Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
22. Semakin Hangat (LB)


__ADS_3

Cara hanya bisa pasrah saat Reo membawa tubuhnya ke dalam kamar laki-laki itu. Geo membaringkan tubuhnya dengan posisi Cara berada di atasnya. "Sayang," panggil Geo.


Cara mendongak, mengangkat kepalanya di atas dada bidang Geo. "Kenapa Kak," tanya Cara.


"Tidak," sahut Geo.


Cara mengernyit bingung. "Kenapa sih?" Cara menatap wajah Geo penasaran.


"Tidak ada Sayang, aku hanya ingin memanggil," ucap Geo.


Cara mendengus malas, setelahnya gadis itu kembali merebahkan tubuhnya. Namun, kali ini gadis itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher kekar kekasihnya. 'Ya ampun, kenapa tiba-tiba pikiranku menjadi kotor begini,' batin Cara.


Gadis itu tiba-tiba saja ingin melakukan hal aneh kepada leher kekar Geo. Cara mantap leher putih itu dengan mata mulai berkabut. 'Astaga sadarlah, Cara.' Cara membatin sambil menggelengkan kepalanya.


Geo mengernyit saat meraskan Cara sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa Sayang?" tanya Geo.


Cara terkejut mendengar pertanyaan Geo. "Tidak Kak," sahut Cara. 'Hanya saja lehermu ini sedari tadi terus menggodaku, benar-benar menguji keimanan,' sambung Cara di dalam hati.


Tring … tring … tring …


Telepon genggam milik Geo berbunyi mengalihkan perhatian sepasang kekasih itu. Geo menegakkan tubuhnya dan mengambil ponsel itu. Geo melirik Cara pertanda meminta izin kepada gadis itu. "Death," ucap Geo singkat.


Geo berjalan ke arah balkon kamarnya, meninggalkan Cara yang sedang terbaring di atas kasur kingsize itu. Cara terus memperhatikan raut wajah Geo yang sedang berbicara melalui telepon. "Ya ampun, kenapa dia begitu sempurna. Wajahnya itu benar-benar tiada cela," gumam Cara memuji ketampanan Geo untuk kesekian kalinya.


Cara mengernyit kala melihat rahang Geo mulai mengeras. Sepertinya laki-laki itu sedang menahan emosi. Cara turun dari ranjang sambil mendekat dengan gerakan pelan ke arah Geo. Gadis itu takut kalau kekasihnya itu lepas kontrol. Sayup-sayup Cara dapat mendengar percakapan Geo. "Apa pun caranya jangan sampai dia lepas," tutur Geo dingin.


"Katakan kepada Liam, jika pasukannnya tidak dapat mendapatkan mangsa … siap-siaplah melihat neraka," desis Geo.

__ADS_1


Cara menelan salivanya susah payah. 'Astaga, aku merinding.' Cara melirik bulu tangannya yang sudah berdiri sebab kalimat mengerikan yang diucapkan Geo.


"Setelah pernikahan, aku akan mengatur jadwal untuk ke sana. Kekacauan ini cukup membuat tanganku gatal ingin menebas leher orang," sambung Geo dingin.


Glek …. 'Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan posisi Kak Ge di Death. Dia benar-benar kembaran malaikat maut,' batin Cara lagi.


Setelahnya Cara mendekat, sepertinya masalah di markas utama cukup berat sehingga mampu membuat Geo begitu marah. Cara berinisiatif untuk mendinginkan amarah Geo yang tampak mulai mendidih. Cara memeluk tubuh kekar Geo dari belakang, hal itu mampu membuat Geo yang masih menelepon terkejut. "Aku tutup." Geo memutuskan sambungan telepon begitu saja.


Geo membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Cara yang juga sedang menatapnya. "Kenapa?" tanya Geo lembut. Cara sedikit terkejut, raut wajah Geo yang tadinya begitu marah bisa berubah tiba-tiba. Belum lagi dengan suara lembut itu, Cara sungguh merasa terbuai.


"Tidak, hanya ingin ke sini. Ternyata kita tidak pernah melihat keindahan malam dari sini, aku baru sadar kalau di sini begitu indah." Cara berdiri di dekat tembok balkon luas itu.


Geo memeluk tubuh Cara dari belakang dan mengecup tengkuk gadis itu lembut. 'Amarahku lenyap begitu saja, hanya karena melihat wajahmu Cara,' batin Geo.


Cara membalikkan badannya menatap wajah Geo. Geo mendekat dan mengecup pelan bibir kekasihnya. Namun, saat Geo akan mengangkat kepalanya lagi, Cara menahannya dan kembali mencium bibir Geo. Laki-laki itu sempat terkejut, apa lagi saat Cara mulai me****t bibirnya begitu lembut.


Geo terbuai, laki-laki itu mengangkat tubuh Cara sehingga gadis itu duduk di pembatas balkon luas itu. Geo memeluk erat pinggang Cara sambil terus melanjutkan aksi ciuman hangat mereka. Cara melingkarkan kedua kakinya di pinggang kekar Geo. Malam dingin itu berubah hangat oleh aksi mereka. Geo mulai melepas pangutan bibir mereka saat merasakan Cara mulai kehabisan napas.


"Tidurlah." Geo menarik selimut untuk menutupi tubuh kekasihnya itu. Setelahnya laki-laki itu menarik tubuh Cara ke dalam pelukannya.


...*****...


Jesy berjalan santai ke arah meja resepsionis perusahaan VT Group. Gadis itu berjalan dengan raut wajah angkuh. "Saya ingin bertemu dengan Cara," tutur Jesy angkuh.


"Maaf Nona, apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?" tanya resepsionis itu ramah.


"Katakan saja kepadanya Jesyta Gerisam ingin bertemu," papar Jesy sinis.

__ADS_1


Resepsionis itu menatap Jesy tidak suka, dengan gerakan malas resepsionis itu menelepon sekretaris Cara. "Maaf, Nona Cara sedang tidak ada di ruangan," ucap resepsionis.


"Ke mana dia?" tanya Jesy angkuh.


"Saya rasa itu bukan urusan Anda Nona, kalau tidak ada keperluan lagi Anda bisa pergi Nona," ucap resepsionis itu malas.


"Kau mengusirku? Tidak sopan sekali kau, hanya pegawai rendahan saja sok sekali kau," murka Jesy.


"Maaf Nona, saya memang hanya pegawai rendahan di sini. Tetapi setidaknya posisiku lebih elegan dari pada menjadi pelayan." Resepsionis itu membalas sambil tersenyum mengejek.


Jesy melotot marah. "Apa maksudmu bangsat?" desis Jesy.


"Anda pikir saya tidak tahu siapa Anda? Bukankah Anda mantan pelayan Nona Cara?" Resepsionis itu tersenyum sinis ke arah Jesy.


Jesy terkejut, setelahnya gadis itu menatap resepsionis itu dengan pandangan tajam. "Awas kau." Jesy pergi setelah menatap tajam sang resepsionis yang sudah menggeleng tidak habis pikir.


"Brengsek, karena perjanjian bodoh wanita murahan itu harga diriku menjadi begitu rendah sekarang." Jesy menggerutu marah sambil terus berjalan.


Bruk …. "Akhh." Jesy berteriak, tubuhnya sudah terhempas ke atas lantai perusahaan VT Group dengan begitu tidak elegan. Begitu pula dengan seseorang yang baru saja ditabraknya.


"Nona Cara, Anda tidak apa-apa?" Seorang gadis membantu Cara berdiri. Orang yang baru saja bertabrakan dengan Jesy adalah Cara.


"Tidak apa-apa, terima kasih." Cara tersenyum tipis kepada gadis yang baru saja membantunya.


Jesy menatap tajam Cara, setelahnya gadis itu menatap beberapa orang yang hanya diam melihatnya di lantai. Sepertinya mereka tidak berniat membantunya berdiri. "Kalian tidak ingin membantuku berdiri?" tutur Jesy sinis.


Semua orang diam sambil menatap Jesy tidak suka. Minta tolong tetapi kalimat dan nadanya sungguh angkuh, siapa yang ingin membantu. Cara memutar bola matanya malas melihat itu. "Tidakkah Anda diajari sopan santun Nona? Meminta tolong bukan seperti itu caranya," sindir Cara.

__ADS_1


"Diam kau," bentak Jesy.


"Ada apa ini?" Semua orang menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2