Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
109. Dijual (lb)


__ADS_3

Seorang laki-laki yang merupakan sekretaris sekaligus asisten Istak Laksa terkejut melihat kedatangan Lamira, anak pemimpinnya. "Nona Muda," sapa laki-laki itu.


Lamira menatap laki-laki dihadapannya. "Papa ada di dalam?" tanya Lamira.


"Ada, Nona. Mari," ajak laki-laki itu.


Tok … tok … tok …


Laki-laki itu mengetuk sopan pintu ruangan kerja Istak. "Masuk," sahut laki-laki paruh baya di dalam sana.


"Ayo, Nona." Asisten Istak membuka perlahan pintu itu. Sedangkan Lamira sudah menarik napasnya dalam mencoba bersiap-siap menghadapi sang ayah.


'Tenang Lamira, ada Bang Alex,' batin Lamira mencoba tenang.

__ADS_1


"Permisi, Tuan. Nona Muda datang," tutur asisten Istak.


Mendengar kata nona muda, laki-laki paruh baya yang berada di balik meja kerja itu menoleh dan menatap tajam Lamira yang sudah memucat. "Keluar," titah Istak kepada sang asisten.


Melihat kepergian asisten Istak, membuat perasaan was-was di dalam hati Lamira semakin berkembang. "Sok ingin kabur, akhirnya kembali sendiri. Aku tahu kau tidak akan bisa hidup tanpa apa-apa di luar sana," sindir Istak sinis.


Lamira diam tidak menyahut perkataan Istak. Gadis itu masih menunduk tidak berani membalas tatapan tajam sang ayah. "Dua hari lagi, hari pernikahanmu. Jangan mencoba untuk kabur lagi," desis Istak.


Mata Lamira membola, kepala yang tadinya menunduk kini sudah mendongak menatap sang ayah. "Aku tidak ingin menikah, Pa. Aku bahkan masih kelas tiga sekolah menengah atas," protes Lamira.


Lamira menggelengkan kepalanya, air mata yang sedari tadi ditahannya sudah meluruh keseluruh bagian wajah gadis cantik itu. "Bahagia? Hanya Papa yang bahagia di sini, Papa pikir aku barang? Menjadikan aku untuk memperluas perusahaan. Bahagia tidak selamanya diukur dengan uang, Pa." Lamira bersuara di sela isak tangisnya.


Istak menatap tajam sang putri yang semakin berani melawan kata-katanya. "Kau semakin kurang ajar, seharusnya kau bersyukur karena aku sudah membesarkanmu," murka Istak.

__ADS_1


Lamira tersenyum miris. "Aku tahu, Papa selama ini membesarkan aku hanya untuk niat ini bukan? Buktinya sekarang, Papa menjualku. Ya, Papa menjualku," balas Lamira miris.


Brak …. Untuk kedua kalinya Istak memukul meja kerja itu keras. Laki-laki paruh baya itu berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Lamira yang sudah bergetar takut. "Kalau kau tidak berguna, untuk apa aku membesarkanmu, hah? Kau memang aku jual, maka tidak usah banyak protes," desis Istak.


"Apakah masih ada seorang ayah yang sepertimu? Gila harta sampai tega menjual anak demi perusahaan, kurang apa mendiang Mama selama ini, Pa?" teriak Lamira lepas kendali.


Plak … bruk …


Istak menampar pipi Lamira tanpa ampun. Gadis itu sudah terbaring di lantai dengan ujung bibir berdarah. "Kau semakin kurang ajar," murka Istak.


Brak …. Istak terkejut saat dengan tiba-tiba, pintu ruangan kerjanya di dobrak begitu kasar. Mata laki-laki paruh baya itu melotot melihat wajah marah seorang laki-laki tinggi dihadapannya. "Tuan Rowin," gumam Istak terkejut.


Sedangkan wajah Alex sudah mengeras melihat seorang gadis sudah tergeletak di atas lantai sambil menangis kecil. "Brengsek," desis Alex.

__ADS_1


Istak terkejut saat dengan tiba-tiba Juan menoleh tajam ke arahnya. Bugh …. Satu pukulan dilayangkan Alex kepada laki-laki paruh baya itu. Istak tersudut ke meja kerjanya dengan keadaan wajah berdarah. "Ada apa ini, Tuan?" tanya Istak bingung.


Sedangkan asisten Istak yang sedari tadi berdiri panik dengan kedatangan Alex sudah menganga ditempat. Laki-laki itu dengan segera menelepon bagian keamanan perusahaan. Ingin melerai sendiri, jelas saja laki-laki itu tidak berani.


__ADS_2