
"Sudah, aku ingin ke kantor. Kau hanya menghambatku saja, jelas perusahaan sedang tidak stabil." Torih kembali melajukan mobilnya saat Jesy dan Sasdia sudah berada di luar.
Sepasang ibu dan anak itu menatap sendu kepergian Torih. "Sudah Sayang, ayo kita masuk." Sasdia membawa Jesy masuk ke dalam gedung rumah sakit.
.
.
.
Sasdia menatap iba wajah pucat Jesy yang kembali terbaring di ranjang rumah sakit. "Baru saja dua hari yang lalu kamu keluar dari rumah sakit Sayang, sekarang kamu sudah kembali lagi ke sini," gumam Sasdia.
"Tunggu di sini Sayang, Mama akan memberi peringatan kepada gadis sialan itu." Sasdia masih keras dengan pendiriannya untuk mendatangi Cyra dan meminta pertanggung jawaban gadis itu.
Sasdia berjalan cepat menuju meja piket para suster. "Suster, saya ingin keluar sebentar. Jika nanti anak saya bangun sebelum saya kembali, tolong beri tahu dia saya ada urusan. Anak saya berada di ruangan nomor 22," ucap Sasdia.
"Baik Bu," sahut salah satu suster yang berada di sana.
...*****...
Cara yang sedang sibuk dengan pekerjaannya mengernyit saat mendengar keributan dari luar ruangannya. Gadis itu berdiri dan mendekat ke arah pintu. Cara menatap datar Sasdia yang sedang berteriak histeris sambil memberontak sebab wanita paruh baya itu ditahan oleh dua orang satpam kantor. "Ada apa?" tanya Cara.
Semua orang menoleh ke arah Cara, sedangkan Sasdia yang melihat Cara sudah keluar dari ruangannya menatap tajam gadis itu. "Ke sini kau wanita sialan," teriak Sasdia.
"Maaf Nona, kami melihatnya datang dengan keadaan marah-marah. Sebab itu kami mengikutinya sampai ke atas." Seorang wanita yang berprofesi sebagai resepsionis itu menjelaskan kepada Cara.
__ADS_1
Cara mengangguk mengerti, setelahnya gadis itu menatap datar Sasdia. "Ada apa Anda datang membuat keributan ke sini Nyonya Gerisam?" tanya Cara.
"Kau harus bertanggung jawab, putriku kembali di rawat di rumah sakit karena ulahmu bedebah. Kau benar-benar wanita sialan, lepaskan aku. Biar aku beri pelajaran wanita murahan itu." Sasdia memberontak mencoba melepaskan diri.
"Tenanglah Nyonya, jagalah perkataan Anda kepada Nona Cara," tegur Ratna.
"Cuih … aku tidak sudi menjaga mulut untuk anak gembel ini, lepaskan aku." Sasdia terus memberontak.
"Astaga, aku yakin Tuan Gerisam tidak tahu kau datang ke sini bukan? Bagaimana kalau seandainya dia tahu?" ejek Cara.
Sasdia menyorot tajam Cara, isyarat akan kemarahan. "Kau benar-benar wanita ular, tanggung jawab kepada anakku bangsat," murka Sasdia.
"Kalau bukan karena tingkah bodoh anakmu itu, aku tidak akan melakukan apa-apa kepadanya. Lebih baik kau pergi, atau kau ingin menunggu suamimu dulu?" Cara menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum sinis.
"Tunggulah, dia sudah dijalan," sambung Cara.
Cara mendekat ke arah Sasdia yang sedang menyorotnya tajam. "Jangan pernah kau singgung mendiang bundaku lagi, bukankah ini semua menjalar sampai seperti ini berawal dari ulahmu? Kau yang membawa bundaku masuk ke dalam kehidupanmu yang tidak jelas itu, tetapi … kau malah membuat hidupnya sengsara. Kau memang brengsek, jadi pantas saja sekarang hidupmu hancur seperti ini bukan?" bisik Cara tajam.
"Kau jangan salah, ini belum berakhir. Aku … masih belum puas. Bagiku ini baru tiga puluh persen, berarti pembalasanku masih ada sekitar tujuh puluh persen lagi. Jadi … kau nikmati saja semua itu," sambung Cara.
"Wanita sialan! Seharusnya aku membunuhmu waktu itu, kau dan ibumu memang tidak pantas masuk ke dalam keluarga Gerisam. Kau anak sialan!" teriak Sasdia marah.
"Sasdia!" Torih tiba-tiba datang dan membentak Sadia. Laki-laki itu mendekat dan menatap tajam sang istri.
"Akhirnya Anda datang juga Tuan Gerisam, aku salut dengan istri Anda yang begitu berani membuat keonaran di VT Group. Bagaimana jika Tuan Vetro tahu ini?" Cara tersenyum licik menatap Torih yang sudah memucat.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" desis Torih kepada Sasdia.
"Aku tidak terima anak kita diperlakukan seperti itu Mas, dia harus bertanggung jawab," protes Sasdia.
"Diamlah," geram Torih.
"Ya ampun, bukankah beberapa hari yang lalu Anda mengatakan akan memberi istri dan anak Anda pelajaran Tuan Gerisam? Kenapa hal seperti ini masih terjadi? Bahkan ini semakin gawat, tadi pagi anakmu datang ke sini membuat keributan. Sekarang induknya yang datang ke sini mengamuk tidak jelas. Aku benar-benar bingung, seperti apa Anda memberi mereka pelajaran sampai mereka masih berani menentang perkataan Anda?" Cara tersenyum mengejek ke arah Torih.
"Tidak usah banyak omong kau sialan," desis Sasdia.
"Diam Sasa!" bentak Torih.
"Begini Tuan dan Nyonya Gerisam, masalah anak kalian tadi pagi itu bukan salahku. Jika saja dia tidak bodoh dengan mencari masalah denganku, hal tadi tidak akan terjadi. Dia sudah melampaui batasku. Ingatlah, aku juga punya batas. Jika kalian melampaui batas itu, aku tidak akan segan-segan lagi. Jangan kalian pikir aku tidak berani bermain fisik," papar Cara dingin.
Torih dan Sasdia terkejut, sepertinya kalimat Cara tidaklah main-main. "Mencoba mencari perhatian kekasihku, heh? Dia masih beruntung karena aku yang memberinya pelajaran, bagaimana kalau Tuan Vetro? Aku jamin anakmu hanya kembali nama," sinis Cara.
Sasdia terkesiap, membayangkan itu membuatnya begitu takut. "Kau ingin aku bertanggung jawab? Baiklah, tidak masalah. Ratna, tolong beri aku uang." Cara menatap Ratna yang bergegas ke arah mejanya.
"Ini Nona." Ratna memberikan amplop yang lumayan tebal kepada Cara.
Cara meraih amplop itu kemudian mengambil isinya, Cara menatap dingin sepasang paruh baya dihadapannya. Kemudian gadis itu melemparkan seonggok uang ratusan ribu kepada Torih dan Sasdia yang sudah mengepalkan tangan merasa begitu terhina. "Silakan diambil dan segeralah pulang, aku mengerti kalau perusahaan kalian masih tidak baik. Jadi kalian sengaja melakukan ini untuk mendapat biaya tambahan dariku bukan? Untungnya aku adalah orang yang baik hati, tapi … setelah ini kalian silakan pergi. Aku muak melihat wajah kalian." Cara berbalik dan kembali ke dalam ruangannya.
...*****...
Seorang laki-laki tampan sedang bercumbu mesra dengan tiga orang wanita di sebuah meja klub malam. Sepertinya dia tidak menyia-nyiakan wajah tampannya itu. "Ahh … Tuan," salah satu dari tiga wanita itu mengerang kesenangan.
__ADS_1
Tiga wanita itu saling berebut kenikmatan yang diberikan oleh laki-laki tampan itu. Bahkan baju para wanita itu sudah tidak terpasang sebagaimana mestinya. Beberapa gunung indah sudah terpampang nyata, terlihat sedikit temaram karena keadaan klub yang cukup gelap. "Yah … di sana," erang seorang wanita lagi, bersahutan dengan suara musik yang memekakkan telinga.
"Ouhh f***!" Salah satu dari wanita itu berteriak kesenangan saat lidah laki-laki itu sedang bermain manja disalah satu ladang s***nya.