
"Aku sudah meminta izin kepada Geo untuk mengambil beberapa anggota Death untuk berjaga disekitar kamu."
Lamunan Siera terputus saat mendengar perkataan Farel. Mata gadis itu melotot saat mendengar kalimat yang dilontarkan Farel. "Dikawal lagi, Kak? Aku malu," rengek Siera.
Farel terkekeh, mendengar perkataan itu membuat Farel ingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Mandat dari Cara yang membuat dia jatuh hati kepada gadis didekatnya ini. "Aku tidak bisa lengah, Al. Mungkin aku akan terdengar seperti anak durhaka karena mengatakan ini. Tapi … Mama aku itu gila, dia gila harta dan jabatan. Bahkan Papa tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga memilih berpisah dengannya," ungkap Farel.
"Tapi apa harus dikawal? Aku kan bersama Kakak," tutur Siera.
"Kalau sedang bersamaku memang tidak perlu. Kamu tenang saja, mereka akan mengawal dari jarak jauh. Tidak seperti dulu." Farel menyelipkan anak rambut Siera ke belakang telinganya.
"Bagaimana kalau Mama kamu sendiri yang mendatangiku?" tanya Siera.
"Kamu lawan saja," sahut Farel.
Mulut Siera terbuka dengan mata kembali melotot. "Yang benar saja, Kak. Aku melawan orang yang lebih tua, durhaka aku jadinya."
__ADS_1
"Mama tidak bisa dihadapi dengan kelembutan, Al. Apa lagi kalau seandainya dia membawa Zena, kamu lawan saja. Aku tidak akan marah, lawan mereka. Okey."
"Kalau melawan yang namanya Zena itu aku tidak masalah. Tapi, ini Mama kamu … calon mertua, loh," canda Siera.
Farel tertawa kecil mendengar candaan Siera. "Tidak apa-apa, kalau kamu segan. Nanti aku beri perintah kepada pengawal, kalau Mama yang turun tangan, mereka juga akan turun tangan," papar Farel.
"Begitu saja, Kak. Kalau untuk Zena itu, serahkan kepadaku. Biar aku patahkan tulangnya itu, aku memang sudah lama tidak turun lapangan ini." Siera menarik lengan bajunya ke siku seakan siap untuk bertempur. Sedangkan Farel yang melihat aksi sang kekasih, sudah terbahak.
...*****...
"Bang, nanti jangan jemput aku lagi. Kalau pun ingin menjemput, tunggu di dalam mobil saja," ucap Lamira.
"Ck, berdiri berdiri. Tetap saja mencuri perhatian," papar Lamira kesal.
"Memangnya kenapa kalau aku mencuri perhatian, bukannya bagus?" celetuk Alex.
__ADS_1
Lamira yang mendengar itu menoleh ke samping, di mana Alex sedang duduk tampan sambil fokus menyetir mobil. "Bagus apanya? Bagus bagi kamu bisa tebar pesona, begitu?" dengius Lamira.
"Bagus karena kamu bisa membanggakan aku sebagai kekasihmu," cetus Alex.
Lamira terdiam beberapa detik sampai pada detik berikutnya senyum hadir di wajah gadis manis itu. "Benar juga, ya. Aku kan selalu ditertawakan teman-teman tidak akan mendapat kekasih karena gaya tomboyku ini. Bagus juga ide kamu, Bang," ucap Lamira senang.
Sedangkan Alex yang mendengar balasan Lamira sudah menganga tidak percaya. Laki-laki itu melirik Lamira sekilas. "Astaga, padahal aku hanya bercanda," gumam Alex tidak habis pikir.
"Kalau begitu, sering-seringlah mengantar dan menjemput aku, Bang."
"Hei, aku tadi hanya bercanda," tutur Alex.
Lamira menoleh ke arah Alex dan tersenyum pongah. "Tidak ada, Abang sendiri yang membuka isi otakku," ucap Lamira.
'Ternyata dia benar-benar masih remaja labil, ya Tuhan ….' batin Alex.
__ADS_1
"Enak juga ternyata punya kekasih tampan, bisa dibanggakan kepada siapa saja. Terutama kepada Andini, lihat saja … akan aku bungkam mulut lebarnya itu." Lamira tersenyum nakal.
Sedangkan Alex yang melihat senyum Lamira, sudah meringis ngeri. 'Beginilah kalau memiliki kekasih yang masih remaja. Nikmati saja, Alex. Kau sendiri yang memilihnya,' batin Alex lagi.