Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
169. Semakin Saja (lb)


__ADS_3

Jesy terus mengamuk tanpa memikirkan rasa sakit di perut bawahnya. Sasdia panik, sedangkan Torih yang masih memiliki sedikit kesadaran, segera berlari memanggil dokter. "Sayang, tenanglah," isak Sasdia.


"Mana anakku, berikan anakku!" teriak Jesy kehilangan akal.


Beberapa lama dalam kondisi seperti itu, sampai pada akhirnya dokter memberikan obat penenang untuk Jesy. "Bagaimana, Dok?" Sasdia bertanya sambil menangis kecil.


"Untung dilaporkan lebih cepat, luka operasinya mengeluarkan darah. Ada sedikit sobekan di area luar karena ketegangan saat Nona Jesy mengamuk. Tapi kami sudah menanganinya, kami harap nanti setelah dia bangun, coba untuk mengalihkan topik. Sepertinya pasien belum bisa menerima kematian bayinya. Jika dia kembali berteriak seperti tadi, kami takut jahitannya terbuka dan itu bisa membuat keadaan semakin berbahaya," jelas dokter.


Sasdia semakin terisak mendengar perkataan dokter perempuan itu. Torih menahan tubuh Sasdia yang nampak tidak bisa menahan bobot tubuhnya. "Anak kita, Mas," lirih Sasdia.


"Kami turut prihatin, kami sarankan Nona Jesy untuk konsul ke psikiater. Rasa tidak terima yang terlalu besar di dalam hatinya membuat jiwanya terguncang," ucap dokter lagi.


Torih dan Sasdia terdiam mendengar perkataan dokter. Psikiater? Uang dari mana? Itulah isi pikiran sepasang suami istri itu. "Terima kasih, Dok," balas Torih pelan.


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, kami permisi."


...*****...


"Kak ….” panggil Cara.


"Kenapa, Sayang?" tanya Geo.

__ADS_1


"Aku ingin memakan bakso beranak," celetuk Cara.


Kening Geo berkerut mendengar perkataan Cara. "Bakso beranak? Jadi … bakso juga ada yang beranak? Kapan dia hamil?" ucap Geo bingung.


Cara yang mendengar itu menatap malas ke arah Geo. "Ck, sudahlah … sekarang aku ingin makan bakso beranak. Ayo pesan," tutur Cara.


Meski bingung, Geo tetap mencoba mengabulkan permintaan sang istri. Laki-laki itu menghubungi nomor kontak Juan untuk bertanya. "Halo," sahut Juan di seberang telepon.


"Kau tahu bakso beranak?" tanya Geo tanpa basa-basi.


"Tahu, kenapa? Kau ingin bakso beranak?" ucap Alex.


"Ya ada, kau saja yang tidak tahu. Kau itu tahunya hanya Cara dan kertas. Sudah itu saja," ejek Alex.


"Ck, pesankan itu. Cepat sebelum Cara mengamuk," titah Geo.


"Kak …." Geo menoleh saat mendengar teriakan Cara yang memanggil namanya. Laki-laki membalikkan badannya dan terkejut saat sudah tidak mendapati sosok sang istri di sana.


"Kapan dia pergi? Kenapa aku tidak tahu," ucap Geo. "Baby, di mana?" sambung Geo sedikit berteriak.


"Didekat aquarium, cepat ke sini," sahut Cara.

__ADS_1


Geo mengayunkan langkahnya ke arah sumber suara. Laki-laki itu menatap tubuh sang istri dari kejauhan. Senyum tipis hadir di wajah tampan itu. "Ah, aku tidak sabar dengan kehadiran si kecil itu," gumam Geo senang.


Geo semakin mendekat dan memeluk tubuh sang istri dari belakang. Cara menoleh dan tersenyum manis kepada suaminya. "Sudah dipesan baksonya?" tanya Cara.


"Sudah, Mommy," balas Geo.


"Lihat itu, Kak. Ternyata dia sudah semakin besar, semakin lucu juga." Cara menunjuk seekor ikan yang berada di dalam akuarium itu.


"Iya, Sayang. Tapi belum sebesar dirimu," bisik Geo nakal.


Cara menoleh dan mencubit pelan pipi kanan suaminya. "Kamu semakin mesum," tutur Cara.


"Mesum kepada istri mah tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita ke kamar, Sayang?" ajak Geo.


"Aku ingin melihat ikan dulu," sahut Cara.


"Iya, melihat ikan. Ikan aku lebih besar," bisik Geo lagi.


Cara menoleh dan menatap Geo dengan pandangan memicing. "Daddy kamu semakin ganas saja rasanya, Sayang. Setiap hari bisa sampai beberapa kali," ujar Cara.


Geo terbahak mendengar perkataan Cara. "Kan bagus, Sayang. Kamu kan tidak lama lagi akan melahirkan. Jadi, bagusnya baby kita itu sering aku kunjungi ke dalam. Supaya nanti dia tahu jalan keluarnya," goda Geo.

__ADS_1


__ADS_2