
Bibir Cara melengkung membentuk senyum tipis saat melihat Geo sedang mencium pelan pipi bayi mereka. Sedangkan Geo saat ini sudah meletakkan tubuh bayi kecil itu di dalam ranjang khusus milik Geno. Merasa putranya sudah tertidur nyaman, Geo membalikkan badannya dan menatap sang istri yang juga sedang menatapnya.
Laki-laki itu mendekat dan merangkak di atas ranjang. "Kenapa, Sayang?" tanya Geo lembut.
Cara menggeleng pelan sambil tersenyum tipis ke arah Geo. "Tidak, aku hanya merasa begitu senang saat ini. Akhirnya aku bisa merasakan sebuah keluarga lengkap seperti yang aku inginkan sebelumnya. Meski tanpa kehadiran Bunda di sini, aku … sudah merasakan kebahagiaan itu. Aku senang dengan kehadiran Geno di hidup kita. Aku …."
"Sttt …." Kalimat Cara terhenti saat jari telunjuk Geo berada di depan mulutnya. Geo tersenyum menatap wajah Cara yang saat ini sudah memerah nampak menahan tangis. Meski Geo tahu, jika itu adalah tangis kebahagiaan. Tetap saja laki-laki itu merasa tidak suka melihat mata sang istri berembun apa lagi sampai mengeluarkan air mata.
"Jangan menangis, Sayang. Meski aku tahu kamu bahagia, tapi … please, don't cry, Baby," bisik Geo pelan.
__ADS_1
Bibir Cara bergetar mendengar perkataan lembut dari sang suami. Bukannya semakin ke dalam, air mata Cara malah semakin memberontak ingin keluar. Perlakuan manis nan begitu lembut yang selalu dia terima dari suaminya. Tentu saja mampu membuat wanita itu merasa begitu terharu.
"Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa kamu, Daddy. Aku tidak tahu dan aku tidak ingin membayangkan itu. Cukup dengan Bunda yang pergi dari kehidupan aku. Aku mohon jangan pernah meninggalkan aku, aku mohon. Jangan buat aku merasakan kehilangan untuk kedua kalinya, aku tidak akan kuat. Aku …."
Cup …. Kalimat Cara terhenti saat Geo memilih membungkam bibir sang istri dengan sebuah kecupan lembut. Hanya kecupan, tidak lebih. Geo menatap wajah istrinya dengan pandangan begitu lembut yang mampu menghanyutkan Cara. "Aku yang minta tolong untuk kamu tidak berucap seperti itu lagi. Sekarang aku bertanya … apa alasan aku untuk meninggalkan wanita yang bahkan sudah berhasil membuat aku gila? Coba katakan, Baby," bisik Geo lembut.
Napas Cara tercekat mendengar ungkapan Geo. Cara jelas melihat tatapan tulus dari bola mata Geo untuknya. Tidak ada raut kebohongan dari tatapan itu dan itu membuat Cara merasa begitu terharu. "Setelah kehadiran Geno sekarang, namaku semakin dipukul mundur dari tahta itu. Di mana sekarang Geno juga menjadi prioritas utama bagiku. Jadi, kamu jangan berbicara seperti itu lagi, Sayang. Aku sedih mendengarnya," tambah Geo.
Tes …. Air mata yang sedari tadi ditahannya, tumpah sudah. Wanita itu saat ini sudah terisak kecil, menahan suaranya karena takut membangunkan Geno. Geo yang tidak suka melihat itu semua, hanya bisa menghela napas pelan. Laki-laki itu menarik tubuh sang istri dan memeluk tubuh bergetar itu erat.
__ADS_1
"Lepaskan semuanya hari ini, Baby. Setelah ini, aku tidak akan memberikan kamu izin untuk menangis lagi. Aku tidak suka itu," ungkap Geo.
"Hiks … aku kan ingin menangis, masa hiks … harus meminta izin dulu." Cara berbicara dengan isakan terus menyela di dalam kalimatnya.
Sedangkan Geo yang mendengar itu malah terkekeh kecil. Merasa lucu dan gemas kepada istri cantiknya itu. "Air mata kamu itu mahal, Baby. Kamu adalah wanita yang dijaga oleh ribuan laki-laki pilihan di setiap belahan dunia. Nama kamu adalah tahta tertinggi di dalam Death. Kamu tahu seberapa besar nama Death di dunia ini, bukan? Masa iya, ratu Death menangis seperti ini," papar Geo sambil menggoda sang istri.
Mendengar perkataan Geo membuat tangis Cara terhenti. Wanita itu mendongak dan menatap wajah tampan suaminya yang saat ini sedang tersenyum. "Aku ratu?" tanya Cara yang sedang berada di dalam mode polosnya.
"Iya, Sayang," balas Geo lembut.
__ADS_1