Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
166. Gugur (lb)


__ADS_3

"Mana gadis kurang ajar itu? Biar aku beri dia pelajaran. Berani-beraninya dia mendorong anakku!"


Rical yang mendengar keributan di luar ruangan Helen, segera bergerak. Laki-laki itu menatap dingin wajah Sasdia yang sudah memerah karena marah. Tubuh wanita paruh baya itu ditahan oleh para pengawal Rical. Sedangkan Torih, terus mencoba menenangkan amarah sang istri. "Bawa ke sini perempuan brengsek itu, biar aku bunuh dia. Dia sudah membunuh cucuku!" teriak Sasdia kepada Rical.


"Jaga mulutmu, sebelum aku buat kau tidak mampu lagi untuk berbicara," desis Rical.


"Tenanglah, Sasa. Ini di rumah sakit, kita bisa diusir," bisik Torih.


"Tidak bisa, dia harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Aku akan menuntut dia, anakku terbaring lemah hampir meregang nyawa. Sedangkan cucuku memilih pergi, bahkan dia belum sempat menghirup udara," murka Sasdia.


"Pergi selagi emosiku masih bisa aku tahan," papar Rical dingin.

__ADS_1


"Kenapa kau membela dia Rical, dia sudah membunuh anakmu!" teriak Sasdia.


"Karena ini permintaanmu, maka jangan menyesal. Sebentar lagi, ruangan anakmu itu juga akan segera dikawal, polisi segera sampai. Setelah anakmu sadar, dia akan mendekam di penjara," desis Rical.


Mata Sasdia dan Torih melotot mendengar perkataan Rical. "Apa maksud kamu Rical? Jesy korban di sini, kenapa kau malah membuatnya sebagai tersangka?" ucap Sasdia marah.


Rical tidak menyahut, laki-laki itu memainkan tablet yang sedari tadi digenggamnya. Setelahnya laki-laki itu memperlihatkan sebuah video kepada Sasdia dan Torih. Mata Sasdia dan Torih membola melihat kejadian yang sebenarnya. Wajah sepasang paruh baya itu memucat saat merasa keberadaan putri mereka sedang terancam.


Glek …. Sasdia menelan salivanya susah payah. Sedangkan Torih sudah mengusap wajahnya merasa begitu frustasi. "Padahal aku sudah memperingatkan sedari dulu, aku memang terlalu baik kepada kalian. Sehingga membuat kalian merasa bisa menginjakku? Mulai saat ini, aku talak Jesyta Gerisam, dia bukan lagi istri sirihku. Silakan kalian bereskan perlengkapan kalian dari mansionku. Ah … tidak perlu, aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan barang kalian ke sini. Manusia seperti kalian, tidak pantas untuk menginjak wilayahku lagi."


Setelah mengucapkan itu, Rical kembali masuk ke dalam ruangan inap Helen. Sedangkan tubuh Sasdia sudah merosot ke lantai. Kakinya tidak mampu menopang beban berat itu. "Mas," panggil Torih pelan.

__ADS_1


"Sepertinya kita harus segera mencari tempat tinggal baru, Sa. Setelah Jesy sembuh nanti, dia perlu istirahat," tutur Torih.


"Apa kamu tidak dengar perkataan Rical tadi, Mas? Jika Jesy sembuh nanti, dia akan dibawa polisi, Mas," raung Sasdia lepas kendali.


Napas Torih tercekat, dia baru menyadari hal itu. "Anak kita, Mas!" teriak Sasdia.


"Maaf, tolong jangan membuat keributan di sini, Bu. Kami mengerti dengan keadaan keluarga Ibu. Tapi mohon untuk menjaga kebisingan, Bu," tegur seorang perawat.


Sasdia menahan isak tangisnya, Torih membantu sang istri untuk berdiri dan berjalan menuju ruangan inap Jesy. "Kita coba cari solusinya, Sa. Nanti setelah Jesy bangun, kita coba bernegosiasi lagi dengan Tuan Carves," ucap Torih.


Langkah kaki Sasdia dan Torih terhenti saat melihat keberadaan Cara dan beberapa sosok lainnya menuju ke arah mereka. Bisa mereka tebak, tiga pasang manusia itu berniat menjenguk Helen. Sasdia melepaskan rangkulan Torih dan bergerak cepat ke arah Cara. Namun, anggota Death yang memang mengawal langkah sang inti, segera menghadang tubuh Sasdia.

__ADS_1


"Cara, tolong bantu kami. Kali ini saja, ini untuk yang terakhir kalinya. Aku mohon, tolong kami. Jesy sudah kehilangan anaknya, apa kamu tega membiarkan dia hidup di dalam penjara?"


__ADS_2