
"Terus kenapa Kakak masih mau?" tanya Cara.
Rical menoleh ke arah Cara. "Karena dia adalah rumahku," sahut Rical pelan. Cara tersenyum mendengar jawaban Rical. Wanita itu tahu betul bagaimana latar belakang dan sejarah antara suaminya dan Rical.
"Ini ayam bakarnya." Jesy kembali dengan membawa kantong plastik di tangannya.
Cara menoleh dan tersenyum miring saat melihat raut wajah Jesy. "Maaf Nyonya Carves, sepertinya aku sudah tidak menginginkannya. Aku sedang ingin makan omelet saja," tutur Cara santai.
Jesy yang mendengar itu melotot marah. "Kau sengaja melakukan ini bukan?" geram Jesy.
Cara mendongak sambil mengernyit pura-pura tidak mengerti. "Apa maksud Anda Nyonya Carves? Aku tidak mengerti," papar Cara.
"Jangan memanggilnya Nyonya Carves Ra, dia tidak pantas menyandang gelar itu," sela Rical. Laki-laki itu meminum air mineral di tangannya santai menghiraukan tatapan protes dari Jesy.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu Rical, kenapa kamu malah menjatuhkan harga diriku di depan musuh seperti ini?" protes Jesy.
"Musuh? Siapa musuhku?" tanya Rical santai.
"Dia, bukankah musuh kita sama. Kau bermusuhan dengan Tuan Vetro, dan aku sangat ingin melenyapkan wanita ini." Jesy menunjuk Cara dengan wajah benci.
"Siapa kau berani melenyapkan istriku?"
Suara berat seseorang mengejutkan Jesy. Wanita itu melotot saat melihat keberadaan sang pemimpin Death berjalan santai ke arah meja makan. Jesy menelan salivanya susah payah. Sudah sangat lama dia tidak melihat wajah tampan Geo, tetapi kali ini sangat terlihat berbeda. Geo menatapnya dingin dengan mata elang laki-laki itu.
"Sudah selesai?" tanya Rical.
"Hem …." Geo berdeham sambil duduk di kursi utama meja makan itu. Hal itu membuat Jesy kembali melotot terkejut. Pemilik mansion ini adalah suaminya, kenapa yang duduk di sana malah Geo? Jesy baru menyadari jika sedari tadi Rical tidak duduk di kursi utama seperti biasanya.
__ADS_1
Wanita hamil itu mengernyit bingung. 'Ada apa sebenarnya? Bukankah mereka musuh?' batin Jesy bingung.
Ingin sekali sebenarnya Jesy mengeluarkan protesnya. Namun, itu semua seakan terikat kuat di dalam sana. Suara wanita itu tiba-tiba menghilan. Sebegitu kuatnya pengaruh kehadiran Geo yang mampu membuatnya tidak berkutik.
Jesy terlonjak saat tiba-tiba tatapan tajam nan dingin itu kembali mengarah kepadanya. "Kau masih hidup, syukuri itu … sebelum aku menarik paksa nyawamu," desis Geo dingin.
Glek …. Entahlah, jika biasanya bersama Rical, Jesy akan membantah dan menyahut. Berbeda dengan Geo yang seakan mampu mengunci rapat suaranya di dalam sana. Sedangkan Cara yang melihat wajah pucat milik Jesy sudah tersenyum sinis. "Tadi saja berani, sekarang?" Cara tersenyum mengejek ke arah Jesy.
Jesy menatap tajam ke arah Cara, membuat Cara kembali terkekeh sinis. "Kau berani menatapku tajam? Ingin aku congkel matamu itu?" ejek Cara.
Jesy terkejut mendengar kalimat mengerikan yang dilontarkan Cara. Dengan cepat wanita itu mengalihkan pandangannya membuat Cara tersenyum puas. "Aku sudah lapar," celetuk Cara.
Geo menoleh ke arah istrinya. "Ingin makan apa, Baby?" tanya Geo lembut.
__ADS_1
Jesy melotot terkejut melihat perubahan aura, mimik wajah dan nada suara pemimpin Death itu. 'Andai aku memiliki suami seperti dirinya,' batin Jesy miris.