Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
224. Ketakutan (lb)


__ADS_3

Cara menatap wajah bayinya dengan pandangan hangat. "Sayang, ayo cepat besar. Supaya bisa berjalan dan bisa bermain dengan Mommy juga Daddy," ucap Cara.


Wanita itu memainkan pipi putranya, saat ini Cara sedang menyusui bayi tampannya itu. "Kenapa kamu begitu mirip dengan Daddy? Mommy jadinya bersedih ini," sambung Cara.


Nampak bayi kecil itu terhenti saat Cara selesai berucap. Cara terkejut melihat reaksi sang putra. "Eh, kenapa kamu berhenti, Sayang? Mommy hanya bercanda," papar Cara.


Bola mata biru laut itu nampak mengerjap pelan sambil menatap sekitar. Beberapa detik kemudian, Geno kembali melanjutkan aksi mengisi perutnya. Melihat itu Cara tersenyum tipis menatap wajah putra kecilnya.


Cklek …. Cara menoleh saat mendengar suara pintu kamar dibuka dari luar. Sosok Geo terlihat menatap Cara sedikit terkejut. "Sudah pada bangun ternyata," ujar Geo.


Laki-laki itu mendekat ke arah sang istri yang saat ini sedang bersandar di kepala ranjang. "Maaf, Sayang. Apa kamu kesulitan tadi?" tutur Geo.


Cara tersenyum menatap Geo lembut. "Tidak, Daddy," balas Cara.


"Berikan Geno kepadaku, tangan kamu pasti sudah pegal," ucap Geo.

__ADS_1


Laki-laki itu mengambil alih sang putra yang baru saja selesai mengisi perut. Nampak mata kecil itu kembali ingin terpicing. Melihat itu, tentu saja membuat Geo terkekeh geli. "Kerjaan kamu itu saja, ya. Tidur, bangun, menyusui, pipis dan buang air besar," celetuk Geo merasa gemas kepada putranya itu.


Cara ikut terkekeh mendengar kalimat suaminya. "Terus apa lagi, Sayang. Masa iya sebesar ini sudah bermain kerjaannya," papar Cara.


Geo menoleh ke arah Cara sambil terkekeh kecil. "Kapan dia besar ya, Mommy?" tanya Geo nampak tidak sabar.


"Baru saja dia lahir kemarin, Dad. Masa sekarang sudah membahas besar saja. Memangnya anak kamu balon, tinggal ditiup, langsung jadi besar," cetus Cara.


Geo kembali tertawa mendengar kalimat sang istri. "Mana tahu kan, aku sudah tidak sabar soalnya," tutur Geo.


"Apa kamu tidak sabar karena ingin segera memberi Al adik?" goda Cara.


"Cukup dengan Geno saja, Sayang," papar Geo pelan.


Kening Cara berkerut mendengar kalimat sang suami. "Kenapa, Dad? Kamu tidak ingin menambah?" tanya Cara lagi.

__ADS_1


Geo menunduk menatap wajah Geno yang sudah nampak tertidur. Laki-laki itu menghela napas berat sebelum mulai bersuara. "Aku tidak ingin melihat kamu seperti kemarin lagi, Baby. Cukup sekali, cukup itu saja aku merasa begitu gila," lirih Geo.


Cara tertegun mendengar suara rendah milik Geo. Wanita itu menatap wajah sendu Geo yang nampak begitu takut kehilangan dirinya. Wanita itu mendekat ke arah sang suami dan memeluk leher Geo yang masih menunduk. "Maaf, Daddy," bisik Cara pelan.


"Tidak, kamu tidak salah. Aku yang salah karena tidak berhasil menjaga kamu waktu itu. Aku tidak tahu dengan permasalahan kamu. Aku tidak tahu dengan ketakutan kamu, aku ti …."


"Sstt." Cara menyela kalimat Geo sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir laki-laki itu. Cara menatap Geo dengan pandangan lembut yang mampu menenangkan hati laki-laki dingin itu.


"Sekarang aku sudah di sini, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Daddy jangan cemas lagi, i'm here," tutur Cara.


"Aku … bukan tidak ingin memiliki anak lagi, Sayang. Hanya saja, aku …."


"Aku tahu, Dad. Aku tahu dan aku mengerti. Kita jalani saja, kita jalani hidup dengan Geno sampai semua ketakutan itu mungkin akan menghilang secara perlahan. Maaf karena aku membahas ini," papar Cara tulus.


Geo menggeleng pelan. "Tidak ada yang perlu aku maafkan karena kamu tidak salah, Mommy. Dengan kehadiran Geno, aku sudah sangat senang. Kebahagiaan aku rasanya sudah jauh dari kata lengkap. Cukup dengan kalian berdua, aku sudah cukup. Tidak ingin serakah," kata Geo.

__ADS_1


Cara tersenyum mendengar kalimat suami tampannya itu. "Aku tahu, Daddy. Jadi, sekarang mari kita bahas hal lain saja. Tidak baik bersedih seperti ini di depan anak tampan kita ini. Lihatlah, dia bahkan sangat nyenyak tidur di dalam pelukan Daddy-nya," tutur Cara mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Geo menatap wajah putranya, setelahnya senyum tipis muncul menghiasi wajah tampan laki-laki dingin itu. 'Daddy akan buat kamu menjadi laki-laki kuat. Sang penguasa, yang ditakuti dan disegani oleh setiap nyawa, Boy. Maka cepatlah besar,' batin Geo bertekad.


__ADS_2