
Alex berjalan tergesa ke dalam mansion Vetro. Laki-laki itu baru saja mendapat kabar bahagia dari sang adik tercinta. "Mana adikku?" ucap Alex tidak sabar.
Dua manusia es yang berada di sofa ruang tamu itu hanya menatap Alex datar. Sedangkan yang ditatap malah memutar bola matanya kesal. "Ck … percuma saja kalian diberi mulut," gerutu Alex.
"Cyra!" teriak Alex memanggil Cara.
"Berisik," desis Geo.
"Makanya jawab pertanyaanku, di mana adikku?" ulang Alex malas.
"Kak Alex," panggil Cara.
Alex menoleh dan mendekat ke arah Cara yang sedang berjalan bersama Siera di sampingnya. "Dek, kamu benar hamil?" tanya Alex antusias.
Cara terkekeh kecil sambil mengangguk kecil. "Demi apa, aku akan segera memiliki keponakan," ujar Alex senang.
"Apa bentuknya, pedang atau belah?" tanya Alex lagi.
Buk …. "Shh." Alex meringis kala sebuah apel pelayang sempurna di tulang kepalanya. Itu semua adalah ulah Geo yang baru saja melempar kepala laki-laki itu tepat sasaran.
"Brengsek, sepertinya hari ini kepalaku sial sekali," umpat Alex kesal.
Cara tertawa melihat itu. "Belum kelihatan Kak, masih tiga minggu," terang Cara.
"Terus, kapan dia keluar?" tanya Alex lagi.
"Sekitar delapan bulan lagi," sahut Cara
__ADS_1
"Lama sekali," keluh Alex.
"Ya iya, Kak," balas Cara.
"Kalau begitu cepat duduk, ibu hamil itu tidak boleh banyak bergerak. Nanti dedeknya lelah," sambung Alex serius.
Cara derdecak kesal. "Tidak Kak Ge, Kak Farel, sekarang Kak Alex pun ikut seposesif ini. Aku tidak akan kenapa-kenapa hanya karena berjalan," dengkus Cara.
"Tidak, ayo cepat duduk," titah Alex.
"Ck … iya, ini juga mau duduk," balas Cara kesal.
Siera yang melihat wajah kesal milik temannya itu terkekeh kecil. "Sie, ke sini," ujar Farel.
Alex menoleh dan mengernyit. "Kalian sudah pacaran?" tanya Alex.
Wajah Siera memerah mendengar pertanyaan itu. Sedangkan Cara yang melihat wajah malu temannya sudah terkekeh geli. "Tahap pendekatan, Kak," kata Cara.
"Bang Alex!" Semua manusia yang berada di sana terkejut mendengar suara itu. Sedangkan Alex sudah mengumpat di dalam hati.
"Bang! Saya tidak dibolehkan masuk, Bang. Tolong!"
Semua mata menatap Alex dengan pandangan bertanya. "Siapa, Kak?" tanya Cara.
"Tidak ada, hanya tikus," sahut Alex asal.
"Bang Alex!"
__ADS_1
Geo mengernyit mendengar suara teriakan di depan mansionnya. "Kau membawa siapa sehingga berani berisik di sini?" desis Geo.
Alex menghela napas kesal mendengar itu. "Ck … tunggu sebentar." Alex berdiri dan berjalan ke arah pintu utama.
Cara ikut berdiri karena merasa penasaran. "Ke mana, Sayang?" tanya Geo.
"Aku ingin melihat siapa itu, Kak. Suara perempuan loh, apa mungkin pacar Kak Alex?" Dengan gerakan cepat Cara berlari mengikuti langkah kaki Alex.
Tiga pasang mata yang melihat itu sudah melotot terkejut. "Jangan berlari, Baby," ucap Geo cukup keras. Mendengar itu Cara terhenti, wanita itu membalikkan badannya dan terkekeh bodoh ke arah Geo yang sudah menghela napas berat.
Alex menatap malas seorang gadis yang sedang ditahan oleh dua orang pengawal mansion Vetro. "Lepaskan dia," titah Alex.
Dengan patuh, dua pengawal itu melepaskan gadis yang sudah menatap mereka tajam. "Sudah aku katakan, aku bukan penyusup," ujar gadis itu kesal.
"Di mana rumahmu? Aku suruh salah satu dari mereka mengantarkanmu pulang," ucap Alex.
Gadis itu menggeleng cepat. "Aku tidak akan pulang, Bang. Aku kan sudah katakan kalau aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Aku bersedia menjadi pembantu di rumahmu nanti tanpa dibayar. Aku hanya meminta satu kamar di rumahmu nanti, tidak apa-apa kamar pembantu," sahut gadis itu.
Alex menghela napas frustasi. "Sudah aku katakan, aku tidak butuh pembantu. Kau pulang saja," balas Alex.
"Kasihanilah aku, Bang. Aku tidak punya rumah." Alex melotot terkejut kala gadis utu dengan tiba-tiba duduk dan memegang kakinya.
"Hei, berdirilah. Kau benar-benar gadis aneh," tutur Alex kesal.
"Sudah aku katakan, namaku Lamira, Bang," balas gadis yang bernama Lamira itu.
"Iya, iya … cepat berdiri Lemari," ucap Alex.
__ADS_1
"Lamira, Bang. Bukan Lemari," ujar Lamira ikut kesal.
"Terserahku," sahut Alex santai.