Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
157. Posisi Berbeda (lb)


__ADS_3

Geo memeluk tubuh pinggang Cara yang sudah semakin melebar. Laki-laki datar itu berjalan berdampingan dengan sang istri. "Apa hari ini ramai?" Cara mengedarkan pandangan di parkiran sebuah gedung.


"Entahlah, Sayang. Kenapa?" tanya Geo.


"Tidak, hanya saja aku melihat seperti lebih ramai," tutur Cara.


"Senamnya sampai berapa bulan sebenarnya, Sayang?" tanya Geo lagi.


Cara mendongak menatap wajah tampan suaminya. "Sampai sembilan bulannya, Kak. Kenapa?" balas Cara balik bertanya.


"Tidak, hanya saja aku merasa ngilu melihat kamu senam dengan perut menonjol seperti ini," papar Geo.


Cara terkekeh mendengar perkataan suaminya. "Kan buat baby kita juga, Sayang," sahut Cara lembut.


Semenjak hamil enam bulan, Cara memang sudah mengikuti kelas ibu hamil. Dalam kelas itu salah satu materinya, adalah senam untuk ibu hamil. Selama senam, Geo sang suami pasti selalu menemani istri cantiknya itu. Benar-benar sweet bukan?


"Sepertinya memang ada pendatang baru, lihatlah. Mereka semua menatap ke sini, huh … inilah kenapa aku malas kalau kamu ikut, Kak. Kamu menjadi pusat perhatian, aku tidak suka," ketus Cara merasa kesal.

__ADS_1


Setiap kali jadwal kelas, mau itu materi atau pun praktek. Geo pasti selalu menemani sang istri tercinta. Wajah tampannya itu jelas saja sukses menarik perhatian warga kelas yang memang terisi oleh perempuan. Cara memiliki tingkat pencemburu dan tingkat posesif semakin tinggi di saat dia hamil. Melihat Geo ditatap dengan pandangan mendamba oleh wanita lain, sungguh membuat Cara kepanasan.


"Kamu pulang saja sana," usir Cara kesal.


Geo terkekeh melihat wajah kesal sang istri. "Tidak mau," balas Geo.


Cara memicingkan matanya menatap sang suami. "Kalau begitu tunggu di mobil saja," kata Cara.


"Tidak mau, Sayang. Aku ingin selalu memantau seluruh kegiatan kamu." Geo mengecup pelan pipi tembam Cara.


Plak …. Cara memukul lengan kekar Geo yang saat ini sudah tertawa keras, tanpa memikirkan jantung wanita yang melihatnya. "Jangan tertawa," ketus Cara.


Geo menutup mulut dengan kedua tangannya. Mata laki-laki itu masih nampak memicing, berarti dia masih tertawa di balik telapak tangannya itu. Sedangkan Cara yang melihat itu sudah mendengus kesal. Apa lagi saat melihat semua mata semakin melotot ke arah mereka tanpa berkedip. "Ck, kenapa malah pandangi suami orang. Kenapa tidak lihat suami masing-masing," gerutu Cara kesal.


Sedangkan Geo yang melihat sang istri berceloteh tidak jelas, hanya bisa menahan tawa. "Ayo, Sayang." Geo kembali menarik pinggang Cara dan membawa wanita hamil itu ke dalam gedung.


Sepertinya sifat posesif ibu hamil itu meningkat dengan kewaspadaan tingkat satu. Cara memeluk pinggang Geo sambil menatap kesal kepada wanita lainnya yang masih saja menatap suaminya. "Suamiku memang tampan, tapi tidak untuk dibagi-bagi," gerutu Cara.

__ADS_1


Geo hanya bisa mengulum bibir melihat kekesalan sang istri. "Tidak baik menggerutu seperti itu, Mommy," bisik Geo.


"Lain kali, kalau Kakak akan ke sini itu pakai masker," ketus Cara.


"Siap, Bu Bos," sahut Geo dibuat seakan-akan terdengar tegas. Mendengar itu Cara malah tertawa sambil menatap wajah Geo yang ikut terkekeh.


"Aku ingin anak aku nanti lebih tampan dari bapaknya ini," celetuk Cara.


"Mana bisa begitu, dia tidak boleh melangkahi bapaknya. Harus di bawah bapaknya," balas Geo tidak setuju.


Cara tertawa mendengar perkataan Geo. "Pokoknya aku mau anak aku tampan melebihi bapaknya," tutur Cara lagi.


"Nanti kalau dia lebih tampan, Mommy malah lebih sayang kepadanya," rajuk Geo.


Cara terbahak mendengar kalimat Geo. "Beda, Sayang. Kamu suami aku, sedangkan dia anak aku. Dua laki-laki tampan yang akan selalu ada di posisi yang berbeda di sini." Cara menunjuk dada kirinya sambil tersenyum manis ke arah Geo.


'Belum saja kamu lahir, bapakmu ini sudah cemburu saja, Sayang. Adu, benar-benar,' sambung Cara di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2