
"Papa," panggil Jesy. Torih baru saja sampai di mansion Rical. Laki-laki paruh baya itu berjalan ke arah Sasdia dan Jesy dengan pandangan lelah.
"Kamu sudah makan belum, Mas?" tanya Sasdia kepada sang suami.
"Belum," sahut Torih lesu.
Jesy menatap Torih dengan pandangan berkabut. Wanita itu menjadi merasa begitu kasihan dengan papanya yang sudah berjuang. Namun, semua itu malah berakhir sia-sia. Cara benar-benar hanya mempermainkan mereka. Seharusnya mereka tahu, kalau sedari awal kehidupan mereka memang sudah tidak akan bisa baik lagi, tanpa seizin Cara.
"Ayo kita makan dulu, Pa. Aku dengan Mama tadi sudah memasak," ajak Jesy. Wanita itu meraih tangan Torih dan membawa laki-laki paruh baya itu ke arah ruangan makan.
Torih yang mendapat perlakuan seperti itu dari Jesy tersentak. Setelahnya laki-laki paruh baya itu menunduk melihat tangannya yang dipeluk erat oleh sang putri. Dulu, hal seperti ini sudah biasa bagi mereka. Torih dulu begitu menyayangi dan memanjakan Jesy. "Duduklah, Pa." Suara Jesy menarik Torih dari dunia lamunannya.
Laki-laki paruh baya itu menatap hidangan sederhana di atas meja makan yang luas itu. "Maaf, Pa. Hanya ini yang ada, sebab … Rical hanya mengisi lemari bahan makanan dengan ini," gumam Jesy pelan.
__ADS_1
Torih terkesiap, laki-laki paruh baya itu menatap wajah putrinya yang begitu terlihat kusam dan kurus. Sangat terlihat jika Jesy sama sekali tidak merawat badannya. 'Apa sebegitu menderitanya kamu di sini?' batin Torih perih.
"Papa minta maaf," gumam Torih. Laki-laki paruh baya itu menunduk merasa menyesal dengan perbuatannya kepada Jesy sebelum ini.
Jesy yang mendengar kalimat pelan dari Torih sempat terkejut dan melotot. "Tidak apa-apa, Pa. Aku senang akhirnya kita bisa berkumpul seperti dulu lagi. Meski dalam keadaan yang seperti ini." Jesy memeluk Torih dengan air mata yang sudah mengalir deras. Sasdia yang sedari tadi terdiam ikut berpelukan merasa begitu terharu dengan kebersamaan yang sudah lama menghilang itu.
"Wah … ada acara apa ini? Ada drama teletubbies, ya? Saling berpelukan. Suara bass seseorang membuyarkan aura haru keluarga kecil itu.
Laki-laki itu mendekat dan menatap hidangan di atas meja makan itu. Setelahnya Rical menoleh ke arah tiga manusia yang masih terdiam. Rical menarik kursi utama dan duduk di sana. "Berhubung aku sudah berbaik hati, bersedia menampung kalian di sini. Jadi … sudah menjadi kewajiban untuk kalian membalas budi baikku itu bukan?" tutur Rical.
"Ya, meski sebenarnya semua ini aku lalukan karena permintaan adik perempuanku," sambung Rical santai.
Berbeda dengan tiga manusia yang sempat terkejut mendengar kalimat adik perempuan terlontar dari mulut Rical. Mereka bisa menebak, adik yang dimaksud Erick adalah Cara. 'Dia benar-benar menganggap Cara sebagai adiknya?' batin tiga menusia itu.
__ADS_1
"Aku baru saja memecat tukang kebun dan tukang bersih-bersih di mansion ini. Kebetulan sekali kalian sudah berkumpul di sini. Jadi, aku tidak perlu repot-repot untuk memanggil. Mulai sekarang, semua urusan kebersihan aku serahkan kepada kalian. Silakan kalian bagi sendiri jatah kalian masing-masing. Aku hanya terima bersih."
Setelah mengatakan itu, Rical berdiri dan menatap wajah terkejut keluarga kecil itu. "Silakan lanjutkan makannya, sepertinya hidangan ini sangat sesuai dengan kalian. Tapi ingat, jangan sisakan sedikit bau pun di sini. Aku bisa kehilangan selera makan."
Setelahnya Rical pergi begitu saja meninggalkan tiga manusia yang masih terdiam. "Ekhm … ayo makan, Pa. Nanti perut Papa sakit kalau terlambat makan," ucap Jesy.
Torih menghela napas panjang. "Sepertinya kita akan terus menjadi budak di sini," tutur Torih pelan.
"Apa tidak ada tempat untuk kita pergi, Mas?" tanya Sasdia.
Jesy terkejut, pergerakan tangan wanita itu terhenti. "Kita tidak usah pergi dari sini, Ma, Pa. Aku sedang hamil, meski Rical tidak pernah memperhatikan aku … aku masih merasa senang saat melihat wajahnya. Sepertinya ini, karena anak di dalam perutku. Dia ingin terus berdekatan dengan ayahnya," sela Jesy.
Torih dan Sasdia tercekat, perkataan Jesy mampu membuat mereka terdiam. Posisi Jesy saat ini membawa mereka ke hilir kehidupan, di mana masih ada Dea di antara mereka. Torih mengingat mendiang bunda dari putrinya yang satu lagi. 'Apakah ini yang dirasakan Dea kala itu? Dea … apa kau meninggalkan kutukan kepada keluargaku, terkhusus untuk Jesy?' batin Torih.
__ADS_1