakan tidak ada harapan dan semangat hidup. "Hari ini Cara akan membuat akuarium, dia memintaku untuk ke sana mengajakmu. Katanya dia juga akan membuat ladang anggur mini, kamu ingin ke sana?"


Kalimat Rical kali ini mampu menghadirkan setitik binar di wajah Helen. Melihat itu Rical tersenyum, sambil menghela napas merasa sedikit lega. "Aku suka ikan, dan sedari dulu ingin sekali berladang," cetus Helen.


"Kenapa tidak kamu katakan kepadaku? Apa kamu ingin kita membuat akuarium juga? Dan ikut membuat ladang anggur, atau kamu ingin menanam apa? Apel, stroberi atau apa pun itu. Katakan saja kepadaku," terang Helen.


"Kita lihat ditempat Kak Cara nanti. Apa ini juga keinginan bayinya?" balas Helen. Mendengar kalimatnya mulai direspon, Rical kembali menghela napas lega.

__ADS_1


"Iya, permintaan Cara kali ini tidak aneh. Masih masuk ke dalam akal sehat manusia, dari pada dulu minta menggambar kepala orang botak." Rical menggelengkan kepalanya saat mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu. Sedangkan Helen yang mendengar itu sudah tertawa kecil.


Melihat tawa Helen, membuat Erick tersenyum tipis. 'Ini baru gadisku, gadis yang ceria,' batin Rical.


__ADS_2