Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
141. Salah Apa? (lb)


__ADS_3

Cara menggosok rambut Geo menggunakan handuk. Wanita itu sedang membantu mengeringkan rambut sang suami. Dalam mansion Rical, memang tersedia kamar khusus untuk Geo sedari awal. Dalam kamar itulah Cara dan Geo saat ini berada.


"Kira-kira Kak Rical akan melakukan apa kepada Jesy, Kak?" tanya Cara.


"Rical laki-laki yang humbel, tetapi sangat pantang diganggu. Di antara kami berempat, dia adalah laki-laki yang paling susah mengontrol emosi jika sudah terpancing. Kalau bukan karena itu, dia tidak akan melakukan kesalahan fatal kala itu," jelas Geo.


"Apa mungkin Kak Rical akan bermain fisik?" tanya Cara lagi.


"Iya, dia memang tipe laki-laki yang banyak bicara. Tapi kalau sedang emosi, dia tidak suka banyak omong," sahut Geo.


"Kak Rical tidak akan membuat Jesy mati kan?" celetuk Cara.


Geo yang sedang duduk di bawah ranjang mendongak menatap wajah sang istri. "Kenapa, kamu mengkhawatirkan wanita itu?" balas Geo bertanya.


"Tidak, aku hanya tidak ingin hidup menderitanya terlalu singkat. Belum sebanding dengan yang dirasakan bunda dan juga aku," jelas Cara.

__ADS_1


"Nanti aku katakan kepadanya, jika tidak wanita itu bisa saja mati di tangan Rical. Meski dia seperti itu, Rical sangat ganas," ungkap Geo.


"Aku ingin melihat keadaan Helen, dia pasti sangat terkejut dengan kejadian itu," ucap Cara.


"Ayo kita ke kamar Rical," ajak Geo. Sepasang suami istri itu berjalan ke luar kamar. Jarak antara kamar Rical dan kamar Geo tidaklah jauh. Kamar mereka masih berada di lantai yang sama.


Langkah kaki Cara dan Geo terhenti di depan sebuah pintu. Cklek …. Tanpa mengetuk, Geo membuka pintu kamar itu begitu saja. Pemandangan pertama yang mereka lihat adalah Rical yang sedang menenangkan Helen. Melihat itu Cara segera mendekat, bisa dia lihat Helen masih tampak bergetar ketakutan.


"Kak, bagaimana?" tanya Cara.


Cara menatap iba kepada Helen yang nampak masih begitu pucat. "Bisa kamu ajak dia berbicara, Ra? Mana tahu dengan kamu dia bisa lebih tenang," sambung Rical.


Cara mengangguk sambil mendekat ke arah Helen. Rical melepaskan pelukannya dan memberi tempat untuk Cara. "Aku akan ke bawah dulu," desis Rical tampak begitu marah.


"Kontrol emosimu, Cara masih ingin dia hidup," pesan Geo.

__ADS_1


"Jika bukan karena Cara, aku jamin hari ini adalah hari terakhirnya," desis Rical. Setelah mengucapkan itu, Rical berjalan keluar dari ruangan itu.


Geo yang melihat kepergian Rical menoleh ke arah sang istri. "Sayang, aku ke bawah. Kalau kamu memang menginginkan wanita itu tetap hidup, Rical perlu dipantau. Meski sudah diperingati, dia suka lepas kontrol," papar Geo.


Cara menoleh dan mengangguk singkat. "Iya, Kak," balas Cara.


Setelah kepergian Geo, Cara menatap wajah pucat Helen. Mata gadis itu menatap kosong sesuatu di depannya. "Helen," panggil Cara lembut.


Namun, panggilan dari Cara tidak mendapat tanggapan. Hal itu membuat Cara menghela napas berat. "Kamu ingin berbaring? Istirahatlah," ucap Cara lagi.


"Aku salah apa, Kak? Kenapa dia seperti begitu membenci aku?" Akhirnya suara Helen keluar juga. Suara pelan yang begitu lirih terdengar di telinga Cara.


Cara mengusap punggung Helen pelan. "Tidak ada, hanya dia saja yang sedang bermasalah," balas Cara lembut.


"Tapi waktu itu dia juga mengumpatiku, sekarang dia ingin membunuhku?" Suara Helen bergetar ketakutan.

__ADS_1


"Tenanglah, kamu tidak salah. Jesy memang rada gila, tidak usah dipikirkan. Sekarang lebih baik kamu tidur, istrihat," tutur Cara.


__ADS_2