
Jesy dan Sasdia mendekat ke arah Erick yang sedang duduk santai di atas sofa bersama Helen di sampingnya. Jesy terus menatap ke arah Helen dengan tatapan tidak suka. 'Wanita ini terus menempel kepada Rical, tidak tahu malu,' batin Jesy marah.
"Ekhm … Rical," panggil Jesy.
Rical yang sedang sibuk dengan ponselnya menoleh ke arah Jesy. Laki-laki itu menatap Jesy dengan pandangan datar tanpa minat. "Itu, aku … ingin meminta izin untuk memperbolehkan Papaku ikut tinggal di sini," tutur Jesy pelan.
Rical kembali sibuk dengan ponselnya. "Kalau bukan karena Cara yang meminta, aku tidak sudi membiarkan keluargamu berkumpul di mansionku," pungkas Rical.
Jesy dan Sasdia terkejut mendengar nama Cara dari mulut Erick. "Cara?" tanya Jesy.
"Iya, siapa lagi? Aku tidak tahu kenapa dia menginginkan kalian tetap hidup tenang di sini. Padahal, sangat mudah bagi Geo membuat kalian hidup sengsara. Sebab itu, nikmati selama Cara masih berbaik hati kepada kalian, jaga sikap dan ikuti kemauannya. Keadaan kalian ini jauh lebih baik, sebelum nantinya Geo yang bertindak," jelas Rical.
Jesy dan Sasdia terdiam mendengar perkataan Rical. "Kalian hanya mendengar saja, bagaimana kejamnya Geo. Kalian tidak tahu saja, kalau laki-laki itu jauh dari kata manusia. Selama ini kalian hanya melihat sikap sifatnya saat bersama Cara. Jika Geo sedang tidak bersama istrinya itu, dia lebih buas dari singa dan lebih gila dari iblis," sambung Rical dingin.
Glek …. Sasdia dan Jesy menelan ludahnya kasar saat mendengar perkataan Rical. Mereka percaya apa yang dikatakan oleh Rical bukanlah guyonan semata. Melainkan sebaik kenyataan abadi yang memang sudah sedari dulu wara-wiri telinga masyarakat luas.
"Helen, ayo." Rical berdiri sambil menarik pelan tangan Helen.
"Rical." Baru saja Rical dan Helen akan melangkah, suara Jesy menghentikan pergerakan mereka.
"Apa lagi?" tanya Rical malas.
__ADS_1
"Tidak bisakah kamu menyapa anakmu, setidaknya sekali?" lirih Jesy.
Rical terkekeh sinis, setelahnya laki-laki itu membalikkan badannya dan menatap Jesy datar. "Tidak usah bermimpi terlalu tinggi."
Setelah mengucapkan itu, Rical pergi begitu saja menarik tangan Helen dari sana. Sedangkan Jesy sudah mengepalkan tangannya merasa begitu marah. "Sayang," panggil Sasdia.
"Aku tidak apa-apa, Ma," balas Jesy.
...*****...
"Kak, ayo bangun." Cara menarik lengan kekar Geo.
Entah kenapa pagi ini laki-laki itu begitu susah untuk dibagunkan. Cara mendengus kesal melihat Geo masih setia memejamkan matanya. Wanita itu naik ke atas ranjang dan menggigit telinga suaminya. "Akhhh …." Geo memekik kala merasakan panas menjalar di area telinga kirinya.
"Habisnya, dari tadi aku bangunkan masih tidak bangun. Kenapa Kakak menjadi kebo begini?" tutur Cara.
"Aku masih mengantuk, Baby." Geo menggeliat dan mendekat ke arah istrinya. Laki-laki itu meletakkan kepalanya di paha Cara, kemudian kembali memejamkan matanya.
Kening Cara berkerut saat melihat itu. Wanita itu mengusap rambut suaminya pelan. "Padahal kemarin malam tidak terlalu malam kita tidurnya, Kak," celetuk Cara.
"Entahlah, mataku masih terasa begitu berat," gumam Geo.
__ADS_1
"Terus Kakak tidak ingin ke kantor?" tanya Cara.
"Nanti saja, hari ini tidak ada meeting," balas Geo. Laki-laki itu menyingkap pakaian Cara dan menyembunyikan wajahnya ke dalam perut rata sang istri.
"Hai anak Daddy, kita tidur bersama, ya." Geo berbisik di perut sang istri sambil mencium gemas perut rata itu.
Cara yang mendengar kalimat suaminya terkekeh kecil. "Aku tidak akan sanggup menunggu kamu tidur dengan kondisi seperti ini, Kak," papar Cara.
Geo tersadar, apa yang dikatakan Cara memang benar. Tidak mungkin wanita itu akan sanggup menahan kepalanya dalam waktu lama. "Maaf, Baby. Aku tidak sadar."
Setelah mengatakan itu, Geo menurunkan kepalanya dan menarik Cara untuk ikut berbaring. "Berbaringlah, Sayang. Aku ingin tidur sebentar lagi. Nanti kita bangun saat waktu sarapan," pungkas Geo.
Cara menuruti perkataan suaminya. "Daddy kamu semakin manja saja, Sayang." Cara bersuara bertujuan kepada calon buah hati mereka yang masih berada di dalam perut.
Geo terkekeh mendengar perkataan Cara. "Aku terus ingin bersama kalian, aku sudah tidak sabar menunggu kehadirannya, Sayang," cetus Geo.
"Aku juga, Kak." Cara mengusap kepala Geo yang sedang berada tepat di dekat perutnya.
"Kamu sudah menyiapkan nama untuknya, Sayang?" sambung Cara.
"Ada, kamu ingin tahu?" tanya Geo.
__ADS_1
Cara menunduk menatap wajah tampan suaminya. "Iya, coba katakan," jawab Cara antusias.