Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
90. Porsi Banyak (lb)


__ADS_3

"Itu Kak, di sana." Cara menunjuk sebuah kedai sate kambing di tepi jalanan.


Geo menoleh dan sedikit mengernyit. "Kamu yakin, Sayang?" tanya Geo.


"Iya, ayo cepat. Wah … ramai, pasti enak." Cara menatap isi kedai yang begitu ramai dengan tatapan berbinar. Geo yang melihat mata sang istri yang begitu berbinar terpaksa mengikuti kemauan Cara. Laki-laki itu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


"Ayo, Kak." Cara dengan semangat menarik lengan kekar Geo memasuki kedai sate.


Banyak sekali pengunjung yang mencuri perhatian kepada sepasang suami istri itu. Cara yang begitu cantik membuat para wanita merasa iri, sedangkan Geo yang begitu tampan mampu membuat mereka seakan terhipnotis. "Mau pesan, Neng?" tanya seorang laki-laki paruh baya.


Cara mengangguk cepat sambil tersenyum ramah. "Iya, Pak. Saya mau pesan sate kambingnya," tutur Cara.


"Berapa tusuk dan berapa porsi, Neng?" tanya bapak itu lagi.


Cara mendongak menatap wajah datar Geo. "Kakak juga ya," ujar Cara.


"Iya, Sayang." Geo menyahut sambil tersenyum tipis.


"Ingin dua puluh tusuk dan dua porsi ya, Pak," ucap Cara kepada pedangan sate.


"Iya. Makan di sini atau bungkus, Neng?" tanya bapak itu lagi.


"Makan di sini, Pak," sahut Cara.


"Kalau begitu silakan duduk dulu, Neng." Bapak itu menunjuk ke arah ruangan kedai sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Kamu yakin bisa menghabiskan dua puluh tusuk, Baby?" tanya Geo.


"Yakin, Kak. Aku lapar sekali, apa lagi mencium wangi asapnya tadi membuat perutku keroncongan," sahut Cara semangat.


Geo terkekeh kecil, sepasang suami istri itu terus bercakap menghiraukan tatapan kagum para pengunjung lainnya. Hal itu memang sudah biasa bagi mereka. "Permisi, Neng … Mas," ucap seseorang.


Mata Cara berbinar kala melihat pesanan mereka telah sampai. Cara menelan liurnya merasa sudah tidak tahan untuk menyantap daging kambing yang ditusuk, dibakar dan disirami kuah khas itu. Geo yang melihat ekspresi sang istri sempat mengernyit. Setelahnya Geo melotot kala dengan gerakan cepat Cara melahap tiga tusuk sate sekaligus. "Pelan-pelan, Sayang. Tidak ada yang akan mengambilnya darimu, nanti kamu tersedak," peringat Geo khawatir.


"Aku, syudah … tiduak tahan, Kak." Cara menjawab dengan mulut berisi. Geo meringis melihat pipi Cara yang sudah belepotan terkena kuah sate.


Laki-laki itu mengambil tisu dan segera mengelap kuah sate di pipi sang istri. "Pelan-pelan, Sayang. Nanti pipi kamu panas," tutur Geo.


"Ayo makan, Kak. Enak," ucap Cara semangat.


"Kak, aku ingin tambah," ucap Cara.


Geo menganga, wanita itu sudah menghabiskan sepiring sate dengan porsi yang cukup banyak. "Yakin, Baby? Nanti perut kamu sakit," kata Geo ragu.


"Aku masih ingin sate," rengek Cara.


"Ba-baiklah," sahut Geo mengalah.


...*****...


"Mas … ke sinilah, anak kita sakit. Tangannya cukup parah, Mas." Sasdia terisak kecil sambil menelepon sang suami.

__ADS_1


"Ck … memangnya ada apa?" sahut Torih malas.


"Tadi wanita brengsek itu datang lagi, dia menganiaya kami, Mas. Dia bahkan hampir membunuh kami," lirih Sasdia.


"Terus?" tanya Torih.


"Apa kamu tidak ingin ke sini, Mas? Anak kamu sedang sakit, badannya panas, Mas," papar Sasdia.


"Huh … aku masih di kantor. Lagi pula, kenapa juga Jesy masih belum bisa menaklukkan Tuan Carves. Kalau dia bisa lebih pintar lagi, semua ini tidak akan terjadi," ujar Torih.


"Jesy sedang berusaha, Mas. Jadi tolong kamu hargai dia, Erick beberapa hari ini tidak pulang ke mansionnya. Entah ke mana laki-laki tidak bertanggung jawab itu. Dia meninggalkan istrinya dan membiarkan orang lain menginjak dan menganiaya istrinya yang sedang mengandung anak kandungnnya sendiri. Rical sungguh laki-laki brengsek," geram Sasdia.


"Sudahlah, tidak usah banyak bicara. Aku sedang pusing," sela Torih.


"Apa kamu masih tidak mengizinkan Jesy pulang, Mas? Dia teraniaya di sini, Mas," ucap Sasdia.


"Sudah aku katakan berapa kali, semua ini ulahnya. Biarkan dia bertanggung jawab, aku sudah malu dengan insiden kehamilannya itu. Jangan menambah bebanku," desis Torih.


Sasdia menghela napas berat. "Baiklah, jadi kamu ke sini atau tidak, Mas?" tanya Sasdia.


"Aku saja belum tau akan pulang jam berapa, atau mungkin akan tidur di sini. Sudahlah, kalau sempat aku ke sana." Setelah mengucapkan itu, Torih mematikan sambungan telepon begitu saja.


Sasdia menatap sayu layar ponselnya. "Kenapa semuanya jadi seperti ini?" gumam Sasdia.


Setelahnya wanita paruh baya itu menatap putrinya yang sedang tertidur dengan wajah pucat. Air mata wanita itu kembali menetes merasa kasihan melihat nasib sial anaknya. Sasdia mengedar dan menggulir bola matanya menatap seisi ruangan yang cukup sempit itu. "Kasihan sekali kamu, Nak. Mama harus melakukan apa supaya kita keluar dari nasib sial ini?" lirih Sasdia.

__ADS_1


__ADS_2