
Geo mengusap perutnya yang baru saja diisi dengan bubur kacang hijau. Sedangkan Cara yang melihat itu terlihat begitu bingung. 'Ini sebenarnya siapa yang sedang hamil? Kenapa malah lebih sering Kak Ge yang mengidam dari pada aku? Belum lagi setiap pagi Kak Ge muntah-muntah,' batin Cara bingung.
"Aku sudah kenyang, Sayang," ucap Geo.
"Ingin apa lagi, Kak?" tanya Cara.
"Aku rasanya ingin sekali makan sop kerang laut. Sudah lama ya," balas Geo.
Cara menganga tidak percaya. Pertanyaan tadi hanyalah basa-basi baginya. Namun, siapa sangka, ternyata laki-laki kekar itu benar-benar masih mengidamkan yang lain. Cara menutup mulutnya dan menghela napas panjang. "Nanti kita mampir di kafe tepi laut, tempat biasa. Sekarang ayo ke kantor," ujar Cara.
"Aku rasanya sangat malas hari ini ke kantor, Sayang," balas Geo.
"Tidak ada malas-malas, ayo. Kemarin Kakak juga bilang begitu." Cara berdiri dan menarik tangan sang suami.
Geo menunduk lesu mengikuti langkah kaki sang istri. Entah kenapa jiwa malasnya beberapa hari ini seakan sedang kambuh. Laki-laki itu hanya ingin bersantai dan berkurung dengan istri cantiknya itu. "Apa kita mampir sekarang saja ke kafenya, By?" ucap Geo.
"No, nanti. Hari ini Kak Ge ada meeting penting. Apa Kakak lupa dengan pesan dari Kak Farel tadi malam?" tolak Cara.
Geo menghela napas mendengar penuturan Cara. "Nanti temani aku meeting, ya," papar Geo.
"Itu kan meeting bulanan, Kak. Masa iya aku ikut," ujar Cara.
__ADS_1
"Tidak masalah, pokoknya aku ingin kamu ikut," balas Geo keras kepala.
Cara menghela napas panjang mendengar itu. "Tapi hari ini kamu kan mengundang perwakilan perusahaan lain, Kak," pungkas Cara.
"Aku bilang tidak masalah, Baby. Kalau mereka tidak senang, tinggal aku usir," tutur Geo datar.
Cara menoleh setelahnya wanita itu berjinjit berniat menggigit sang suami. Namun, entah karena dirinya yang terlalu pendek, atau Geo yang terlalu tinggi. Cara membawa jari telunjuk Geo dan menggitnya gemas. "Akkh … shh."
...*****...
"Papa lelah?" Jesy mendekat ke arah Torih yang tampak begitu kelelahan setelah membersihkan taman luas mansion Rical.
"Yah, lumayan menguras tenaga," balas Torih.
"Ada di belakang," sahut Torih.
"Ini, Papa minumlah dulu. Aku cari Mama dulu." Jesy memberikan sebuah minuman dingin kepada Torih yang tampak sangat kelelahan.
"Terima kasih, Sayang," ujar Torih.
Langkah kaki Jesy terhenti saat mendengar panggilan Torih untuknya. Wanita itu menoleh, menatap Torih dengan mata berkaca-kaca. Torih yang melihat itu sangat merasa bersalah. "Aku merindukan panggilan itu, Pa," lirih Jesy.
__ADS_1
"Maafkan, Papa," gumam Torih pelan.
Jesy menggeleng cepat. "Tidak, aku senag akhirnya Papaku yang dulu kembali lagi. Meski dalam keadaan yang berbeda. Tahanlah dulu, aku akan terus berusaha meluluhkan Rical," papar Jesy.
Torih tersenyum. "Berusahalah," cetus Torih.
Jesy tersenyum, tetapi senyum itu tiba-tiba memudar kala melihat seorang gadis sedang berjalan santai ke arah kolam berenang. Jesy menatap tajam gadis itu. "Aku pergi dulu, Pa. Papa istirahatlah."
Setelah mengucapkan itu, Jesy bergerak cepat ke arah gadis yang tampak sedang melamun di tepian kolam. "Hei, kau," ucap Jesy angkuh.
Helen menoleh saat mendengar suara seseorang. Gadis polos itu tersenyum kepada Jesy yang sedang menatapnya tajam. "Tidak usah mencari perhatian kepada suamiku. Kau wanita murahan, suami orang masih kau dekati," tutur Jesy marah.
Sedangkan Helen yang tidak mengerti dengan perkataan Jesy hanya mengernyit bingung. "Ekhm … maaf, aku masih tahap belajar bahasa Indonesia. Jadi, aku belum mengerti bahasa Indonesia." Helen berucap dengan bahasa inggrisnya sambil menggaruk kepala belakangnya bingung.
Tidak kalah bingung, Jesy menganga tidak mengerti dengan kalimat yang keluar dari mulut Helen. 'Apa yang diucapkannya?' batin Jesy kesal.
"Tidak usah pura-pura tidak mengerti kau," ketus Jesy.
Kerutan di kening Helen jelas menandakan gadis itu sedang dalam keadaan bingung. "Maaf?" ucap Helen singkat.
"Ah … bangsat! Kalau begini, bagaimana aku bisa mengancamnya? Seharusnya dulu aku ikut les bahasa inggris," teriak Jesy frustasi.
__ADS_1
Sedangkan Helen yang masih dalam kebingungan semakin tidak mengerti dengan aksi Jesy. Gadis itu menggaruk pipinya bingung sambil memperhatikan Jesy. 'Dia kenapa sebenarnya?' batin Helen.