Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
228. Bergerak (lb)


__ADS_3

"Sayang." Cara dan Siera menoleh saat mendengar suara berat seseorang. Cara tersenyum saat melihat sosok sang suami mendekat ke arah mereka.


"Sudah selesai rapatnya, Dad?" tanya Cara.


"Sudah, Baby," balas Geo.


"Sie, kamu sudah sampai?" Suara laki-laki lain terdengar dari belakang tubuh Geo. Farel berjalan bersama Rical dan Alex di sampingnya.


"Katanya ingin menjemput?" rajuk Siera.


"Maaf ya, Sie. Tiba-tiba harus rapat," balas Farel merasa bersalah.


Mendengar itu Siera hanya tersenyum tipis. Dia bukan gadis egois yang akan marah hanya karena hal sepele seperti itu. "Iya, tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti," tutur Siera.


"Helen mana, Sie?" tanya Rical.


"Dia kan masih ada jadwal, Kak. Tadi aku hampir membawanya pulang, ternyata dia masih ada jadwal," jawab Siera.

__ADS_1


"Kau tidak tahu jadwal Helen?" tanya Alex tidak percaya.


"Jadwalku saja orang lain yang mengurus," sahut Rical santai.


Alex ternganga mendengar kalimat Rical yang nampak begitu santai. "Ck, tidak sweet sekali kau jadi kekasih. Pantas saja Helen akan lebih kagum kepada Reo yang datar dan kaku itu. Begitu begitu dia sweet dan romantis, tidak sepertimu," ejek Alex.


Mata Rical membola menatap kesal ke arah Alex. "Memangnya kau tahu jadwal Lamira?" tanya Rical kesal.


"Ya, tahulah. Hari ini dia sedang ada tugas presentasi dengan teman satu timnya. Jadi aku tidak perlu menjemputnya hari ini karena dia ingin bebas dengan teman-temannya dulu. Aku tidak melarang karena aku paham bagaimana ingin bebasnya gadis seumuran dia," cetus Alex.


Mendengar itu Cara dan Siera tersenyum, mereka memang tahu jika Juan adalah laki-laki yang pengertian. Meski jahil seperti itu, Alex termasuk laki-laki idaman untuk dijadikan sebagai kekasih atau pun suami. "Kakak memang best." Cara menjulurkan jari jempolnya kepada Alex.


"Sudahlah, ayo kita makan siang, Baby. Kamu belum minum obat," tutur Geo.


"Sudah kok, Dad. Baru saja selesai, tadi perut aku tiba-tiba kosong dan ingin diisi. Mungkin karena Geno semakin kuat menyusu, jadi perut aku sering kali terasa kosong," balas Cara.


"Begitukah? Maaf aku telat, siapa yang menyiapkan makanannya tadi?" tanya Geo.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Sayang. Di sini kan ramai, Dad. Semua orang bisa aku mintai tolong," ujar Cara.


Geo mengangguk menanggapi perkataan Cara. "Kalau begitu, kamu ingin apa? Biar aku siapkan, kata orang memang perut ibu menyusui akan senantiasa kosong saat bayi sudah menyusu. Jadi aku perlu siapkan makanan pengganjal untuk kamu. Apa perlu untuk membuat list?" papar Geo.


Cara tertawa kecil menanggapi perkataan Geo. "Boleh, Sayang. Daddy paling tahu makanan apa saja yang saat ini boleh aku makan. Bahkan lebih tahu dari pada aku," celetuk Cara.


"Biarlah, kita yang ada di sini ini memang hanya patung. Patung yang bisa bernapas, bisa mendengar, bisa melihat, tapi tidak dianggap. Menyedihkan sekali," sindir Rical dengan dramanya.


Alex dan Siera tertawa mendengar perkataan Rical yang sedang duduk dengan tampang santainya. Sedangkan Cara sudah menoleh dan ikut terkikik geli melihat wajah Rical. "Tidak apa-apa, silakan dilanjutkan saja Tuan dan Nyonya Vetro yang terhormat. Kami adalah perekam paling aktif di sini," celetuk Rical lagi.


Geo yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas. "Keluar kau," usir Geo.


"Nah, seperti ini. Dia malah mengusirku," ucap Rical malas.


"Lebih baik kalian berbicara sekarang, minta izin dan jelaskan. Kita akan segera bergerak," cetus Geo.


Mendengar kalimat itu tiba-tiba wajah tiga laki-laki itu berubah serius. Cara dan Siera nampak bingung tidak paham maksud perkataan itu. "Bergerak ke mana, Dad? Ada apa?" tanya Cara.

__ADS_1


Geo menoleh ke arah sang istri kemudian laki-laki itu tersenyum tipis. "Nanti aku jelaskan ya, Sayang. Sekarang ayo kita ke kamar dulu, Geno sudah tidur jadi kamu juga harus segera istirahat. Apa lagi kamu sudah selesai minum obat," papar Geo.


__ADS_2