
Cara berjalan lesu, perkataan Jesy tadi masih begitu terngiang di telingannya. Perasaannya bercampur aduk, takut dan khawatir memenuhi separuh ruangan hatinya saat ini. Cara mendorong pintu ruangan Geo pelan, setelahnya wanita itu berjalan malas ke dalam dan duduk lesu di atas sofa tamu ruangan Geo. Sedangkan Geo yang sedari tadi memperhatikan kedatangan Cara sudah mengernyit bingung. "Sayang," panggil Geo.
Cara menoleh sejenak, setelahnya wanita itu menghela napas pelan. Geo yang merasakan ada sesuatu dengan sang istri memilih berdiri dan mendekati wanita cantik itu. Geo duduk di samping Cara dan memiringkan tubuh istrinya sehingga Cara menoleh ke arahnya. "Kenapa lesu seperti ini? Ada sesuatu yang terjadi? Dia melakukan apa kepadamu?" tanya Geo.
Cara menggeleng pelan, hal itu malah membuat Geo semakin bingung. "Lalu kenapa Sayang? Coba katakan," papar Geo.
Cara menatap Geo begitu intens, ketakutan ditinggal oleh Geo memenuhi isi benak wanita itu. Sedangkan Geo yang melihat tatapan sang istri semakin dibuat kebingungan. "Hei, berbicaralah Baby. Ada apa?" Geo mengelus pipi Cara lembut.
"Kak Ge sayang kepadaku?" tanya Cara tiba-tiba.
Geo mengernyit, kenapa tiba-tiba Cara menanyakan hal seperti ini? Pikirnya. "Jelas Sayang, kamu istriku. Tidak mungkin aku menikahi seorang wanita jika aku tidak menyayanginya. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal ini, pasti ada sesuatu bukan? Berbicaralah Sayang," ucap Geo.
Cara menatap Geo serius. "Kalau, seandainya … aku tidak bisa hamil, apa Kak Ge akan meninggalkan aku?" cicit Cara khawatir.
Kening Geo berkerut. "Apa yang kamu bicarakan Sayang? Kenapa tiba-tiba pembicaraannya menjadi seperti ini? Pasti wanita itu berbicara yang tidak-tidak kepadamu, iya?" tanya Geo.
Cara menghela napas berat. "Pernikahan kita sudah berjalan tiga bulan Kak, tapi … aku masih belum hamil, aku takut …."
__ADS_1
Cup …. Geo segera memotong kalimat Cara dengan kecupan bibirnya. "Jangan berbicara seperti ini Baby, kita masih pasangan muda. Tiga bulan bukanlah waktu yang lama, waktu kita masih panjang. Kita bahkan belum pergi honeymoon dan menikmati masa-masa pengantin baru pada umumnya, aku minta maaf untuk itu kepadamu Baby." Geo mengusap kepala Cara lembut.
"Lagi pula, hal seperti itu tidak seharusnya kamu khawatirkan Sayang. Aku memang ingin memiliki anak, tapi bukan berarti aku memaksamu untuk memberikan itu. Kita sama-sama berusaha untuk bisa memilikinya, jika memang belum diberi kepercayaan, bukan berarti aku akan meninggalkanmu. Jangan berbicara seperti itu, hatiku sakit jadinya," sambung Geo.
Cara menatap Geo merasa bersalah. "Aku takut kalau Kak Ge nanti jadi membenciku karena tidak bisa hamil," ucap Cara.
"Sstt … kamu bukan tidak bisa hamil Baby, tetapi belum. Ingatlah itu … dan yang sangat perlu kamu tahu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu Sayang. Yang ada akulah yang selama ini takut kehilanganmu, aku takut kamu pergi karena tidak nyaman dengan sikapku yang seperti ini," ujar Geo.
Cara melotot. "Kenapa aku harus meninggalkan Kak Ge? Tidak nyaman karena apa? Aku malah sangat nyaman, memangnya sikap Kak Ge seperti apa? Sikap Kakak selama ini malah membuat aku selalu terbuai dan susah berpaling," balas Cara jujur.
"Ya memang sih, tapi itu jika bersama orang lain. Bahkan Kak Ge juga begitu menakutkan jika bersama orang lain. Tapi sifat Kak Ge kalau bersamaku tidak begitu, ini contohnya. Kak Ge hangat, pengertian, perhatian dan terlihat begitu menjagaku. Jadi aku bodoh sekali kalau harus meninggalkan laki-laki setampan dan sesempurna ini." Cara memeluk leher Geo dan mencium gemas pipi sang suami.
Geo terkekeh mendengar perkataan jujur dari Cara. "Kalau sudah tahu aku begitu, kenapa masih merasa takut?" tanya Geo.
"Ya, aku takutnya sifat Kak Ge berubah kalau aku masih belum hamil," papar Cara.
"Sekarang memang masih belum Sayang, sabar saja. Atau perlu kita buat sekarang?" goda Geo.
__ADS_1
Cara melotot menatap Geo terkejut. "Jangan aneh-aneh Kak, ini di kantor," ujar Cara.
"Terus kalau di kantor kenapa? Tidak ada yang akan melarang, kita sudah suami istri dan perusahaan ini juga milikku Baby," papar Geo.
"Sudahlah, Kak Ge suka sekali menggodaku," tutur Cara kesal.
"Aku tidak menggodamu Sayang, aku mengajakmu. Bukankah kamu ingin segera hamil?" Geo tersenyum miring ke arah Cara.
Cara menutup wajah Geo dengan kedua telapak tangannya. "Sudahlah, lebih baik Kak Ge lanjutkan pekerjaan sana. Aku akan kembali ke ruanganku." Cara yang baru saja berdiri dan ingin melangkahkan kaki, ditarik oleh Geo sehingga wanita itu kembali terduduk di atas pangkuan Geo.
Geo memeluk hangat tubuh sang istri, setelahnya laki-laki itu mengecup lembut bibir Cara. "Bangsat." Suara umpatan terkejut seseorang mengalihkan perhatian sepasang suami istri yang sedang memadu kasih itu.
Geo sudah menatap tajam sang pelaku sedangkan Cara sudah meringis merasa begitu malu. "Ck … tidak bisakah kalian melihat tempat untuk bermesraan? Mentang-mentang sudah sah, ini kantor astaga … setidaknya kunci dulu pintunya. Mata suciku ini menjadi ternodai untuk kesekian kalinya oleh ulah kalian itu," tutur Alex kesal.
"Kau yang seharusnya mengetuk pintu dulu sebelum masuk, pengganggu," balas Geo datar.
Alex melotot ke arah Reo. "Baiklah aku memang salah tidak mengetuk pintu, ck … sudah dikatai pengganggu saja aku," gumam Alex kesal.
__ADS_1