Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
82. Cemburu (lb)


__ADS_3

Siera terkejut saat dengan tiba-tiba seorang laki-laki menarik pergelangan tangannya. "Hei, kau siap … pa?" Suara Siera mengecil saat melihat dengan jelas wajah orang yang menariknya.


"Tuan Jhons?" gumam Siera.


"Farel." Farel menjulurkan tangannya kepada Siera.


Hal itu jelas saja membuat gadis itu mengernyit tidak mengerti. "Ma-maksudnya?" tanya Siera gugup bercampur bingung.


"Namaku Farel, panggil Farel." Laki-laki itu masih setia dengan posisinya.


Siera yang sempat terdiam sambil meraih ragu tangan kanan Farel yang masih menggantung di udara. "Si-siera," ucap Siera pelan.


"Aku tahu," balas Farel dengan nada datarnya.


'Kalau begitu aku juga tahu namamu,' ujar Siera kesal di dalam hati. Hanya berani melontarkannya di dalam hati.


"Pulang?" tanya Farel datar.


'Astaga, dia bertanya atau bagaimana? Kenapa datar sekali?' batin Siera lagi.


"Tu-tuan bertanya kepada saya?" tanya Siera.


"Panggil Farel," tutur Farel.

__ADS_1


Siera terkejut, setelahnya gadis itu menggaruk kepala belakangnya ragu. "K-kak Farel tadi bertanya?" ucap Siera kaku.


"Hem … ayo pulang," sahut Farel.


Siera menganga ditempatnya. "Apa Cara menyuruhmu lagi? Tapi aku …."


"Tidak," sela Farel.


Siera mendongak bingung. 'Terus?' batin Siera bingung.


"Aku sendiri ingin menjemputmu," sambung Farel.


Mata Siera melotot dengan mulut terbuka lebar. "Hah?"


Sedangkan otak Siera tiba-tiba saja blank merasa bingung dengan tingkah Farel. 'Aku masih tidak mengerti, ada apa ini? Apa Cara sedang mengerjaiku melalui manusia kaku ini?' batin Siera.


...*****...


Cara duduk dipangkuan Geo sambil terus sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Geo juga sibuk dengan laptop dan berkas kantor di mejanya. Sepasang suami istri itu sedang berada di dalam ruangan Geo. Setelah insiden antara Cara dengan Tuan Kenzo waktu itu, Geo memuntuskan untuk mengganti direktur utama. Laki-laki itu tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali.


Saat ini Cara resmi pengangguran, itu semua juga keinginan Geo. Laki-laki datar itu ingin Cara selalu berada di sampingnya. Seperti saat ini, meski sibuk pun Geo malah tetap menginginkan Cara duduk dipangkuannya. "Hari ini aku pergi ke mansion Kak Rical sekitar jam berapa Kak?" tanya Cara.


Geo menoleh, semua jadwal istrinya itu memang sudah diatur oleh Geo. Termasuk jadwal berkunjung Cara ke mansion Rical untuk bermain bersama Jesy dan Sasdia. "Nanti saja ya Baby," balas Geo.

__ADS_1


"Baiklah, biar mereka berpikir aku tidak datang. Bagus juga diberi kejutan," tutur Cara.


"Hari ini ada jadwal makan siang bersama klien dari luar negeri, kamu ikut ya," kata Geo.


"Kalau tidak mengganggu, aku ikut saja," sahut Cara.


"Siapa yang berani mengatakan istriku menganggu?" Geo mencium pipi kanan sang istri.


"Mana tahu nanti ada yang begitu," balas Cara.


"Tidak ada Sayang, aku rasa mereka masih sayang nyawa," terang Geo. Cara yang mendengar itu terkekeh kecil.


.


.


.


Geo memeluk erat pinggang sang istri, jelas sekali terlihat sifat posesif laki-laki datar itu. "Mari Tuan, Nyonya." Seorang pegawai hotel membungkuk hormat kepada Geo dan Cara.


Geo dan Cara berjalan mengikuti langkah kaki sang pegawai hotel yang ingin mengantarkan mereka ke tempat pertemuan. Tepat di depan sebuah pintu VIP, pegawai itu membukakan pintu untuk sepasang suami istri itu. Cara mendongak saat melihat salah satu penghuni ruangan itu adalah wanita cantik. Jiwa cemburu dan posesif seorang istri di dalam tubuh Cara mulai menguar.


Geo terkekeh kecil saat merasakan aura istrinya mulai berbeda. "Ayo Sayang," ajak Geo.

__ADS_1


Cara terus memperhatikan wanita cantik itu dengan wajah malas. Sangat terlihat tatapan berbinar yang ditujukan wanita itu kepada Geo. "Selamat datang Tuan Vetro." Wanita itu berdiri sambil tersenyum manis menyapa Geo dengan suara yang terkesan dilembut-lembutkan.


__ADS_2