
"Mulut dan lidahnya aku juga tidak suka Kak, seenaknya mengatai orang," celetuk Cara.
Geo menatap dingin Edward. "Selain untuk merayu, kau memaki dan menghina istriku menggunakan mulut dan lidahmu ini? Sepertinya anggota tubuhmu itu memang meminta untuk saling berpisah," desis Geo.
Deg …. Darah Edward berdesir takut, tubuhnya mulai bergetar. "T-tolong, maafkan sa-saya," cicit Edward terbata-bata.
Suara laki-laki itu begitu kecil sehingga terdengar seperti bisikan di telinga mereka. Cara tertawa sinis mendengar itu. "Ke mana pergi suara Anda? Tadi saja Anda masih begitu mampu untuk meneriakiku," ejek Cara.
"T-tolong Nona, maafkan saya," pinta Edward memohon.
"She is my wife," desis Geo rendah.
Seorang laki-laki terkekeh. "Kenapa kau memanggilnya Nona? Dia istri Tuan Vetro, jadi panggil istrinya Nyonya Vetro," ejek laki-laki itu.
"I-iya, ma-maksduku Nyonya Vetro. Tolong maafkan saya, saya … tidak tahu kalau Anda istri dari Tuan Vetro," bisik Edward lemah.
Suara Edward malah semakin menghilang, laki-laki itu berbicara sambil terus menunduk. Mana mungkin dia berani mengangkat kepalanya di saat Geo masih saja berada tepat dihadapannya. "Jadi … kalau aku bukan istri Tuan Vetro, kau akan merasa benar melakukan itu kepadaku? Wanita bukan barang yang seenaknya bisa kau permainkan Tuan Kenzo. Jika kau memang maniak manita, maka cari yang benar-benar ingin melakukannya denganmu. Caramu yang seperti ini, sungguh biadap," desis Cara.
__ADS_1
Salah satu laki-laki yang berada di belakang Cara meringis kecil. "Sebenarnya kita satu frekuensi, tapi … seperti yang dikatakan oleh Nyonya Vetro, aku menjebol wanita dengan persetujuan wanita itu sendiri. Belum pernah aku melakukan hal seperti ini, karena menurutku jiwa kelelakianmu itu sudah terinjak. Sudah tahu wanita itu tidak mau, kenapa kau paksa. Padahal masih banyak wanita yang lain, yang mungkin sedang antri ingin kau jebol," tutur laki-laki itu santai.
Alex memukul kepala belakang laki-laki itu keras membuat laki-laki itu meringis sakit. "Sakit brengsek," umpat laki-laki itu.
"Mulutmu itu jaga, di sini ada Nyonya Vetro," tutur Alex kesal.
"Ck … iya," sahut laki-laki itu malas.
"Jadi, kamu ingin laki-laki ini diapakan Baby?" ucap Geo.
"Bagaimana kalau kita mulai dari lidah," celetuk Geo.
Duar …. Seakan disambar petir, jantung Edward berlari di dalam sana. Napasnya memburu karena panik dan takut bercampur menjadi satu. "Tolong, maafkan saya," pinta Edward memohon.
"Silakan kau gunakan dulu lidahmu itu, sebelum aku menariknya," ujar Geo.
"Tolong Tuan, maafkan saya. Nyonya Vetro, saya salah … maafkan saya," suara Edward bergetar.
__ADS_1
"Pisau C2," ujar Geo singkat.
Edward melotot ketakutan. "Tolong … tolong maafkan saya. Nyonya Vetro … tolong maafkan saya …." Edward berteriak memohon.
"Berisik," desis Geo tajam.
Edward terkesiap, dengan tiba-tiba mulutnya ditutup rapat karena kerakutan. "Lain kali kalau ingin berurusan dengan orang lain, cari tahu dulu latar belakangnya. Jadi seperti ini bukan?" celetuk seorang laki-laki.
"Tiga hari lagi juga dia akan mati, jadi tidak ada lain kali," balas Alex.
"Ya … lain kali, di neraka." Laki-laki itu tertawa mengejek.
Geo memutar pisau kecil itu di tangannya sambil menatap Edward yang sudah bergetar ketakutan. Ingin lari pun Edward tidak akan bisa. Jangankan untuk lari, sekedar menggerakkan tangan dan kaki saja laki-laki itu tidak mampu. "Tolong, maaf," cicit Edward ketakutan.
Geo memasang sarung tangan yang baru saja diberikan oleh salah satu anggota Death kepadanya. Sebelum melakukan aksinya Geo menoleh ke belakang. "Tutup mata dan telingamu, Sayang," ucap Geo.
Cara sebenarnya ingin sekali melihat Geo mengeksekusi laki-laki yang begitu dibencinya itu. Namun, karena Geo memerintahkan itu kepadanya, Cara hanya bisa menurut. "Biar kami halangi," ucap Alex.
__ADS_1