
Rical terkejut mendengar penuturan Helen. Dia baru tahu satu hal ini, karena memang selama ini Helen tidak pernah bercerita tentang itu kepadanya. "Terus kenapa kamu tidak memberi tahu aku? Kalau aku tahu lebih baik kamu kuliah di bagian memasak kak titik kamu bisa mengambil jurusan seperti tata boga dan sebagainya yang berhubungan dengan hal memasak."
"Tidak apa-apa, aku juga sempat berpikir seperti itu. Tapi, saat aku bercerita dengan Kak Siera, aku jadi tahu kalau jurusan yang aku ambil mungkin masih tepat. Karena memasak adalah hobi aku," balas Helen.
Rical menghela napas pelan mendengar perkataan Helen. "Ya sudah, kalau begitu siap-siap saja. Kalau memang kamu ingin memasak, kamu ingin memasak apa? Nanti aku suruh orang untuk membeli bahannya," tanya Rical.
Helen nampak terdiam seakan sedang berpikir. "Kemarin aku baru saja mencoba sebuah resep bubur ayam. Setelah aku coba ternyata rasanya enak, sesuailah dengan rasa bubur ayam yang pernah aku beli. Bagaimana kalau itu saja?" balas Helen meminta pendapat.
"Sepertinya tidak apa-apa, nanti aku coba dulu apakah layak untuk dimakan Cara atau tidak."
__ADS_1
...*****...
Geo mendekat ke arah Cara yang masih saja tertidur. Secara pelan tangan laki-laki itu mengayun mencoba menyentuh rambut Cara. Elusan lembut tangan kekar Geo tidak membuat Cara terganggu. Lengkungan tipis terbentuk di bibir laki-laki datar itu. Geo mendekatkan wajahnya ke arah daun telinga Cara.
"Baby, bangun Sayang. Kamu harus makan dan minum obat dulu," bisik Geo pelan.
"Engh …." Cara melenguh pelan saat merasa terusik dengan ucapan dan suara lembut milik Geo. Secara perlahan mata Cara mulai terbuka. Wajah tampan sang suami menjadi pemandangan pertama yang ditatap oleh matanya.
"Sudah jam berapa, Kak?" Cara bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
Geo mendekat dan mengecup lembut kening, pipi kanan dan pipi kiri sang istri. "Sudah jam setengah tiga, Sayang," sahut Geo.
Cara menggeliat pelan sehingga membuat Geo merasa gemas melihat aksi wanita cantik nan pucat itu. Cara memiringkan kepalanya melihat arah ranjang mungil yang terletak di samping ranjangnya. Bibir wanita cantik itu itu membentuk senyum lebar, saat melihat keberadaan putranya yang masih tertidur lelap. "Anak kita begitu lelap tidurnya ya, Kak."
Geo ikut menoleh ke arah ranjang kecil itu. Setelahnya laki-laki datar itu ikut tersenyum tipis. "Iya, Sayang. Dia memang begitu suka tidur, sama seperti Mommy saat sedang mengandungnya," papar Geo.
Cara terkekeh kecil saat mendengar perkataan Geo. "Iya, kata orang apa yang dirasakan ibu hamil di saat dia mengandung. Itu karena keinginan sang bayi, jadi bagaimana kebiasaan aku saat mengandung ... itu berarti merupakan sifat sang bayi."
"Iya, sayang. Aku memang melihat sifat kamu saat mengandungnya, sama dengan sifat dia saat ini. Lihatlah, dia begitu menggemaskan dengan mata terpejam itu. Tapi, saat matanya sudah terbuka dia begitu mirip aku. Mata tajam yang bahkan mampu menghipnotis orang lain."
__ADS_1
Cara kembali tersenyum tipis mendengar perkataan Geo. Wanita itu mengakui jika sang putra, benar-benar menyalin wajah ayahnya. "Iya, seperti yang aku inginkan dahulunya. Benar dugaanku, bukan? Anak kita akan lebih tampan dari Daddy-nya. Aku saja sebagai Mommy-nya, begitu terkejut dan terpana melihat bola mata biru laut itu. Aku tidak menyangka jika keinginan aku saat melihat bola mata mendiang Papa kamu, akan menjadi kenyataan."
Geo tersenyum mendengar perkataan Cara. "Sepertinya Papa di sana, mendengar dan melihat apa keinginan menantu cantiknya ini. Sehingga dengan baik hati Papa menurunkan gen miliknya kepada Geno,"