
"Sayang, kamu yakin tidak perlu ada pesta? Bukankah kamu ingin pesta mewah?" ucap Sasdia.
"Tidak apa-apa untuk sekarang Ma, yang penting sekarang Rical sudah bersedia menikahiku. Nanti jika aku sudah menjadi istrinya, aku akan membuat dia bertekuk lutut kepadaku. Jika nanti dia sudah mencintaiku, aku akan meminta pesta pernikahan yang mewah. Aku yakin dia akan mengabulkannya. Tidak masalah bukan pesta menyusul? Lagi pula, kami sekarang baru menikah sirih. Jadi masih ada kesempatan Ma." Jesy tersenyum licik.
Sasdia menatap putrinya sendu, entahlah … hatinya masih merasa begitu janggal untuk melepas anaknya itu untuk menikah dengan laki-laki seperti Rical. "Mama tidak usah khawatir, setelah aku menikah dengan Rical. Pasti kehidupan kita akan semakin membaik," sambung Jesy.
"Mama hanya masih merasa begitu janggal, Sayang. Lihatlah bagaiamana sifat calon suamimu itu, Mama takut kamu kenapa-kenapa," balas Sasdia.
Jesy tersenyum. "Aku tidak akan kenapa-kenapa Ma, calon suamiku pengusaha sukse loh. Bukankah ini cita-cita kita sedari dulu?" tutur Jesy senang.
Sasdia menghela napas panjang. "Iya, tapi … melihat sifat Rical yang seperti itu, Mama khawatir saja," ujar Sasdia.
"Mama tidak perlu khawatir, hidupku pasti akan senang nanti karena mendapat suami kaya. Bukan hanya hidupku, Gerisam Group nanti juga akan membaik dengan bantuan Rical," papar Jesy.
'Yah, aku tahu Rical itu pengusaha kaya. Hanya saja kalau seandainya dia tidak bersedia membantu bagaimana? Menikah saja sepertinya dia terpaksa, nanti Jesy malah semakin terluka,' batin Sasdia khawatir.
__ADS_1
"Sasa," panggil Torih.
"Ada apa Mas?" tanya Sasdia.
"Kau harus mencari pakaian yang longgar untuk Jesy. Aku tidak mau saat pernikahan nanti perutnya terlihat. Itu akan membuat malu," desis Torih.
"Jesy masih hamil muda Mas, perutnya belum terlihat," ujar Sasdia.
"Aku tidak peduli, carikan pakaian yang longgar. Tidak usah terlalu mahal, keuangan masih sulit," balas Torih.
Torih memicing menatap tajam Sasdia dan Jesy bergantian. "Kalau ingin yang mahal, cari uangnya sendiri. Aku hanya akan memberi uang lima ratus ribu untun membeli pakaian. Calon suamimu yang kaya itu tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun untuk pernikahan ini," geram Torih.
"Mas, jangan seperti ini. Kasihan Jesy, pesta pernikahan mewah tidak dapatnya, sekarang pakaian pernikahan pun hanya dana lima ratus ribu? Murahan sekali Mas, kita juga yang malu sebagai orang tua," tutur Sasdia.
"Malu? Malu mana dari pada tahu hamil di luar nikah, hah?" desis Torih.
__ADS_1
Sasdia terdiam, sedangkan Jesy sedari tadi hanya menunduk tidak mengeluarkan suara. "Putrimu ini mengejek Cyra sebagai perempuan murahan, ternyata lihat … dia memalukan." Torih menunjuk Jesy tajam.
"Cukup Mas, kamu keterlaluan! Bagaimana pun dia anak kita." murka Sasdia.
"Kalau aku sudah tidak menganggapnya anak, maka aku tidak akan mau tetap memberi uang untuk keperluan pernikahan ini. Sudah syukur aku memberi uang, kalau kau takut malu … tidak usah seperti ember yang memberi tahukan harga pakaian pernikahan itu kepada orang lain. Beres bukan?" ucap Torih.
Setelahnya Torih menatap Jesy yang masih diam sambil menunduk. "Dan kau, buat Tuan Sunder bersedia membantu keuangan Gerisam Group. Apa pun caranya, percuma saja kau menikah dengan laki-laki kaya kalau dia tidak membantu." Torih pergi setelah mengucapkan hal itu kepada Jesy. Sasdia mendekat ke arah Jesy dan memeluk tubuh putrinya mencoba menenangkan.
.
.
.
Cara tersenyum puas melihat itu semua. "Seperti ini lah aku dengan bundaku dulu, selalu dimarahi ayah dan saling menguatkan," gumam Cara.
__ADS_1
Cara tersenyum miring menatap datar layar laptop yang masih menampilkan adegan pelukan ibu dan anak itu. "Tidak aku sangka, karmanya sedikit demi sedikit mulai meraba kalian. Baru secuil karma, belum di mana-mana," sambung Cara.