Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
247. Teman Sekolah Dasar (lb)


__ADS_3

"Geno!" Suara teriakan seorang laki-laki mengambil alih perhatian Cara dan Geo. Sepasang suami istri itu menoleh dan melihat kedatangan Alex bersama Lamira di sana.


Geo yang melihat keberadaan sepasang manusia itu, tersenyum lebar. Tanpa aba-aba, Geo mengambil alih tubuh kecil putranya itu dari gendongan Cara. "Eh, Dad."


Cara yang sempat terkejut dengan pergerakan tiba-tiba dari sang suami, kini menatap ke arah Geo yang sedang menyusul kedatangan Alex dan Lamira. Sedangkan di sisi Geo, laki-laki itu memberikan Geno kepada Alex yang nampak kebingungan. "Pas sekali kau datang, jaga Geno. Aku ingin mandi," ucap Geo.


Kening Alex berkerut bingung saat melihat wajah aneh milik sahabatnya itu. Setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah Geno yang sudah berada di dalam gendongannya. "Terus kalau kau mau mandi memangnya kenapa?" tanya Alex tidak mengerti.


"Kau jaga saja, yang lain juga sebentar lagi akan segera sampai. Aku dan Cara ingin bermain air sebentar," balas Geo.


Setelah mengucapkan itu, Geo meninggalkan Alex yang nampak masih mencerna kalimat laki-laki kaku itu. "Bermain air? Dia … bangsat! Dia malah mau enak-enak, anaknya dikasih kepadaku," celetuk Alex kesal.


"Bang, ada Geno. Omongannya," tegur Lamira.


"Eh, ya ampun. Aku lupa." Alex menutup mulutnya saat baru sadar jika Geno saat ini sedang menatapnya dengan pandangan polosnya.


"Ck, sudah berikan Geno. Aku ingin mengajaknya ke kolam ikan. Dia suka ikan," tutur Lamira.

__ADS_1


...*****...


"Jadi masih belum selesai ya, Dok?" tanya Sasdia.


"Iya, sebenarnya ini tidak harus segera diselesaikan. Kita berjalan dengan santai saja, tidak usah terburu-buru. Jesy pasti akan merasa tertekan kalau kita terlihat seakan memakasanya," jelas seorang laki-laki yang baru saja dipanggil dokter oleh Sasdia.


Torih dan Sasdia menganggukkan kepala mereka pertanda mengerti. "Jadi, apa sekarang Jesy sudah mulai mau mengeluarkan suaranya, Dok?" tanya Torih.


"Dari yang saya lihat, dia akan berbicara dan mengeluarkan suaranya pada pembahasan tertentu dan waktu-waktu tertentu. Saya juga belum bisa menyimpulkan secara pasti. Setidaknya saat ini Jesy sudah mendapat perkembangan meski hanya dua persen," jelas laki-laki itu.


Sasdia dan Torih saling pandang sejenak. Setelahnya sepasang paruh baya itu menghela napas berat. "Iya, meski baru sedikit, tapi kami sudah sangat senang mendengarnya, Dok. Kami tahu semuanya tidak semudah itu. Semuanya memang butuh proses dan kerja keras," ucap Torih.


"Terima kasih, Dokter Rian. Kami sangat berterima kasih kepada, Anda. Semua ini juga berkat usaha Anda selama ini, kami benar-benar berterima kasih. Hanya itu yang bisa kami katakan, hanya kata terima kasih. Sebab kami tidak punya hal berharga lain yang akan kami berikan kepada, Anda," tutur Sasdia pelan.


Dokter Rian itu tertawa kecil mendengar kalimat Sasdia. "Saya tidak meminta apa-apa, Bu. Saya di sini kan juga digaji, cukup dengan itu," sahut Rian.


"Ya, kami tahu keluarga lainnya memberikan hadiah sedikit banyaknya kepada Dokter. Hanya kami saja sebagai keluarga Jesy yang tidak memberikan apa-apa," papar Sasdia.

__ADS_1


Rian kembali tertawa kecil mendengar kalimat Sasdia. "Apa boleh saya jujur, Bu, Pak," ucap Rian.


"Tentu saja, Dok. Apa ada sesuatu yang lain mengenai Jesy?" sahut Torih.


"Ah, tidak. Ini bukan masalah pengobatan Jesy. Tapi masalah hubungan saya dengan Jesy," sahut Rian.


Sasdia dan Torih saling tatapan nampak bingung dan penasaran. "Maksud Dokter?" tanya Sasdia.


"Saya sebenarnya adalah salah satu teman sekolah dasar Jesy," sahut Rian.


Torih dan Sasdia terkejut mendengar kalimat Rian. "Benarkah, Dok?" tanya Sasdia.


"Iya, Bu. Tapi setahu saya, Jesy bukannya memiliki Kakak perempuan? Atau saya yang salah mengira jika Cara adalah adalah Kakak Jesy?"


Deg …. Torih dan Sasdia terdiam mendengar kalimat Rian. Sepasang paruh baya itu kembali saling tatap. "Iya, Dok. Mereka Kakak beradik, satu ayah lain ibu," balas Sasdia.


Rian tidak terlalu terkejut mendengar kalimat itu. Sebab melihat interaksi antara Cara dan Jesy memang terlihat lain. "Maaf, saya malah menanyakan hal pribadi seperti ini. Saya pikir saya salah waktu itu, karena teman-teman lainnya juga berpikir mereka saudara," papar Rian nampak tidak enak.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Dok. Jadi Dokter Rian adalah teman sekolah Jesy dan Cara?" sahut Sasdia mencoba mencairkan suasana.


__ADS_2