
Mata Geo melotot saat melihat ilustrasi yang ada di layar ponsel dokter wanita itu. "Apa nanti istriku juga akan diperlakukan seperti ini?" tanya Geo.
"Iya, Tuan," sahut dokter wanita.
"Mana bisa seperti ini, apa lagi laki-laki. Aku tidak terima, cari dokter perempuan saja. Kau saja," protes Geo.
Dokter wanita itu meringis mendengar perkataan Geo, begitu pula dengan Cara yang sudah menggaruk kepala belakangnya bingung. 'Kenapa aku sampai melupakan hal ini? Untung Dokternya lebih tanggap,' batin Cara.
"Memang ini sudah menjadi tanggung jawab Dokter Fendra, Tuan," sahut dokter wanita itu.
"Aku tidak mau tahu, persiapkan dokter wanita terbaik untuk proses melahirkan istriku nanti. Cari dalam tiga hari ini, sebelum istriku segera melahirkan. Tidak ada satu pun laki-laki yang boleh melihat aset berharga istriku, termasuk dokter sekali pun. Selagi masih ada dokter wanita, kenapa harus dia?" desis Geo nampak tidak suka.
Dokter wanita itu berubah pucat melihat aura dingin yang menguar dari tubuh Geo. Cara yang menyadari itu segera menenangkan sang suami. "Tenanglah, Sayang. Mereka pasti bisa mendapatkan dokter wanitanya. Bukan begitu, Dok?" ucap Cara mencoba menenangkan.
"I-iya, Nyonya," balas dokter itu ketakutan.
"Jika kalian tidak bisa mendapatkan dokter wanita dalam dua hari ini, siap-siap saja rumah sakit ini aku ratakan dengan tanah," desis Geo dingin.
Glek …. Dokter wanita itu menelan salivanya susah payah saat mendengar perkataan Geo. Sedangkan Cara sudah meringis melihat wajah takut dokter wanita itu. "Kalau begitu kami permisi ya, Dok." Cara tersenyum tipis ke arah dokter yang nampak mencoba memaksakan senyumnya.
__ADS_1
"Ayo, Kak." Cara menarik lengan kekar Geo yang masih nampak marah.
Cara mendongak menatap wajah datar suaminya yang masih berada di dalam mood tidak baik. Cara terkekeh kecil mengingat bagaimana posesifnya sang suami. "Kak," panggil Cara.
Geo tersadar, laki-laki datar itu menunduk menatap wajah cantik Cara yang sedang tersenyum ke arahnya. "Apa, Sayang?" tanya Geo lembut.
"Jangan seperti itu wajahnya, menyeramkan tahu," tutur Cara.
Mendengar itu Geo terkekeh kecil. "Bukannya aku tampan?" goda Geo.
"Memang sih, tapi kalau sedang marah, menyeramkan," sahut Cara jujur.
Cara mendongak dan tertawa kecil mendengar perkataan Geo. "Bukannya waktu itu Dokter bilang boleh? Asal pelan-pelan," tutur Cara.
"Iya juga, jadi nanti bisa dong kita main." Geo menaik turunkan alisnya membuat Cara terbahak.
"Tadi saja marah-marah sama Dokter," ejek Cara.
Mendengar itu, Geo mendengus kesal. "Ya ada-ada saja, mana mungkin aku akan mengizinkan laki-laki lain melibat aset berharga kamu yang seharusnya hanya untuk aku. Jelas marah aku, Baby," gerutu Geo.
__ADS_1
Cara kembali tertawa mendengar perkataan Geo yang begitu jelas tidak suka. "Mereka pasti akan mendapatkan dokter wanita, Kak. Mereka ketakutan dengan marahnya macan ini." Cara mencubit hidung mancung Geo merasa gemas.
"Aku tidak main-main, Sayang. Kalau sampai mereka tidak mendapatkan dokter wanitanya. Akan aku ratakan rumah sakit itu," papar Geo.
"Iya, Daddy. Kamu akan seperti Daddy kamu juga atau bagaimana, Sayang?" ucap Cara.
"Jelas, dia anak aku, Baby. Jadi, dia harus seperti aku," sahut Geo.
"Iya, Tuan Vetro," balas Cara.
Geo terkekeh sambil mencuri ciuman singkat di bibir sang istri. "Sekarang kita pulang atau ingin ke mana Mommy?" tanya Geo.
"Aku ingin ke tempat Alisa dulu, Kak Farel kan sedang persiapan pertunangan mereka. Aku juga ingin melihat," balas Cara.
"Kan masih lama, Sayang. Mereka hanya sedang melihat cincin," tutur Geo.
"Aku ingin lihat cincinnya," balas Cara.
"Baiklah, Nyonya Vetro yang cantik jelita." Geo kembali mencuri satu kecupan gemas dari bibir Cara.
__ADS_1