Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
192. Nama (lb)


__ADS_3

Setelah membisikkan kalimat itu, Geo mengangkat tubuhnya dan membalikkan badannya kembali. Laki-laki itu berjalan ke arah pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seluruh punghuni ruangan itu hanya bisa menatap kepergian Geo dengan pandangan iba. Sifat Geo yang semakin dingin membuat mereka merasa asing.


"Kak," panggil Siera.


Farel menunduk dan menatap wajah Siera yang nampak sudah bersedih. Farel mengerti jika sang kekasih nampaknya ikut terhanyut dengan wajah iba Geo. "Cara akan bangun kan, Kak?" tanya Siera pelan.


Farel terdiam mendengar pertanyaan Siera. Laki-laki itu menatap tubuh Cara yang masih terbaring di atas ranjang dengan posisi yang sama. "Pasti, Sie. Cara perempuan yang kuat." Farel menyahut dengan pandangan yang masih fokus pada wajah Cara.


"Ekhm … Tante, bisa bantu memindahkan junior? Aku ingin sekali menggendongnya." Suara Alex mengambil alih perhatian.


Tiara menoleh ke arah Alex dan tersenyum sedikit kaku. Wanita paruh baya itu mendekat dan dengan perlahan memindahkan tubuh kecil putra Geo dan Cara ke dalam gendongan Alex. "Hai si tampan yang belum punya nama," sapa Alex.


Rical mendekat dan menatap wajah lucu bayi kecil itu gemas. "Daddymu itu keras ingin memberimu nama saat Mommy kamu bangun. Maka doakan supaya Mommymu cepat bangun. Uncle dan yang lain menunggu kesadarannya," ucap Rical.


"Hei, dia memanggilku Uncle," protes Alex.


"Dia juga memanggilku Uncle," balas Rical tidak mau kalah.


Sedangkan Farel yang melihat itu hanya bisa menghela napas malas. "Jangan mulai lagi, nanti junior menangis lagi karena keributan tidak penting kalian itu. Kalian itu sama-sama Uncle, jadi tidak usah bertengkar," lerai Farel malas.


Siera terkekeh kecil melihat wajah kesal dua laki-laki kekar di dekatnya. Begitu pula dengan kedua orang tua Siera yang sudah menahan tawa. "Kira-kira nama yang bagus untuk dia apa, ya?" celetuk Rical.


"Sepertinya Arjuna bagus," papar Alex.

__ADS_1


Rical melotot mendengar perkataan Alex. "Yang benar saja kau, Arjuna? Kau ini, itu nama pasaran sekali," protes Rical tidak setuju.


Alex menatap kesal ke arah Rical. "Kalau begitu apa?" ketus Alex.


"Hem, sepertinya Hercules mantap, tuh." Rical bersuara sambil tersenyum lebar.


Sedangkan Alex hanya bisa mendengkus menatap wajah menyebalkan milik Rical. "Hercules … Hercules, Hercules bapak kau!" cetus Alex kesal.


"Lah kenapa? Kan bagus itu, kuat." Rical mengangkat kedua tangannya memperlihatkan otot lengannya.


Alex memutar bola matanya malas melihat pergerakan Rical. "Kuat sih kuat, tapi tidak itu juga. Kau ini memberi nama yang bagus sedikit," ejek Alex.


"Kau pikir nama yang kau berikan tadi itu bagus?" sahut Rical kesal.


"Kalau begitu Meteor, bagus kan?" celetuk Rical.


"Kenapa tidak Bom saja sekalian?" papar Alex kesal.


"Jangan salah kau, Meteor nama yang unik," balas Rical.


"Ta …."


"Diam!" Farel dengan segera menyela perdebatan tidak berfaedah dua laki-laki itu. Alex dan Rical benar-benar terdiam sambil saling lirik tajam.

__ADS_1


"Berbusa mulut kalian untuk berdebat, tetap tidak akan ada gunanya. Geo pasti sudah mempersiapkan nama yang lebih manusiawi dari pada nama-nama aneh yang kalian ucapkan itu," sambung Farel.


...*****...


"Bagaiamana dengan Jesy, Kak?" tanya Helen.


Rical menoleh menatap Helen dengan pandangan terkejut. "Kenapa bertanya tentang dia?" tanya Rical.


"Tidak, aku hanya kasihan," tutur Helen.


Rical menghela napas pelan mendengar kalimat Helen. "Kamu tidak usah memikirkan dia, aku sudah mengirim perawat sesuai dengan permintaan kamu. Berarti sudah bukan? Lagi pula dia seperti itu bukan karena aku, itu semua salah dia sendiri," jelas Rical malas membahas masalah Jesy.


"Iya, tapi tetap saja … aku merasa bersalah, aku hadir di atara hubungan pernikahan kalian." Helen menunduk merasa bersalah saat mengetahui hal penting itu.


Rical kembali menghela napas mendengar kalimat pelan Helen. "Aku yang salah tidak memberi tahumu. Bukan kau, lagi pula sedari awal aku memang tidak menginginkan pernikahan itu. Sudahlah, sekarang tidak usah membahasnya lagi," kata Rical.


"Tapi aku kepikiran," sahut Helen.


"Lupakan saja, sekarang kau ingin ke rumah sakit kan? Ayo, yang lain pasti juga sudah dijalan," ajak Rical.


"Hari ini siapa yang akan tidur menemani Kak Geo di rumah sakit?" tanya Helen.


"Alex dan Lamira," sahut Rical.

__ADS_1


__ADS_2