
"Aakhh." Jeritan kesakitan menggema di dalam ruangan gelap markas Death. Seorang laki-laki nampak menahan sakit saat setiap jari-jari tangannya mulai menghilang satu persatu. Sedangkan Rical, yang menjadi pelaku pengambil jari-jari tangan itu sudah tertawa iblis.
Berbeda dengan dua laki-laki yang saat ini sedang berdiri menyaksikan penyiksaan itu. Juan dan Farel hanya diam sambil menatap wajah Rizal yang saat ini sudah begitu pucat. Sabtu minggu laki-laki itu dikurung di dalam markas Death, dan selama itu pula Rizal mendapatkan berbagai macam penyiksaan dari Rical.
"Akhh, sakit. Tolong hentikan, hentikan!" teriak Rizal.
Tanpa ampun dan tanpa rasa kasihan, Rical melanjutkan aksinya. Seperti yang dikatakan, jika sedang beraksi Rical akan menjelma sebagai kembaran Geo. "Pisau ini membosankan, bagaimana kalau kita ganti dengan silet?" cetus Rical.
Rizal yang mendengar itu melotot sambil menggelengkan kepalanya cepat. Laki-laki itu sudah pernah merasakan bagaimana sayatan silet pada setiap daging di tubuhnya. Bukan hanya silet, mungkin semua peralatan penyiksaan di dalam markas Death itu sudah pernah dia rasakan satu persatu.
"Jangan, tolong hentikan penyiksaan ini. Aku sudah tidak kuat. Bunuh saja aku … bunuh!" pekik Rizal.
__ADS_1
Rical yang mendengar kalimat Rizal, hanya tersenyum miring ke arah laki-laki itu. "Bunuh?" tanya Rical.
"Iya bunuh saja aku. Jangan seperti ini jangan siksa aku lagi, aku sudah tidak kuat! Bunuh saja aku … biarkan aku mati," lirih Rizal tidak berdaya.
Rical tertawa keras mendengar kalimat permohonan Rizal kepadanya. "Apa saat gadisku berbicara dan memohon kepadamu seperti ini, kamu mendengarkannya?" desis Rical.
Rizal terdiam mendengar kalimat Rical yang nampak begitu marah. Sedangkan Rical saat ini mencoba mengontrol emosinya. Saat laki-laki itu kembali mengingat bagaimana kondisi Helen saat dia temukan. Apalagi tanda merah yang begitu banyak tercetak di leher gadisnya waktu itu. Sungguh membuat Rical murka, sebab dia saja yang merupakan sang casanova tingkat dewa, belum pernah sedikit pun menyentuh Helen lebih dari sekedar pelukan semata.
Rizal kembali menggelengkan kepalanya merasa begitu takut melihat tatapan tajam Rical. Laki-laki itu menoleh ke arah Alex dan Farel seakan meminta tolong kepada dua laki-laki itu. "Tuan, tolong saya tolong hentikan teman Anda," pinta Rizal.
Alex tersenyum miring menanggapi kalimat permohonan Rizal. "Sayangnya aku tidak punya lapak di sini. Sebab kau saat ini adalah mangsa Rical. Jadi aku yang merupakan laki-laki sportif, tidak ingin ikut campur dalam masalah ini," papar Alex.
__ADS_1
"Kalau kau tahu takut, kenapa kau berani-beraninya mencari masalah dengan Death? Aku pikir kau benar-benar gila, tetapi karena kau masih merasa sakit dan takut. Aku tahu sekarang jika kau hanya pura-pura gila, dan sok berani," cibir Farel.
"Baiklah sekarang mari kita mulai memberi pelajaran kepada mulut busukmu ini. Sepertinya dijahit adalah pilihan yang bagus," tutur Rical.
"Masih hidup?" Suara berat Geo mengalihkan pandangan empat laki-laki yang berada di sana.
"Tuan, tolong saya Tuan," teriak Rizal meminta tolong kepada Geo.
Alex yang mendengar itu tertawa keras merasa perutnya tergelitik. "Kamu minta bantuan kepada dia? Apa kau tidak tahu dia ini bahkan jauh lebih kejam dari orang yang berada di dekatmu itu," papar Alex.
Rizal terdiam mendengar kalimat Alex, sepertinya laki-laki itu memang belum terlalu tahu seluk-beluk Death yang bahkan sudah merasuki dunia luar. Sedangkan Geo saat ini memilih berdiri dengan tampang coolnya. Geo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dan merebahkan punggungnya di pintu penjara markas itu sambil menatap datar aksi ranjang Rp Rical.
__ADS_1