
Geo memeluk pinggang Cara posesif. Langkah sepasang suami istri itu di kawal oleh beberapa anggota Death di belakangnya. Hari ini adalah jadwal keberangkatan Cara dan Geo menuju Amerika dan sekarang mereka sudah berada di bandara. Geo dan Cara akan berangkat menggunakan jet pribadi milik Geo. Juan dan Farel ikut berangkat mengantar kepergian sang pemimpin dengan istrinya.
"Hati-hati di sana, jangan lupa mengabari aku ya. Aku pasti akan merindukanmu," ujar Alex mendrama.
Cara terkekeh merasa lucu melihat wakil ketua Death yang aslinya sangat tegas, tetapi jika bersamanya begitu manis dan lembut. Sebab Alex dan Farel sudah menganggap Cara sebagai adiknya. Begitu sebaliknya Cara sudah menganggap Alex dan Farel sebagai kakak laki-lakinya. Sedangkan Geo dan Farel sudah memutar bola matanya malas melihat tingkah Alex. "Drama," celetuk Geo datar.
Alex menatap Geo kesal. "Ck … aku tidak berbicara dengan Anda Tuan Vetro, aku sedang berbicara dengan adikku. Lagi pula aku tidak akan rindu denganmu, terserah kalau kau ingin pulang kapan. Mau itu satu minggu, satu bulan atau pun satu tahun, aku tidak peduli." Alex berucap sambil menatap Geo malas.
Cara kembali terkekeh. "Sudah, aku pergi hanya dua minggu Kak. Kakak dan Kak Farel bahkan sering meninggalkan aku pergi ke luar negeri," ucap Cara.
"Iya, tapi kami selalu mengabarimu jika di sana. Kamu juga jangan lupa mengabari kami di sini. Jangan lupakan kami karena terlalu terbuai dengan mulut manis kembaran malaikat maut itu." Alex melirik sinis ke arah Geo.
Cara tertawa melihat ekspresi wajah Alex. "Ayo Baby," ajak Geo.
Alex kembali menatap kesal ke arah Geo. "Tolonglah, aku sedang …."
"Berisik." Geo memotong ucapan Alex sambil menarik lembut tubuh Cara pergi dari sana.
Alex melotot melihat itu, sedangkan Cara menoleh ke belakang sambil melambaikan tangannya ke arah Alex dan Farel. "Dah … nanti kalau sampai aku kasih kabar." Cara sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya.
"Laki-laki es itu benar-benar," gerutu Alex.
__ADS_1
...*****...
Rical menatap datar Jesy yang sedang berdiri dihadapannya. "Apa lagi?" tanya Rical.
"Aku tidak akan berhenti datang ke sini sebelum kamu menikahiku Rical. Aku hamil anakmu dan kau harus bertanggung jawab. Perutku akan semakin membesar Rical," ucap Jesy.
Rical terkekeh sinis. "Terus kalau kau hamil kenapa memangnya? Aku tidak tertarik untuk menikah," ujar Rical.
Jesy menatap Rical tajam. "Ini anakmu Rical," desis Jesy.
Rical tertawa mendengar kalimat Jesy. "Kalau seandainya seluruh wanita yang aku tiduri seperti dirimu dan aku menerima mereka. Maka … mansionku yang luas itu tidak akan sanggup menampung kalian. Jadi, kau bisa bayangkan sebanyak apa wanita yang sudah aku tiduri. Tidak semudah itu, sudah aku katakan kau salah mencari mangsa lo***e." Rical menatap tajam Jesy yang sudah mengepalkan tangannya marah.
"Laki-laki brengsek, kau yang membuat aku hamil seperti ini. Jangan hanya ingin enaknya saja kau, bangsat!" murka Jesy.
"Kau harus menikahiku Rical, aku hamil dan itu anakmu!" teriak Jesy.
"Kalau kau hamil, tinggal digugurkan saja. Gampang bukan? Aku akan biayai semuanya untukmu. Jangan kau jadikan ini sentaja untuk menjeratku, itu tidak akan mempan," tutur Rical santai.
Jesy terkejut, wanita itu menatap tidak percaya ke arah Rical. "Kau benar-benar tidak punya hati bangsat. Ini anakmu, darah dagingmu." Jesy berteriak marah.
Rical menatap datar Jesy. "Aku tidak peduli, jika semua wanita yang aku tiduri hamil. Mungkin sekarang anakku sudah segudang, sayangnya aku tidak tertarik memiliki anak. Jadi kau gugurkan saja kandunganmu itu," papar Rical.
__ADS_1
"Kau brengsek Rical, segampang itu kau melontarkan kalimat itu. Kau laki-laki pengecut!" Jesy berteriak histeris.
Rical yang melihat Jesy mulai hilang kendali segera menelepon bagian keamanan perusahaannya. "Aku tidak akan menggugurkan anak ini, kau harus menikahi aku. Aku ingin dia lahir," teriak Jesy lagi.
"Ya sudah, kalau kau tidak ingin menggugurkannya. Silakan kau besarkan sendiri anakmu itu. Tapi jangan ganggu aku lagi, aku tidak ingin berurusan lagi denganmu. Kau menghambat kerjaku," papar Rical.
"Aku akan terus mengganggumu, aku tidak akan berhenti sebelum kau menikahiku. Aku akan membuatmu malu lihatlah," desis Jesy.
"Kau benar-benar wanita gila, kau belum tahu siapa aku," sinis Rical.
"Makanya nikahi aku," ucap Jesy.
Tok … tok … tok …
"Masuk!" ucap Rical.
Cklek …. Pintu ruangan kerja Rical terbuka dan masuklah dua orang satpam. "Permisi Tuan," sapa satpam tersebut.
"Usir wanita gila ini," titah Rical.
Jesy melotot, setelahnya wanita itu memberontak saat dua satpam itu mencekal tangannya. "Lepaskan aku, aku belum selesai brengsek," teriak Jesy.
__ADS_1
"Tenanglah Nona, ikut kami secara baik-baik," ujar salah satu satpam.
"Aku tidak akan pergi sebelum si bangsat itu menyetujui keinginanku. Lepaskan aku, brengsek. Aku bukan gembel yang harus kalian perlakukan seperti ini," teriak Jesy lagi.