Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
236. Menikahi (lb)


__ADS_3

Cara menatap sendu wajah Helen yang terlihat tidak baik-baik saja. Wanita itu mendekat ke arah Rical yang sedang duduk di samping ranjang Helen. Rical mendongak dan melihat keberadaan Cara di sampingnya. "Duduk, Ra."


Rical berdiri dari duduknya memberikan tempat kepada Cara. "Tidak, Kak. Helen butuh Kakak," balas Cara.


Rical menatap wajah Helen yang masih memejamkan matanya. "Dia akan baik-baik saja kan, Ra?" lirih Rical.


Cara mendongak menatap wajah Rical yang nampak begitu frustasi. "Helen gadis kuat, sama seperti aku. Bahkan mungkin dia lebih kuat dari pada aku, Kak. Asal Kakak terus menemani dia, Helen pasti akan baik-baik saja," balas Cara lembut.


Hati Rical menghangat mendengar kalimat Cara. Laki-laki itu kembali menoleh menatap wajah Helen yang nampak lebih tenang. "Apa Kakak tidak berniat untuk segera menikahinya?" sambung Cara bertanya.


Rical terkejut dengan kalimat Cara, laki-laki itu menatap Cara dengan pandangan ragu. "Aku …."


"Itu bisa membuat Helen semakin merasa tenang, Kak," sela Cara.


Kening Rical berkerut mendengar kalimat Cara. "Maksud kamu?" tanya Rical.


Cara menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Rical. "Dengan keadaan Helen yang seperti ini, maka ketakutan terbesar dia adalah dihina dan direndahkan. Dihina dan direndahkan karena dia merasa kotor dan ternoda. Dengan begitu, dia akan merasa tidak pantas atau mungkin akan merasa bersedih saat Kakak sebagai laki-laki masih menggantung status kalian. Helen bisa saja berpikir, jika Kakak tidak menikahinya karena Kakak merasa jijik kepadanya," jelas Cara.


Rical terdiam mendengar pertanyaan Cara. Apa yang dikatakan Cara memang benar dan masuk akal. 'Benar juga,' batin Rical.


"Tapi jika Kakak menikahinya, pemikiran buruk itu tentu akan terhempaskan. Dengan begitu, hati dan perasaan Helen akan menjadi lebih tenang," sambung Cara.


Geo mendekat ke arah sang istri. "Pikirkan semua perkataan adikmu ini. Sayang, ayo duduk, nanti kamu lelah."

__ADS_1


Geo berucap sambil menatap Rical dan Cara bergantian. Setelahnya laki-laki itu membawa tubuh Cara menuju ke arah sofa di dalam ruangan inap itu. Sedangkan Rical masih terdiam mencerna kalimat Cara.


...*****...


"Mas, bagaimana?" tanya Sasdia.


"Tunggu dulu, mereka sedang berdiskusi," balas Torih.


"Kasihan Jesy sudah satu minggu dikurung seperti itu," ucap Sasdia.


"Tapi ini juga demi kebaikan Jesy, Sa," sahut Torih.


"Iya, tapi aku tidak tega," cetus Sasdia.


"Aku lepas kendali waktu itu, mereka memang anak-anak nakal yang tidak memiliki hati nurani. Bukannya bersimpati melihat kondisi teman kuliahnya, mereka malah merekam dan ingin menyebarkan aib orang," celoteh Sasdia.


"Orang-orang seperti itu sudah banyak di dunia ini, Sa. Tidak kan kita sadar, jika dulu kita termasuk ke dalam golongan seperti mereka?" balas Torih.


Sasdia terdiam mendengar perkataan sang suami. "Mungkin juga, mereka itu bukannya teman Jesy. Tapi musuh sewaktu Jesy masih kuliah," sambung Torih.


"Huh, kalau itu semenjak keuangan keluarga kita tidak baik. Memang sudah banyak orang yang dulunya teman, berubah menjadi musuh," papar Sasdia merasa kesal mengingat hal itu.


"Sudahlah, tidak usah dibahas yang telah berlalu. Aku tidak ingin melihat ke belakang lagi, cukup sampai di sini. Kita pandang ke depan," tutur Torih.

__ADS_1


"Permisi, Pak, Bu." Suara seorang perempuan mengalihkan perhatian sepasang suami istri itu.


Sasdia dan Torih menoleh dan terkejut melihat keberadaan putrinya di sana. "Jesy, Sayang," sapa Sasdia nampak begitu senang.


"Sudah diberi izin keluar lagi, Mbak?" tanya Sasdia kepada penjaga Jesy.


"Syukurnya Dokter memberi izin, Bu. Memang tadi sempat tidak diberi izin. Tapi saya lihat, sepertinya Nona Jesy juga sudah butuh udara luar," sahut perawat wanita itu.


Sasdia menatap Jesy dengan pandangan bahagia. Setelahnya wanita paruh baya itu menoleh ke arah perawat wanita itu. "Saya kembali berterima kasih atas bantuan, Mbak. Saya benar-benar senang akhirnya Jesy bisa keluar lagi," ucap Sasdia.


"Iya, Bu. Mohon untuk menjaga suasana hati Nona Jesy ya, Bu, Pak. Kali ini suasana hatinya mudah berubah-ubah. Takutnya nanti Nona Jesy kembali mengamuk," pesan perawat itu.


"Oh, iya Mbak," sahut Sasdia pelan.


.


.


.


Maaf ya, semuanya. Mulai hari ini, sepertinya aku bisa up cuma 3 bab. Tapi aku usahakan up setiap hari, maklum akhir bulan cukup merepotkan🙏🙏


Salam dari PIM🥰

__ADS_1


__ADS_2