
"Lepaskan saya." Suara teriakan seseorang mengalihkan perhatian Cara yang sedang duduk santai di ruang tamu kediaman Carves.
Cara tersenyum miring merasa apa yang ditunggunya sedari tadi akhirnya sampai. "Sampai juga dia." Cara bergumam sambil berdiri dari duduknya.
Cara menatap sinis seorang wanita paruh baya yang sedang meronta marah mencoba melepaskan diri dari pegangan para pengawal Carves. "Hai Nyonya Gerisam, akhirnya Anda sampai juga ya," tutur Cara sinis.
Sasdia menatap Cara dengan pandangan tajamnya. "Wanita brengsek, apa yang kau lakukan kepada anakku, hah!" teriak Sasdia marah.
"Aku? Bukan aku loh, jelas di video itu bukan hanya ada aku," ejek Cara.
"Lepaskan aku, aku ingin menginjak anak gembel itu." Sasdia terus meronta sambil berteriak histeris.
__ADS_1
"Jangan berteriak di kediaman orang lain Nyonya, Anda ingin Tuan Carves mengamuk?" ledek Cara.
"Kau wanita bangsat, akan aku habisi kau. Berani sekali kau memperlakukan putriku seperti pembantu," geram Sasdia.
Cara tertawa mendengar itu. "Aku hanya mengikuti penerapan Tuan Carves, aku saja terkejut loh. Aku pikir putri Anda yang manja itu disayang dan dimanja pula oleh Tuan Carves. Nyatanya, malah dijadikan babu. Ya sudah, saya ikut-ikut saja," sahut Cara santai.
Sasdia kembali melotot benci ke arah Cara. "Sekarang di mana putriku, dia akan aku bawa pulang sekarang juga. Jesy … Jesy!" Sasdia berteriak memanggil nama Jesy.
"Aduh, tolonglah Nyonya Gerisam. Apakah Anda selama ini tinggal di hutan? Kenapa teriak-teriak seperti orang hutan sih? Di mansion orang lain lagi … dan untuk anakmu itu, dia sedang membersihkan dapur. Aku baru saja selesai memasak, eh … ternyata aku lupa kalau aku sama sekali tidak bisa memasak. Ya sudah, aku suruh dia membersihkan kekacauan yang memang sengaja aku buat." Cara menaikkan kedua bahunya acuh.
Sedangkan Cara sudah tersenyum puas. "Mama." Suara Jesy mengalihkan perhatian Cara dan Sasdia.
__ADS_1
Sasdia melotot terkejut saat melihat kondisi putrinya. Jesy sangat kacau-balau dengan pakaian kucel penuh tepung dan berbagai lainnya. Sasdia menatap Jesy sendu merasa begitu prihatin dengan keadaan putrinya. "Kenapa kamu menuruti perintah anak gembel ini Nak? Kamu ratu di sini, kamu istrinya pemilik mansion ini," lirih Sasdia sendu.
Jesy menunduk merasa kasihan melihat wajah sedih mamanya. "Lepaskan Mamaku," geram Jesy kepada Cara.
"Lah? Memangnya aku yang memegang Mamamu itu? Tidak punya mata apa? Kau katakan saja kepada mereka, bukankah kata Mamamu kalau kau ratu di sini? Jadi … mereka akan mengikuti perintah ratunya bukan?" Cara tersenyum miring.
Jesy mengepalkan tangannya erat, dia tidak yakin para pengawal itu akan mendengarkan perkataannya. "Lepaskan Mamaku," ucap Jesy kepada dua laki-laki yang menahan tangan Sasdia.
Seperti dugaan Jesy, mereka tidak menghiraukan perkataannya. Jangannya untuk melepaskan, sekedar melirik saja mereka seakan tidak sudi. Sedangkan Cara yang melihat itu sudah tertawa keras. "Astaga … aku baru tahu kalau ada ratu yang seperti ini. Masa iya perkataan ratu tidak dihiraukan, dilirik saja tidak. Apa sekarang ratu memang seperti itu ya?" Cara meletakkan jari telunjuknya di bawah dagu seakan sedang berpikir.
"Tidak usah banyak omong kau, cepat suruh mereka untuk melepaskan Mamaku," geram Jesy.
__ADS_1
"Aku di sini hanya tamu Nyonya Carves, eh … aku lupa kalau Tuan Carves tidak boleh aku memanggilmu dengan panggilan itu. Maaf ya, aku harus memanggilmu apa ya sekarang? Kalau aku panggil kamu Nona Gerisam … aku juga ragu kalau Tuan Gerisam masih menganggapmu anak." Cara tersenyum jahat ke arah Jesy yang sudah memerah menahan amarah.
"Jaga bicaramu anak gembel, dia anakku dan Mas Torih. Jelas saja dia akan terus membawa marga Gerisam," murka Sasdia.