Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
147. Sengsara dan Neraka (lb)


__ADS_3

"Bukan, Pak. Dia memang di sini, tapi …."


"Fera pasti sudah diapa-apakan oleh perempuan itu, Pak. Sedari kembali ke sini, wajahnya sudah sangat tegang."


"Iya, lebih baik kita beri dia pelajaran."


"Sudah, kalian diamlah. Kamu melihatnya di mana?" tanya manager kafe.


"Di depan, Tuan. Dia pengunjung," jelas Fera.


"Pengunjung? Huh, palingan dia juga hanya gayaan. Mana mungkin dia bisa membayar makanan di sini."


"Benar, meja nomor berapa?"


"Meja 10A."


"Wah, ternyata dia memang banyak gaya. Ambil meja tingkat A pula. Ayo kita ke sana manager, enak saja dia main ancam teman kita."


"Benar, tidak terima kita."


Fera menggelengkan kepalanya kuat dengan wajah tampak bingung dan cemas. "Hei, bukan begitu. Dengarkan aku dulu."


"Kamu tenang saja, tidak usah takut. Pengunjung tidak terlalu banyak saat ini, jadi ayo kita ke depan. Aku juga begitu benci kepadanya, dia pikir kafe ini punya nenek moyangnya. Berhenti tanpa pamit," tutur manager.


Fera mengusap wajahnya kasar saat melihat empat wanita dan satu laki-laki berjalan cepat ke arah depan. "Astaga, bagaimana ini?" gumam Fera kebingungan.

__ADS_1


.


.


.


"Itu dia." Seorang pelayan menunjuk punggung wanita yang sedang duduk di atas sofa meja pengunjung itu.


"Hei, Cara!" Cara yang sedang sibuk dengan ponselnya terkejut saat dengan tiba-tiba seseorang menarik bahunya.


Tepat saat Cara menoleh, lima manusia itu tertegun. Wajah cantik wanita dihadapan mereka jelas membuat mereka tidak mengenali sosok Cara yang mereka kenal. "Maaf, Nyonya. Mereka salah paham." Fera yang baru saja sampai, meminta maaf kepada Cara yang sedang tersenyum sinis.


"Tidak masalah, kamu memberi tahu aku ada di sini kepada mereka?" tanya Cara.


"Iya, tapi sepertinya mereka salah paham. Maafkan saya." Fera terus membungkuk takut.


"Iya, aku Cara. Lavia Cara, kenapa?" sahut Cara santai.


Lima manusia itu menganga tidak percaya. Setelahnya salah satu di antara mereka tersenyum sinis. "Kau menjual tubuh? Berapa satu malam, boleh juga keahlianmu," ejek seorang wanita.


Mendengar suara itu, menyadarkan lamunan empat manusia lainnya. "Benar juga, sekarang bisa melakukan apa pun dengan uang," tambah seorang lagi.


"Hei, cukup. Sudahlah, lebih baik kita ke belakang," sela Fera cepat.


"Kamu kenapa sih, Fer? Apa yang sudah dia lakukan kepada kamu sampai kamu begitu taku?"

__ADS_1


"Tidak ada, hanya saja kalian salah paham," balas Fera.


"Sudahlah, kalian diam. Aku sangat terkejut kau bisa secantik ini. Bodymu juga sangat bagus, berapa satu malam? Aku ingin booking hari," celetuk manager kafe kurang ajar.


Plak …. Cara berdiri dengan gerakan cepat sambil menampar pipi laki-laki itu keras. "Jaga omonganmu, bangsat! Kau sudah bosan hidup?" desis Cara.


Jelas saja kejadian itu membuat para pengunjung lainnya menoleh ke arah mereka. Sedangkan manager kafe sudah menatap tajam Cara sambil mengepalkan tangannya marah. "Kau berani menamparku?" murka laki-laki itu.


Klap …. Pipi Cara hampir saja menjadi sasaran empuk tangan kasar manager kafe. Namun, itu semua tidak terjadi saat dengan cepat tangan kekar lainnya menahan pergerakan itu. Semua orang menoleh dan terkejut melihat wajah Geo. Wajah datar yang tampan itu sekarang terlihat begitu gelap. Manager kafe bahkan sudah bergidik ngeri menatap wajah dingin itu.


Krak …. "Akhh!" Manager kafe menjerit saat merakan tangan kanannya membengkok. Semua orang ikut berteriak ketakutan melihat itu semua. Berbeda dengan Cara yang menatap adegan itu menggunakan mata dinginnya.


"Berani sekali kau berniat menyentuh istriku, bahkan sampai ingin memukulnya." Suara rendah Geo mampu menurunkan suhu di dalam kafe itu menjadi semakin dingin.


Manager kafe terus bergerak mundur saat Geo melangkah semakin mendekat ke arahnya. "Jangan mendekat, akan aku laporkan ini ke polisi!" teriak manager kafe.


Tepat saat laki-laki itu akan melarikan diri ke arah belakang. Sekumpulan laki-laki menghadang jalannya. Semua mata membola melihat lambang Death begitu jelas terpampang di seragam sekumpulan laki-laki itu. Manager kafe menoleh ke arah Geo dengan tubuh bergetar. Sesekali meringis saat tangan kanannya terhuyung.


"Dua hadiah untuk orang yang berani menyentuh ratu Death," ucap Geo datar.


"Satu …."


"Sengsara!" sahut seluruh anggota Death serentak.


"Dua …."

__ADS_1


"Neraka!" sahut mereka lagi.


Merinding, itu adalah kata yang tepat untuk keadaan para pengunjung lainnya saat ini. Buku kuduk mereka berdiri mendengar suara mengerikan itu. Sedangkan manager kafe yang mendengar kalimat itu semakin menegang ditempatnya. 'Di-dia pemimpin Death itu, dan Cara adalah istrinya?' batin manager kafe ketakutan.


__ADS_2