
"Kenapa berjalan kaki, Nak Rian? Ke mana mobilnya?" tanya Sasdia. Wanita paruh baya itu sedikit bingung melihat Rian datang berjalan kaki tanpa membawa mobilnya.
"Oh, itu … mobilku sedang di bengkel, Tante. Aku tadi berangkat diantar sopir jadi pulang juga dijemput sopir. Tidak apa-apa jika aku menunggu sopirku datang di sini, Tante?" sahut Rian.
"Eh, tentu saja tidak apa-apa. Nak Rian ini seperti kepada siapa saja, padahal setiap hari Nak Rian juga ke sini setelah pulang kerja," balas Sasdia.
Rian terkekeh kecil mendengar perkataan wanita paruh baya itu. Setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah Jesy yang masih sibuk dengan sepotong semangkanya. "Wah, kamu memakan semangka hari ini?" tanya Rian.
Jesy menoleh dan menganggukkan kepalanya pelan. Melihat itu Rian mendekat dan duduk di samping Jesy. "Oh iya, Tante. Saat aku berjalan ke sini tadi aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang nenek-nenek yang menjual roti. Jadi aku beli saja semua dagangannya. Ini untuk Tante, Om dan Jesy saja."
Sasdia terkejut melihat Rian menyodorkan kantong plastik yang cukup besar ke arahnya. "Nak Rian selalu seperti ini, padahal tidak perlu," ucap Sasdia sungkan.
"Tidak apa-apa, Tante. Ambillah, bukankah Jesy sangat menyukai roti stroberi? Aku lihat di sini ada roti stroberi," sahut Rian.
"Hah, Nak Rian membuat Tante merasa sungkan saja. Kalau begitu makan malam lah di sini untuk kali ini. Kebetulan sekali Om kemarin gajian cukup banyak. Jadi hari ini Tante bisa membeli ikan dan beberapa sayur. Mungkin memang tidak semewah makanan Nak Rian biasanya," tutur Sasdia.
__ADS_1
"Eh, kenapa seperti itu. Aku tidak makan makanan mewah, Tante. Aku ini pecinta makanan Indonesia," jawab Rian.
Sasdia tertawa kecil mendengar perkataan Rian. "Baiklah, kalau begitu malam ini makan di sini, ya. Tante akan buat sambal yang enak, Nak Rian suka sambal matah?" tutur Sasdia.
"Wah, malah kesukaan aku itu, Tante," balas Rian.
Sasdia tersenyum hangat kepada laki-laki yang sedang duduk di samping putrinya itu. 'Mama senang, akhirnya kamu bisa mendapatkan laki-laki yang benar-benar tulus kepada kamu, Nak,' batin Sasdia merasa senang.
Tepat dua tahun yang lalu, Rian mengakui perasaannya kepada Torih dan Sasdia secara jujur. Mungkin karena setiap hari bersama, Rian menjadi memendam perasaan kepada Jesy. Bukan perasaan iba, tetapi memang perasaan suka dan sayang seorang laki-laki kepada perempuan.
...*****...
Semua orang terkejut mendengar kalimat Geo. Lima pasang orang tua itu secara serentak menoleh ke arah Geno yang sedang sibuk dengan bukunya. "Jadi, bisa kita katakan sebagai alter ego?" tanya Alex.
"Iya, tapi gejala dan tanda-tandanya berbeda," sahut Geo.
__ADS_1
"Aman kan, Kak?" tanya Helen nampak khawatir. Helen ibarat ibu kedua bagi Geno, meski sudah memiliki Razi, rasa sayang dan cinta Helen kepada Geno sama sekali tidak berubah.
"Sejauh yang aku lihat, aman. Psikologi itu juga mengatakan aman, meski kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi sepertinya, Taros ini ibarat sosok perlindung untuk tubuh Geno," jelas Geo.
"Aku juga berpikir begitu, Re. Jiwa Taros ini lebih ganas dalam hal praktek. Berbeda dengan Geno yang lebih cendrung kepada teori. Jadi hal itu yang membuat jiwa tubuh Geno seakan begitu sempurna. Memiliki teori dan praktek yang begitu pas dan seimbang," tutur Jarko.
"Aku sependapat dengan perkataan Jarko," balas Rical.
.
.
.
Masih semangat untuk liat kelanjutan kehidupan Geno
__ADS_1
Aku mau bocorin, kalau besok adalah episode terakhir dari cerita PEMBALASAN ISTRI MAFIA, jadi jangan sampai terlewatkan, ya.🥰
Menuju cerita Geno 🥳