Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
168. Tidak (lb)


__ADS_3

Sasdia melotot saat melihat tangan Jesy sedikit bergerak. "Mas … tangan Jesy bergerak, Mas!" seru Sasdia.


Torih yang mendengar kalimat Sasdia segera mendekat ke arah ranjang Jesy. Sepasang paruh baya itu melihat mata Jesy mulai bergerak. Sasdia tersenyum senang saat mata putrinya terbuka sempurna. Nampak Jesy sedikit memicing menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. "Panggil Doker, Mas," tutur Sasdia antusias.


Tanpa bernyahut, Torih segera bergerak keluar untuk memanggil Dokter. Sedangkan Sasdia berdiri dan menatap putrinya yang tampak masih belum tersadar sepenuhnya. "Sayang," panggil Sasdia pelan.


Jesy menoleh menatap wajah Sasdia. "Shh …." Sasdia terkejut saat mendengar ringisan kecil dari mulut Jesy.


"Apa yang sakit, Sayang?" tanya Sasdia cemas.


"Kepala aku pusing, Ma," sahut Jesy.


"Tunggu, Sayang. Papa sedang memanggil Dokter," papar Sasdia.


Cklek …. Seorang dokter perempuan masuk ke dalam ruangan, disusul oleh Torih di belakangnya. "Permisi, saya periksa dulu, ya," ucap dokter itu ramah.


Dokter perempuan itu memeriksa keadaan Jesy yang nampak masih begitu lemah. "Sudah semakin membaik, apa kepala kamu pusing?" tutur dokter.


"Iya, Dok," jawab Jesy.

__ADS_1


"Itu wajar, kapala kamu terbentur dan kamu juga sedikit lama tidak sadarkan diri sebab operasi. Jadi, semuanya baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu luka operasi segera mengering," jelas dokter.


"Baik, Dok. Terima kasih," balas Sasdia.


"Karena Nona Jesy sudah bangun, jadi nanti sore sudah bisa mulai minum obatnya. Kalau begitu saya permisi dulu."


Kepergian dokter itu menyisakan keheningan di dalam ruangan itu. Sasdia bahagia melihat Jesy sudah sadar. "Sayang," panggil Sasdia lembut.


"Ma," balas Jesy pelan.


"Iya, kamu ingin apa? Ingin minum?" tanya Sasdia.


Napas Sasdia dan Torih tercekat mendengar pertanyaan itu. Pasangan paruh baya itu saling tatap sejenak, kemudian mereka kembali menatap Jesy dengan tatapan sendu. "Ma, Pa. Kenapa kalian diam? Apa anakku sudah di keluarkan?" sambung Jesy.


Sasdia mendekat dan memeluk tubuh Jesy dengan air mata yang mulai mengalir. Jesy yang mendapat perlakuan seperti itu mengernyit tidak mengerti. "Kenapa Mama menangis? Pa, ada apa?" tanya Jesy lagi.


Torih menghela napas berat, sebelum mulai bersuara. "Kondisi kamu sangat parah, pendarahan itu bukan hanya sekedar pendarahan biasa. Janin kamu terguncang dan terbentur cukup kuat. Sehingga … bayi kamu tidak mampu bertahan." Torih menunduk lemah setelah mengucapkan kalimat itu.


Sedangkan Jesy masih terdiam menatap Torih dengan wajah tidak mengerti. "Apa maksud Papa? Apa anakku lahir prematur?" ucap Jesy.

__ADS_1


"Tidak, Sayang. Dia … pergi, pergi meninggalkan kita. Kamu yang sabar, ya." Sasdia menatap wajah Jesy yang saat ini mulai berubah tegang.


"Apa maksud Mama?" geram Jesy.


"Anak kamu meninggal, Sayang." Sasdia terisak sambil menunduk tidak kuat menatap wajah Jesy.


"Jangan mengada-ngada, Ma. Anak aku masih hidup, dia pasti sedang berada di ruangan lain kan? Dia lahir prematur, jadi dispesialkan. Begitu kan, Ma?" papar Jesy.


Sasdia semakin terisak mendengar perkataan Jesy. Hatinya begitu teriris mendengar nada lemah Jesy. "Jangan begini, Sayang," ujar Sasdia lesu.


"Apa, memang begitu kan? Ayo antar aku ke ruangan anakku, Ma. Aku ingin menyapanya," kata Jesy.


"Jesy, terimalah Nak. Jangan seperti ini, kasihan bayi kamu di sana," lirih Sasdia.


"Diam, Ma. Mama yang jangan seperti itu, anak aku masih hidup. Dia masih hidup! Mama kenapa tega sekali berbicara seperti itu kepada cucu sendiri?" tekan Jesy.


Sasdia menggeleng cepat. "Memang ini sulit, tapi … begitu adanya, Sayang. Kemarin Mama dan Papa sudah mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya," ungkap Sasdia sendu.


"Tidak! Shh …." Jesy memegang perut bagian bawahnya yang terasa begitu sakit saat dia berteriak.

__ADS_1


Sasdia yang melihat itu terkejut dan panik. "Sayang, jangan berteriak. Luka operasi kamu masih basah," tutur Sasdia cemas.


__ADS_2