
"Mas, hari ini Jesy tidak dibolehkan keluar ya?" tanya Sasdia kepada Torih.
Torih menoleh dan menghela napas panjang. "Tidak, karena kejadian waktu itu membuat Dokter melarang Jesy keluar untuk beberapa waktu. Tapi kita bisa melihatnya dari luar, Sa. Kamu ingin pergi?" balas Torih.
Sasdia mengangguk pelan. "Aku tidak bisa jika dalam sehari tidak melihat Jesy, Mas," sahut Sasdia.
Torih mengangguk pelan. "Ya sudah, ayo kita pergi. Waktu jenguk untuk di dalam ruangan terbatas. Kita harus cepat dan hanya bisa melihat paling lama lima belas menit," jelas Torih.
"Sebentar sekali," kata Sasdia lesu.
"Lebih baik dari pada tidak sama sekali kan?" cetus Torih. Mendengar itu Sasdia menghela napas berat.
"Tapi kita bisa memberi dia roti seperti biasa kan, Mas?" tanya Sasdia lagi.
"Entahlah, aku lupa menanyakan itu," sahut Torih.
"Kalau begitu kita beli dulu saja, kalau tidak boleh ya kita bawa pulang lagi," ujar Sasdia.
.
.
.
"Mbak." Sasdia memanggil seorang perempuan yang begitu dikenalinya. Perempuan yang dipanggil Sasdia itu menoleh dan tersenyum ramah ke arah Sasdia dan Torih.
__ADS_1
"Selamat siang, Mbak," sapa Sasdia.
"Selama siang, Bu, Pak," balas perempuan itu.
"Kami ingin mengunjungi Jesy, apa bisa?" tanya Sasdia.
Perempuan itu tersenyum tipis. "Bisa, Bu. Mari saya antar ke tempat pendaftaran," sahut perempuan itu.
"Terima kasih, Mbak. Kondisi Jesy baik-baik saja kan, Mbak?" tanya Sasdia.
"Syukurnya kemarin Nona Jesy baik-baik saja. Dia nampaknya sudah lebih tenang, tapi Dokter memang belum memberi izin untuk Nona Jesy keluar ruangan," jelas perempuan itu.
Sasdi yang mendengar itu menghela napas lega. Setidaknya Jesy sudah tidak lagi mengamuk seperti terakhir kali wanita itu lihat. "Syukurlah, Mbak. Saya benar-benar khawatir dengan keadaan putri saya. Takut kalau dia mengamuk lagi," pungkas Sasdia.
"Oh iya, Mbak. Apa kami bisa memberi Jesy roti seperti biasanya?" tanya Sasdia.
"Maaf, Bu. Karena Nona Jesy sedang dikurung di dalam ruangan. Hal seperti itu tidak diizinkan, karena berbagai alasan. Salah satunya untuk menjaga keamanan pasien," ungkap perempuan itu.
Mendengar itu Sasdia menoleh ke arah Torih. Setelahnya wanita paruh baya itu mengangguk paham. "Tidak apa-apa, Mbak. Kami mengerti, ini juga demi kebaikan Jesy dan pasien lainnya," ujar Sasdia.
...*****...
"Lihat ini, kalian sudah melihatnya atau belum?" tanya seorang perempuan kepada Siera dan Helen.
Siera dan Helen yang sedang berjalan menuju parkiran terkejut melihat sekumpulan mahasiswa nampak begitu heboh. "Ada apa sih?" gumam Siera.
__ADS_1
"Wah gila! Dia gila?" Siera semakin dibuat penasaran dengan pembahasan para mahasiswa itu.
"Iya, hot kan berita kali ini. Mantan primadona kampus, sekarang malah berakhir di rumah sakit jiwa. Hot hot!" seru seorang wanita.
Kening Siera berkerut mendengar percakapan itu. "Mantan primadona kampus? Rumah sakit jiwa?" gumam Siera nampak memikirkan sesuatu.
"Kak, kenapa?" Suara Helen mengejutkan Siera dari lamunannya.
"Oh, tidak apa-apa. Ayo ke sana dulu, sepertinya ada berita hangat di kampus." Siera menarik tangan Helen menuju perkumpulan mahasiswa itu.
"Hei, ada apa kalian heboh seperti itu?" tanya Siera kepada sekumpulan mahasiswa itu. Semua mata menoleh dan melihat Siera dengan pandangan semangat.
"Nah, pas sekali kamu ada di sini, Sie. Ini berita bagus untuk Cara, kamu kan sahabat Cara. Jadi kamu bisa memberikan ini kepada dia. Ini lihat video ini." Seorang mahasiswa memperlihatkan sebuah video yang sedang terputar di layar ponselnya.
Mata Siera dan Helen membola melihat kejadian di dalam video itu. "Kak, bukannya itu Kak Jesy?" tanya Helen kepada Siera.
Sedangkan Siera yang sempat terdiam, kembali tersadar saat mendengar suara Helen. "Iya, ini Jesy. Kalian dapat video ini dari mana?" tanya Siera penasaran.
"Kamu tidak mengecek info kampus? Video ini sedang berada di rank satu berita utama kampus. Kamu bisa mengeceknya sendiri," jelas seorang mahasiswa.
Siera masih nampak terdiam dengan wajah tidak percaya. "Siapa yang menyebarkan?" tanya Siera lagi.
"Kami tidak tahu, tiba-tiba saja video ini sudah tersebar luas di pelosok kampus," jawab mahasiswa itu.
Siera mengangguk pelan, setelahnya gadis itu kembali menarik tangan Helen. "Okey, thanks," ucap Siera sebelum berlalu.
__ADS_1