
Lima belas tahun yang lalu.
Seorang anak laki-laki berumur sembilan tahun berdiri dengan keadaan yang cukup mengerikan. Tubuh menggigil kedinginan karena kehujanan. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan anak laki-laki malang itu. Pintu depan mobil terbuka dan keluar seorang laki-laki dewasa sambil membawa payung di tangannya. Laki-laki itu bergerak ke pintu belakang dan membukanya.
"Silakan, Tuan Muda," ucap laki-laki dewasa itu sopan.
Setelahnya seorang anak laki-laki berwajah datar tampak seumuran dengan anak laki-laki malang itu keluar dari mobil. Anak laki-laki berwajah datar menatap anak laki-laki yang sepertinya seumuran dengan dirinya. "Nama?" tanyanya singkat.
"Aku?" tanya anak malang itu.
"Iya, Tuan Mudaku bertanya nama kamu siapa?" ucap laki-laki dewasa.
"Namaku Rical Carves, kalau kamu?" tutur anak malang yang ternyata bernama Rical Sunder.
"Geo Vetro," sahut anak laki-laki yang berwajah datar.
"Nama kamu bagus," ucap Rical berbinar.
"Bawa dia," tutur Geo kepada laki-laki dewasa yang merupakan pengawalnya.
"Baik, Tuan Muda," sahut laki-laki dewasa patuh.
.
__ADS_1
.
.
"Kau ingin membalas Bibimu?" tanya Geo.
Rical menoleh dengan wajah bingung. "Mana bisa aku melawannya, aku masih begitu kecil dan … orang tuaku sudah meninggal," tutur Rical pelan.
"Ingin atau tidak?" tanya Geo datar.
Rical mendongak dan menatap wajah anak laki-laki di depannya. "Kalau ingin, tentu saja aku ingin. Mereka dengan sengaja membunuh orang tuaku, demi sebuah warisan," ucap Rical sendu.
"Kalau ingin, jangan lemah. Kau laki-laki," balas Geo.
"Jangan panggil aku kakak," papar Geo.
"Terus? Kamu lebih tua dariku satu tahun," ujar Rical.
"Aku tidak suka," balas Geo datar.
Rical menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Baiklah," sahut Rical terpaksa.
"Geo!" Suara seseorang mengejutkan Rical. Anak laki-laki itu menoleh dan melihat dua anak laki-laki lainnya sedang mendekat ke arah mereka. Rical mengernyit kala melihat satu laki-laki yang juga tampak berwajah datar.
__ADS_1
"Ini teman barumu itu?" tanya seorang anak laki-laki.
"Aku? Aku Rical, memang baru bertemu dengan Geo hari ini," ujar Rical.
"Begitukah? Kalau begitu perkenalkan namaku Alex Rowin. Mulai sekarang temanku bertambah, setidaknya yang memiliki suara sepertimu," balas anak laki-laki itu.
Rical mengernyit tidak mengerti, setelahnya anak laki-laki itu menoleh ke arah manusia di samping Alex. "Dia, apa dia kembaran Geo?" Rical bertanya sambil menunjuk laki-laki di samping Alex.
Alex menoleh. "Oh, dia? Bukan, dia adik sepupu Geo. Bentukan mereka memang seperti itu, tidak memiliki suara," tutur Alex santai.
Rical tertawa mendengar perkataan Geo. "Nama kamu siapa?" tanya Rical.
"Farel Jhons," sahut anak laki-laki itu singkat.
"Marga kalian berbeda," tutur Rical bingung.
"Biar aku yang menjelaskan, ya. Karena aku yakin kamu tidak akan mendapat jawab apa pun dari dua manusia ini. Farel ini anak dari adik perempuan ayahnya Geo. Jadi, Farel mengikuti marga ayahnya. Bukan marga ibunya," jelas Alex.
Rical mengangguk mengerti. "Kalau dia adik Geo, Farel ini umurnya berapa?" tanya Rical lagi.
"Panggil dia Farel saja, itu nama panggilannya. Dia berumur sembilan tahun, lebih kecil dariku dan Geo," sahut Alex.
"Jadi, kamu seumuran dengan Geo? Aku juga sembilan tahun, kamu ingin aku panggil kakak tidak?" balas Rical.
__ADS_1
"Tidak, geli," tutur Alex cepat. Empat anak laki-laki itu besar dan tumbuh bersama. Kehidupan Rical ditanggung oleh Geo seakan seorang adik. Sampai dua tahun kemudian, Geo membentuk sebuah perkumpulan yang diberi nama Death.