
Cara mencubit perut keras Geo sekuat tenaga. "Sshh … sakit, Sayang." Geo mengusap perutnya sambil meringis. Sungguh cubitan Cara pada perutnya sangatlah perih.
"Ayo cepat pergi dari sini," ketus Cara.
"Pergi kau, masuk kamar nomor 50A di lantai lima puluh. Nanti aku suruh karyawan mengantar," ucap Rical kesal.
"Karyawan laki-laki, Kak," titah Cara ikut kesal.
Geo terkekeh saat merasakan tubuh Cara mulai berjalan dengan keadaan masih memeluk dirinya. Namun, tiba-tiba senyum di bibir laki-laki itu pudar saat merasakan sesuatu. Geo mengedar dan menemukan sesosok laki-laki yang sedang menyeringai ke arahnya. Mata Geo menajam dengan rahang mengeras. "Sudut timur," desis Geo rendah.
Alex, Farel dan Rical yang mendengar suara pelan Geo yang masih berjalan pelan mengikuti langkah kaki Cara mengernyit sejenak. Setelahnya tiga laki-laki itu berbalik ke arah timur, sesuai perkataan Geo. Tiga pasang mata itu terkejut, setelahnya mereka saling tatap. "Kau mengundangnya?" tanya Alex kepada Rical.
"Hanya sekadar basa-basi, tidak aku sangka dia ada di Indonesia dan hadir," balas Rical ikut terkejut.
"Sepertinya akan ada badai di waktu dekat ini," gumam Farel.
Alex dab Rical menoleh ke arah laki-laki kaku itu dengan wajah serius. "Aku hanya berharap dia tidak menyentuh Cara," papar Alex.
__ADS_1
"Menyentuh Cara, sama dengan mencari mati. Pawangnya bukan hanya satu, tapi beribu," desis Rical.
Geo melepaskan pelukan Cara dan mengangkat tubuh sang istri ala bridalstyle. Wajah dingin Geo membuat Cara mengernyit bingung. "Kakak kenapa membuka baju?" Suara Cara menyadarkan lamunan Geo.
Laki-laki itu menunduk dan menatap wajah cantik milik istrinya. Cup …. Bukannya menjawab, Geo malah mencuri satu kecupan manis dari bibir sang istri. Cara mendengus kesal saat pertanyaannya tidak mendapat jawaban. "Kenapa buka baju?" ulang Cara kesal.
Geo kembali menunduk dan terkekeh kecil melihat wajah kesal Cara. "Baju kamu basah, Sayang. Aku tidak ingin kamu kedinginan," ungkap Geo.
Cara mengerucutkan bibirnya. "Tapi tidak harus buka baju di depan banyak orang seperti itu juga. Aku tidak rela, aku tidak ingin berbagi," gerutu Cara.
Geo kembali terkekeh. "Mereka hanya bisa melihat, Sayang. Untuk menyentuh, ini hanya untuk kamu," bisik Geo lembut.
Cup …. Geo mencium pipi gembung istrinya gemas. "Setelah aku perhatikan, kamu semakin berisi, Baby," bisik Geo.
Cara menatap Geo, kemudian wanita itu menyentuh kedua pipinya. "Benarkah? Apa aku sudah tidak cantik lagi?" tanya Cara cemas.
"You alway beautyfull, Baby." Geo berbisik sambil menatap hangat mata sang istri.
__ADS_1
Mendengar itu Cara tersenyum manis. Ada aliran syahdu yang menjalar begitu hangat di dalam hatinya. Cara mencubit pipi Geo, sesekali wanita itu mengecup pelan dada telanjang sang suami. "Jangan memancing di sini, Sayang. Kita masih diperjalanan, tunggulah sebentar lagi," tutur Geo.
Cara tertawa mendengar perkataan Geo. "Aku tidak memancing," ucap Cara.
Geo menunduk dan menatap Cara nakal. "Terus apa? Memintanya?" goda Geo
Mata Cara melotot saat melihat tiga perempuan yang merupakan pegawai hotel Rical tampak malu-malu ingin berpapasan dengan mereka. Cara menunduk, tetapi tidak bisa melihat apa-apa. Dia yakin, delapan kotak di perut Geo saat ini terpampang jelas di mata mereka. "Balik badan," ucap Cara kesal.
Meski terkejut, tiga perempuan itu mengikuti perintah Cara. Mereka berbalik badan ke arah tembok. Sedangkan Geo sudah terbahak melihat sifat posesif istrinya itu. Belum lagi dengan mulut Cara yang berkomat-kamit tidak jelas. "Apa Kakak tertawa?" Cara menatap tajam sang suami, yang kini sedang mengulum bibir mencoba menahan tawa.
Sedangkan tiga perempuan yang sudah melihat kepergian sepasang suami istri itu, menghela napas panjang. "Astaga, nanti malam sepertinya aku akan tidur nyenyak," ucap salah satu dari mereka.
"Benar, Tuan Vetro memang sangat menggoda," tambah seorang perempuan lagi.
"Kalau aku jadi Nyonya Vetro, pasti juga akan seperti itu. Kalau perlu, kurung saja suami sesempurna itu."
"Iya, aku juga tidak menyangka ternyata Tuan Vetro juga bisa tertawa. Suara tawanya itu, aduh … menghangatkan rahimku." Seorang perempuan mendongak seakan mengkhayalkan sesuatu.
__ADS_1
"Tapi, dia seperti itu hanya kepada Nyonya Vetro. Dia juga sangat patuh kepada istrinya. Ah, cari di mana ya suami seperti itu?"
"Entahlah, kalau ada, aku juga ingin satu."