
"Wah … aku tidak menyangka, kau mendapat gadis manis seperti ini, Alex." Rical bersuara sambil menatap wajah Lamira.
"Jaga matamu itu, bedebah," peringat Alex kesal.
Rical menoleh dan terkekeh kecil melihat wajah kesal sang sahabat. Setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah Farel yang sedang duduk anteng di samping Siera. "Ini lagi, si kaku yang satu. Diam saja di samping gadisnya," ledek Rical.
"Tidak aku sangka, kalian sudah punya pawang masing-masing, ya." Rical menyambung kalimatnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak sepertimu yang memilih berakhir dengan wanita-wanita tidak jelas di atas ranjang," sindir Alex.
"Nikmat, kenapa tidak." Rical tersenyum miring ke arah Alex yang sudah menatapnya tajam.
"Bangsat! Di sini banyak anak di bawah umur, bedebah," ucap Alex kesal.
"Itu hanya milikmu, Cara sudah dua puluh tahun. Itu, gadisnya si Farel juga sudah dua puluh tahun. Helen dia sudah sembilan belas tahun, lagi pula dia tidak mengerti bahasa kita. Jadi … hanya gadismu itu yang masih anak-anak," ejek Rical.
"Aku tidak anak-anak, umurku sudah delapan belas tahun," sahut Lamira cepat.
Suara Lamira membuat Rical terkejut, sedangkan Alex sudah tersenyum miring ke arah Rical. "Buset, berani juga ternyata," tutur Rical.
Mendengar kalimat itu, Lamira baru menyadari keberaniannya. Gadis itu segera menunduk membuat Cara terkekeh. "Tidak apa-apa, Mir. Santai saja," celetuk Cara.
__ADS_1
"Sudah, berhubung rencana aku yang ingin pergi ke bazar batal. Sekarang aku ingin memakan gula kapas, dengan keberadaan badut sekalian," sambung Cara.
Semua mata menoleh ke arah Cara. "Biar aku pesankan, Sayang. Kamu ingin berapa?" tutur Geo.
"Aku ingin gula kapasnya berwarna-warni, Kak. Jangan lupa Kakak pesan baju badut juga, tiga," ucap Cara.
Sekumpulan manusia itu mengernyit bingung. "Baju badut? Kenapa tidak badutnya saja, Ra?" tanya Alex bingung.
Cara menggeleng cepat. "Aku ingin Kak Alex, Kak Farel dan Kak Rical yang menjadi badutnya," sahut Cara santai.
Duar …. Seakan disambar petir, jantung tiga laki-laki yang baru saja diabsen oleh Cara berdetak tidak seirama. "Kamu bercanda kan, Ra?" cicit Rical was-was.
Cara menatap wajah Rical, kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya. Glek …. Tiga manusia itu menelan salivanya sambil saling tatap dengan wajah frustasi. "Yang benar saja, Ra. Masa iya, aku semacho ini harus berpakaian badut," papar Rical.
"Enggak, aku maunya Kakak bertiga yang jadi badut. Pasti keren," tutur Cara.
"Keren apanya? Bisa jatuh harga diriku yang perkasa ini," gumam Rical frustasi.
"Tidak ada yang lain, Ra? Baju basket begitu?" tawar Alex.
Cara terdiam sejenak seakan berpikir. Setelahnya wanita itu menjentikkan jarinya sambil tersenyum cerah. "Ada," ucap Cara antusias.
__ADS_1
Tiga pasang mata menatap berharap ke arah Cara. "Apa?" tanya Alex penasaran.
"Kak, tidak usah pesan baju badutnya. Pesan tiga pasang baju princess saja," kata Cara kepada Geo.
Deg …. Tiga rahang tegas laki-laki yang berada di sana jatuh sudah. "Kenapa semakin tidak benar saja, Ra?" keluh Alex.
"Ini benar, Kak. Aku sudah tidak sabar, ayo cepat pesan bajunya, Kak," tutur Cara antusias.
"Bagaimana kalau yang lain saja, atau baju badut tadi sa …."
"Tidak ada lagi, Kak. Ini sudah finish," sela Cara.
"Matilah kita," gumam Rical lemas.
"Apa harus seperti ini mengidamnya, Ra?" celetuk Alex lesu.
Bagaimana dengan Farel? Laki-laki itu memang masih diam, tetapi sangat jelas terlihat raut tertekan di wajah laki-laki datar itu. Siera dan Lamira sudah menutup mulut mereka mencoba menahan tawa. Berbeda dengan Helen yang masih diam dengan wajah bingungnya karena tidak mengerti.
"Ge, bujuk istri kamu itulah," celetuk Alex.
"Iya, yang benar saja aku seperkasa ini memakai baju princess. Akan ditaruh di mana mukaku nanti," tambah Rical.
__ADS_1
"Taruh di lutut." Geo menyahut perkataan Rical sambil tersenyum miring.
"Brengsek!" Tiga laki-laki secara bersamaan mengumpati sang pemimpin Death yang sedang tersenyum miring.