Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
68. Adik (lb)


__ADS_3

'Tapi … aku kan hanya berurusan dengan perusahaannya, bukan dengan Death,' batin Tuan Kenzo.


"Ikut kami," tutur salah satu dari sekumpulan laki-laki itu.


Tuan Kenzo mengernyit tidak mengerti. "Aku masih tidak mengerti," ucap Tuan Kenzo.


Salah satu laki-laki menatap tajam Tuan Kenzo. "Tarik saja, laki-laki ini sebentar lagi juga akan disiksa Ketua," titah laki-laki itu.


Tuan Kenzo melotot terkejut, laki-laki itu memberontak saat dua anggota Kindynos menarik paksa tubuhnya. "Hei … ada apa ini, lepaskan aku. Akan aku laporkan kalian kepada Tuan Vetro," teriak Tuan Kenzo.


"Silakan," sahut salah satu laki-laki di sana.


"Lepaskan aku! Aku adalah tamu kehormatan di perusahaan ini, kalian semua pasti akan segera dibunuh oleh Tuan Vetro." Tuan Kenzo terus berteriak sehingga mampu menarik perhatian karyawan kantor.


Karyawan kantor menatap ngeri ke arah Tuan Kenzo yang diseret paksa oleh sekumpulan anggota Death. Langkah sekumpulan anggota Death itu terhenti saat dihadapan mereka berdiri Farel dan Alex yang sedang menatap Tuan Kenzo tajam. "Tolong Tuan, mereka membawaku tanpa aba-aba," ujar Tuan Kenzo.

__ADS_1


Alex tersenyum miring sambil mendekat ke arah Tuan Kenzo. Aura jahil yang biasa diperlihatkannya kepada Cara sama sekali tidak terlihat saat ini. Sekarang hanya ada aura tajam mengintimidasi, khas milik Alex. Tuan Kenzo menelan salivanya kasar melihat itu, belum lagi tatapan dingin Farel yang terus mengarah kepadanya. "Kau berani sekali ya," tutur Alex rendah.


"A-apa maksud Anda, Tuan?" sahut Tuan Kenzo gugup.


"Kau sangat berani menyentuh adikku," desis Alex.


Tuan Kenzo terkejut, tetapi setelahnya laki-laki itu mengeryit bingung tidak mengerti. "A-adik? Siapa adik Anda, Tuan?" tanya Tuan Kenzo.


"Adikku adalah wanita milik Tuan Vetro," tutur Juan.


Tuan Kenzo melotot sambil menelan salivanya kasar. "Aku tidak pernah berurusan dengan adik Anda, apa lagi dengan wanita milik Tuan Vetro, Tuan. Aku masih waras untuk tidak berurusan dengan kalian, sepertinya kalian salah orang," terang Tuan Kenzo takut.


Tuan Kenzo menggeleng cepat. "Bukan begitu maksudku Tuan, aku benar-benar tidak pernah berurusan dengan adik Anda. Mungkin saja orang itu mirip denganku," sahut Tuan Kenzo panik.


Alex tersenyum sinis. "Bawa ke markas," titah Alex.

__ADS_1


"Tuan … ada apa ini? Tolong jelaskan, Tuan!" teriak Tuan Kenzo.


...*****...


Geo menutupi tubuh istrinya yang sudah tertidur setelah pertempuran panas mereka tadi. Mata laki-laki itu menajam, Geo meraih handuk dan mulai membersihkan tubuhnya di kamar mandi khusus ruangan kerjanya. Ruangan kerja Geo memang meliki satu kamar yang sengaja dibuat atas keinginan Geo. Sebab dulu, Geo sering sekali lembur dan memilih tidur di sana tanpa kembali ke mansionnya.


Cklek …. Geo menatap lembut wajah polos Cyra saat tertidur. Geo mendekat dan mengecup pelan kening sang istri. "Nanti kita beri pelajaran orang itu, Sayang," gumam Geo.


Tring … tring … tring …


Geo melirik layar ponselnya, nama seseorang terpampang jelas di sana. "Hem," deham Geo.


"Aku apakan laki-laki ini? Karena dia pantatku masih sakit sampai sekarang," ucap seseorang di seberang telepon.


"Terserah, tapi … jangan buat dia sekarat dulu. Aku sendiri yang akan membuatnya lebih memilih mati," desis Geo.

__ADS_1


"Baiklah, kau sudah selesai bukan? Kami akan segera ke sana," tutur seseorang itu.


"Hem …," deham Geo. Setelahnya Geo memutuskan sambungan telepon begitu saja.


__ADS_2