Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
207. Dikurung (lb)


__ADS_3

Cara menghela napas pelan mendengar perkataan Geo. Wanita itu menyentuh punggung tangan kekar Geo dan mengusapnya pelan. "Aku akan baik-baik saja, Daddy," tutur Cara lembut.


Geo yang melihat itu ikut menghela napas pelan. "Aku berharap begitu, Sayang," balas Geo.


"Sudahlah, tidak usah main sayang sayangan. Meski aku sudah tidak jomblo lagi, aku tetap merasa iri. Tunanganku tidak di sini. Jadi tidak ada yang akan aku ajak untuk main sayang sayangan. Tidak mungkin juga aku mengambil satu Dokter cantik di sini," celetuk Alex.


Mendengar itu Cara dan Siera terkekeh kecil. Setelahnya Cara menatap wajah malas Alex dengan pandangan mengejek. "Silakan saja Kakak ambil satu Dokter. Biar Lamira mengamuk ke sini," ucap Cara.


Alex menghela napas panjang mengingat tunangan ciliknya itu. "Aku tidak ingin menambah lagi. Satu saja aku sudah pusing," ujar Alex.


Kalimat Alex kali ini bukan hanya berhasil membuat Cara dan Siera tertawa. Namun, dua laki-laki es pun ikut terkekeh kecil menanggapi perkataan Juan. "Lamira yang paling bandel ya, Kak," tutur Cara.


"Bukan bandel lagi, tapi liar," sahut Alex.


Cara kembali tertawa mendengar kalimat Alex. "Maklum saja, Kak. Dia kan masih remaja, masih dalam proses pematangan," tutur Cara.


"Salah kau sendiri, kenapa mencari pasangan anak remaja," ejek Farel bersuara.

__ADS_1


Alex yang mendengar itu hanya mampu menatap sinis ke arah Farel. "Tidak usah berlagak karena kau mendapat yang lebih matang. Besok juga dia akan matang," ketus Alex kesal.


...*****...


"Ini ditaruh di mana, Ma?" tanya Lamira kepada Tiara.


"Taruh di sana saja, Mor. Nanti Mama yang membagi tempatnya," sahut Tiara.


"Baiklah," balas Lamira.


Tiara membalikkan badannya dan tersenyum menatap Helen yang nampak begitu serius dengan masakannya. "Apa sudah matang, Sy?" tanya Tiara kepada Helen.


Tiara tersenyum sambil mengangguk pelan. "Masih terkejar, mereka sudah dijalan. Sekitar beberapa menit lagi, mereka akan sampai," tutur Tiara.


"Benarkah, Ma? Wah aku sudah tidak sabar ingin bertemu Al," ucap Helen antusias.


"Selama ini kan kita bertemu dengan Al setiap hari, Kak," balas Lamira bingung.

__ADS_1


"Iya, tapi aku selalu saja merindukannya," terang Helen jujur.


Mendengar itu Lamira hanya bisa mengangguk pelan. Selama ini Helen memang begitu antusias setiap kali melihat Geno. Seperti yang sempat Helen katakan kepada mereka, Helen bahkan dengan berani meminta bayi seperti Geno kepada Rical. "Apa Kakak ingin menikah dengan Kak Rical?" tanya Lamira.


Helen menoleh mendengar pertanyaan dari Lamira. "Menikah? Entahlah, aku tidak tahu. Apa kita harus menikah dulu baru bisa memiliki anak?" balas Helen balik bertanya.


Lamira menoleh pelan ke arah Tiara yang nampak sudah mengulum bibir menahan tawa. Umur Helen memang lebih tua dari pada Lamira. Namun, jika ditanya pengetahuan tentang hal berbau kedewasaan. Sepertinya Lamira lebih tahu dari pada Helen yang begitu polos. "Mungkin Mama bisa menjawab dan menjelaskannya. Aku … masih kecil, jadi tidak paham," ucap Lamira pura-pura tidak mengerti.


Tiara menatap Lamira dengan senyum menggoda. "Tidak paham atau tidak mungkin tidak paham?" goda Tiara.


Lamira terkekeh kecil menanggapi perkataan Tiara. Gadis itu hanya bisa cengar-cengir sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Aku besar dan mandiri di Amerika, Ma. Memang aku cukup bebas, tapi syukurnya aku masih bisa memilah pergaulan. Aku cukup terkejut saat mengetahui jika Kak Helen begitu polos. Padahal dia berasal dari kota yang sangat bebas. Tapi, dia masih sangat polos. Aku curiga, kalau selama ini dia hanya dikurung di dalam rumah," cetus Lamira.


"Memang." Lamira dan Tiara terkejut saat mendengar suara berat seseorang. Mereka menoleh dan melihat keberadaan Rical di dekat meja makan.


"Helen memang dikurung, dia besar di dalam rumah tanpa keluar. Itu terjadi saat dia sudah tamat dari sekolah dasar. Dari umur sepuluh tahun, dia sudah hidup di dalam rumah. Sebab itu dia begitu suka berjalan-jalan," ungkap Rical.


Lamira dan Tiara sangat terkejut mendengar perkataan Rical. Lamira bahkan sudah ternganga sambil menatap Helen yang nampak masih sibuk dengan masakannya. "Jadi ada yang lebih parah, maksudku … kehidupan Kak Helen ternyata juga kelam," papar Lamira.

__ADS_1


"Sudah matang, Ma," ucap Helen membuyarkan suasana kelabu di ruangan itu.


Lamira yang menatap wajah ceria Helen, merasa begitu bersimpati dan kagum. 'Dia bahkan begitu ceria dengan kehidupannya yang seperti itu? Bagaimana dengan aku selama ini yang selalu memberontak tidak terima diatur dan dikurung. Dia sungguh tangguh,' batin Lamira.


__ADS_2