
"Kenapa, Ra? Aku tadi sedang di dalam kamar mandi," ucap Rical.
Cara celingukan seperti sedang mencari sesuatu. "Kamu mencari Helen? Dia sedang berada di gedung perkumpulan. Dia akan segera ujian," papar Rical.
"Benarkah? Wah … aku ikut bahagia," balas Cara senang.
"Jadi?" tanya Rical bingung.
"Ah iya, apa Kakak sudah mengirim undangan untuk acara lusa?" tanya Cara.
Rical menggeleng pelan. "Belum, tapi undangannya sudah selesai. Tinggal diedarkan, kenapa?" pungkas Rical.
Cara yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya sambil menunduk lesu. Hal itu membuat kening Rical berkerut tidak mengerti. Rical menatap Geo dengan pandangan bertanya. "Ada apa, Ra?" tanya Rical bingung.
"Katakan saja, Sayang," cetus Geo.
Cara mendongak dan menatap wajah Erick dengan mata membujuk. "Aku ingin acara Kak Rical menggunakan dress code," celetuk Cara.
__ADS_1
Rical masih mengernyit belum mengerti. "Maksud kamu?" tanya Rical.
"Ganti undangannya, istriku ingin dress code acaramu berwarna biru muda," ungkap Geo datar.
Rical menoleh ke arah Cara yang masih menunduk. "Benar begitu, Ra?" tanya Rical.
Cara mengangguk pelan, melihat itu Rical terkekeh kecil. 'Ibu hamil begini betul, ya. Kadang sangar, kadang lembut, kadang polos, kadang lesu, entahlah. Aku tidak mengerti,' batin Rical bingung.
"Kenapa wajah kamu malah seperti itu? Kenapa tidak katakan saja langsung?" papar Rical.
"Tidak apa-apa, Sayang. Erick tidak keberatan," tutur Geo menenangkan.
"Benar, Ra. Aku tidak apa-apa, akan aku pesan sesuai keinginan kamu. Biru muda bukan?" tanya Rical.
Cara kembali mengangguk kecil. "Tapi, kasihan Kak Rical. Jadinya rugi diundangan yang pertama," kata Cara.
"Akan aku bayar kerugiannya." Geo menoleh ke arah Rical yang nampak terkejut.
__ADS_1
"Apa-apaan, tidak usah. Jangan begitu, Ra. Aku tidak masalah, tidak usah diganti. Aku senang jika kamu senang. Kamu adikku, dan ini adalah keinginan keponakanku. Perlihatkan wajah ceriamu, kalau tidak aku tidak akan mengganti dress codenya," ungkap Rical.
Cara yang mendengar itu segera mengankat kepalanya sambil tersenyum lebar ke arah Rical. "Terima kasih, Kak. Aku menjadi tidak sabar. Kak, ayo kita beli gaun biru mudanya," ucap Cara semangat.
Geo dan Rical menatap Cara dengan kening berkerut. Setelahnya Rical meringis sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. 'Benar kataku, bukan? Moodnya berganti dalam hitungan detik, ibu hamil memang mengerikan,' batin Rical meringis.
Sedangkan Jesy dan kedua orang tuanya sempat menguping pembicaraan mereka. Jesy mengepalkan tangannya merasa begitu marah. "Rical benar-benar bangsat, aku adalah istri sahnya. Aku sedang mengandung anaknya, tapi dia belum pernah melakukan apa-apa untuk anaknya. Sedangkan kepada Cara, dia malah seperti itu. Bersedia rugi besar demi perempuan itu," geram Jesy.
Sasdia dan Torih menoleh ke arah Jesy dengan tatapan sendu. "Sayang, ayo kita masuk kamar. Kamu sudah lama berdiri," ajak Sasdia.
"Sampai kapan akan terus seperti ini, Ma, Pa? Hati aku sakit sekali, melihat suami sendiri bermesraan dengan wanita lain. Melihat suami sendiri memanjakan wanita lain dengan alasan hamil. Sedangkan aku yang merupakan istri sahnya, tidak pernah mendapatkan hal itu. Aku juga butuh perhatian dari suami, anak aku ingin disapa, ingin dimanja, ingin diperhatikan. Kapan aku akan mendapatkan itu semua?" lirih Jesy.
Hormon ibu hamil membuat Jesy sering sekali merasa sakit dengan perlakuan Erick kepadanya. Sedangkan Sasdia dan Torih sudah menunduk mendengar keluhan putrinya. "Sabarlah, Sayang. Setelah anak kamu lahir, pasti Rical akan luluh karena melihat anaknya," tutur Sasdia menenangkan.
Jesy menoleh ke arah Sasdia dan Torih. "Apa dulu Papa juga luluh saat Cara lahir?"
Jleb …. Kalimat Jesy jelas menusuk jantung dan hati Torih secara tidak langsung. Laki-laki paruh baya itu terdiam mendengar kalimat putrinya. Begitu pula dengan Sasdia yang sudah terdiam tidak mampu berkata. "Tidak, ya? Apa Rical juga akan seperti itu kepadaku?" lrih Jesy.
__ADS_1