
Jesy dan Sasdia masih berdiri ditempat mereka, memperhatikan sekumpulan manusia itu. "Hai … nama aku Cara, nama kamu siapa?" Cara mencoba mengajak Helen berbicara.
Helen yang sedari tadi diam karena tidak mengerti, sekarang sudah tersenyum manis ke arah Cara. "Aku Helen Stamon, panggil saja Helen. Kamu sangat cantik Cara," balas Helen senang.
Cara tersenyum mendengar perkataan Helen. Sedangkan Alex menatap gadis yang bernama Helen itu dengan pandangan tidak percaya. "Dia masih dengan bangganya membawa nama ayahnya itu?" tutur Alex tidak habis pikir.
"Sudah aku bilang, dia gadis polos," balas Rical.
"Dan kau memanfaatkan kepolosannya itu, laki-laki bejat," hina Alex.
"Aku tidak begitu, aku ingin menyekolahkannya. Kasihan, dia hanya tamatan sekolah dasar. Stamon benar-benar brengsek, aku rasa uang dia selama ini pasti sangat berlimpah selama di Death. Tetapi dia malah berfoya-foya dan melupakan anaknya sendiri," tutur Rical.
Semua mata menatap Rical heran, berbeda dengan Jesy yang sudah menatap tidak suka ke arah gadis bernama Helen itu. "Kau tidak ingin memanfaatkannya bukan? Kasihan, dia masih sangat polos," ucap Alex.
"Aku bilang tidak," balas Rical malas.
__ADS_1
"Eh, tapi mana Kak Farel? Kenapa masih belum sampai?" tanya Cara.
"Dia sudah dijalan, aku meminta tolong untuk menjemput Lamira kepadanya," sahut Alex.
"Loh? Memangnya Kak Alex tadi dari mana?" tanya Cara.
"Tanya kepada suami menyebalkanmu itu. Orang sedang asik-asik tidur, malah diganggu dengan hal tidak penting," ketus Alex kesal.
Cara melirik ke arah Geo yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Cup …. Seperti biasa, laki-laki dingin itu mengecup bibir sang istri sembarangan. Tanpa melihat situasi dan kondisi. "Benar-benar mantap," teriak Rical.
Rical menoleh, kemudian menatap ke arah Jesy yang juga sedang menatapnya. "Ra, apa harus dia di sini? Aku malas melihat wajahnya," celetuk Rical.
Kalimat itu tentu saja membuat hati Jesy tergores. Wanita itu kembali menyentuh dadanya yang terasa berdenyut. Sasdia memegang kedua bahu putrinya mencoba menenangkan. Sedangkan Cara yang mendengar itu, segera menoleh ke arah Jesy dan tersenyum miring. "Mereka harus ikut dalam pesta kecil ini, Kak. Dia kan istrimu," balas Cara.
Rical mendengus malas. "Melihatnya saja sudah membuat aku muak, Ra. Bagaimana ingin berpesta dengannya," tutur Rical malas.
__ADS_1
Sasdia menatap tajam Rical yang merupakan menantunya itu. "Jaga mulutmu, Rical," geram Sasdia.
Rical menoleh dan tersenyum miring ke arah Sasdia. "Kenapa, Mama Mertua? Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Jujur itu terkadang memang menyakitkan, tapi kau harus tetap menerima itu," ejek Rical.
Sasdia menggeram kecil mendengar perkataan Rical. "Dia istrimu, seharusnya kau membelanya di saat yang lain malah menindasnya," kata Sasdia.
Rical tertawa mendengar penuturan Sasdia. "Sebaiknya Anda yang menjaga sikap dan perkataan, Mama Mertua. Kalau masih ingin hidup di sini," desis Rical tajam.
Deg …. Sasdia dan Jesy terdiam mendengar kalimat rendah yang dilontarkan Rical. Dua manusia itu sukses dibuat bungkam oleh kalimat itu. Sedangkan Cara sudah terkekeh sinis. "Aku rasa, perkataanmu ini pasti membuat seseorang untuk kesekian kalinya merasa dejavu, Kak," papar Cara.
Cara melirik Sasdia yang sudah terdiam menatap seringai licik di bibir Cara. "Dulu juga ada, seorang wanita yang diperlakukan seperti ini oleh suaminya. Dikatai menjijikkan, dikatai memuakkan, dikatai gembel dan mual saat melihat wajahnya. Dan Nyonya Gerisam ini adalah saksi nyata pada kejadian itu. Benar begitu, Nyonya?" Cara menatap datar Sasdia yang sudah tercekat.
Denyutan aneh di dalam hati Sasdia membawa wanita paruh baya itu kembali pada kejadian masa lalu. Kejadian di mana Dea yang selalu dicaci dan dimaki oleh Torih. Mulai sebelum Dea hamil, bahkan sampai hamil dan memiliki Cara. Apa yang dikatakan Cara memang benar, Sasdia adalah saksi nyata di dalam setiap kejadian hidup malang Dea.
Bahkan wanita paruh baya itu pun ikut menjadi salah satu orang yang selalu mencaci dan memaki Dea kala itu. Setiap kejadian masa lalu itu, terputar jelas di benak Sasdia. Hal itu membuat Sasdia menunduk miris. Da tidak menyangka, apa yang diperbuatnya dahulu, kini kembali dirasakannya. Namun, dalam kondisi yang berbeda, bahkan bertolak belakang.
__ADS_1
'Maafkan Mama, Jesy. Ini semua karena kesalahan Mama dan Papa dimasa lalu,' batin Sasdia sendu.