
"Kata Kak Rical, Helen suka sekali dengan buah rambutan, nanti kita cari buah rambutan ya, Kak," ucap Cara.
"Iya, Sayang," sahut Geo.
"Helen bilang dia sedang di kolam renang, entah kenapa dia begitu suka di sana. Apa mungkin karena dia tidak bisa berenang, sepertinya dia ingin belajar berenang," tutur Cara.
"Kamu sendiri tidak ingin belajar berenang?" tanya Geo.
Cara mendongak dan tersenyum dengan mata berbinar. "Mau, Kak. Kapan kita berenang, aku jadi ingin segera belajar berenang," ucap Cara antusias.
Geo tersenyum mendengar kalimat antusias dari sang istri. "Inginnya kapan?" tanya Geo.
"Aku … eh, itu Kak." Kalimat Cara terpotong saat wanita itu melihat Jesy mendorong tubuh Helen.
Mata Cara melotot saat melihat tubuh Helen masuk ke dalam kolam renang. ""Astaga, apa yang kamu lakukan, Jesy? Dia sepertinya tidak bisa berenang." Cara dapat mendengar suaraTorih yang tampak panik.
"Kak bantu Helen, dia tidak bisa berenang," tutur Cara cemas.
__ADS_1
Geo patuh, laki-laki itu membuka jas kantornya dan menyisakan kemeja putihnya. Setelahnya laki-laki itu masuk ke dalam kolam renang berniat membantu Helen. Sedangkan Cara terus berjalan mendekat sambil membawa jas hitam milik suaminya. "Kau memang tidak punya hati."
Suara Cara mengejutkan tiga manusia yang sudah memucat melihat kehadiran Geo. "Jesy tidak sengaja, Nyonya Vetro." Sasdia yang begitu takut Jesy mendapat masalah, bersuara mencoba membela sang putri.
Cara menatap Sasdia dengan senyum sinis. "Kau selalu saja membela putrimu, bahkan kau tahu kalau dia salah." Cara bersuara sambil mendekat ke arah Geo yang sudah meletakkan tubuh lemas Helen di tepian kolam.
Cara menatap wajah pucat Helen, bibir Helen bergetar karena kedinginan bercampur terkejut. "Apa yang kalian tunggu, ambilkan handuk untuknya," bentak Cara marah. Mendengar itu, dengan segera Sasdia berlari ke dalam mansion.
Setelahnya wanita hamil itu menyampirkan jas hitam milik Geo menutupi tubuh bergetar Helen. "Helen," panggil Cara lembut.
Cara mendongak dan menatap sang suami yang juga sudah basah kuyup. "Buka saja bajunya, Sayang. Nanti masuk angin," ucap Cara lembut.
"Ini, Nyonya." Sasdia mengulurkan sebuah handuk kepada Cara. Wanita itu meraih handuk di tangan Sasdia dan menyampirkan ke tubuh Helen.
"Kamu bisa berjalan?" tanya Cara lembut.
"Helen!" Suara Rical menggema, semua mata menoleh ke arah Rical yang tampak khawatir.
__ADS_1
Rical berjongkok dan menatap wajah pucat Helen. Setelahnya laki-laki itu menatap tajam ke arah Jesy. "Kau berani sekali, bangsat!" murka Rical.
"Lebih baik Kakak bawa Helen ke dalam kamar. Minta bantuan kepada pelayan untuk mengganti bajunya, dia sudah begitu kedinginan," tutur Cara.
Rical memeluk tubuh Helen dan membawa wanita itu berdiri. Sebelum benar-benar pergi dari sana, Rical kembali menatap tajam Jesy yang sudah terdiam kaku. "Tunggu balasan dariku," desis Rical.
Setelah kepergian Rical, Cara mendekat ke arah Geo yang sudah bertelanjang dada. "Sayang," panggil Cara.
"Ayo ke kamar, aku ingin ganti baju," ucap Geo.
"Iya," sahut Cara. "Dan kau, bersiap-siaplah mendapat amukan dari Kak Rical." Cara menoleh ke arah Jesy dengan senyum miringnya.
Sasdia mendekat ke arah Jesy yang masih terdiam. "Sayang, bagaimana ini?" tutur Sasdia cemas.
"Apa aku bilang, kalian sedari dulu terlalu keras kepala. Lihatlah, Tuan Carves sepertinya begitu marah, apa yang harus kita lakukan sekarang? Dia bisa saja bermain fisik," pungkas Torih tidak kalah cemas.
"Aku takut, Ma," cicit Jesy.
__ADS_1