Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
55. Senja di laut (lb)


__ADS_3

Cara berlari senang ke area pantai, wanita itu melepaskan pegangan tangannya dari Geo. Sedangkan Geo hanya tersenyum tipis melihat wajah bahagia milik istrinya. Karena terlalu asik bermain, Cara tidak menyadari kalau Geo sudah dikelilingi para wanita seksi yang hanya memakai bikini. "Pergi," ucap Geo dingin.


"Jangan begitu, kami hanya ingin menemanimu," sahut salah satu wanita.


"Benar, sayang sekali kamu di sini sendiri. Apa kamu sedang putus cinta?" ujar seseorang lagi.


"Kamu ingin ikut bersama kami? Ke sana." Wanita satunya menunjuk sebuah tempat mereka berkumpul tadi.


Sedangkan Geo masih saja diam dengan wajah datarnya. Laki-laki itu terus memperhatikan aksi Cara yang masih belum menyadari bahwa suami tampannya sedang dikelilingi oleh para wanita. "Saya katakan pergi sebelum istri saya memberi kalian pelajaran," ujar Geo begitu dingin.


Empat wanita itu terkejut saat Geo mengucapkan kata istri. Namun, beberapa saat kemudian merek tertawa. "Tidak baik begitu Tuan, alasan seperti itu terlalu global. Kamu tidak ingin kami dekati dan mengatakan sudah punya istri," papar seorang wanita.


Geo tersenyum miring saat melihat Cara sudah menoleh ke arahnya. Sangat terlihat raut terkejut dari wajah Cara. Tidak berselang lama, raut terkejut itu berganti menjadi warna merah padam. 'Lihatlah, wanitaku akan segera mengamuk,' batin Geo.


Geo tersenyum menatap Cara yang sedang melangkah cepat ke arahnya. Wanita itu sudah basah karena air laut, hal itu malah membuat sesuatu di dalam diri Geo terbangun. 'Astaga, haruskah aku selalu mengurungnya di dalam kamar?' batin Geo frustasi.


"Hubby." Cara memeluk Geo begitu posesif dan melirik tajam empat wanita yang sudah melotot terkejut.


Geo terkekeh kecil sambil membalas pelukan sang istri. Baju Geo sudah ikut basah sebab Cara benar-benar menempelkan tubuhnya ke badan kekar Geo. Cara masih saja menatap tajam empat wanita yang sudah berdiri kikuk. "Kalian mau apa?" tanya Cara sinis.


"O-oh, kami hanya menyapanya," sahut seorang wanita sedikit gugup.

__ADS_1


"Silakan cari yang lain, jangan laki-lakin yang sudah beristri," terang Cara.


Empat wanita itu terkejut, mereka melirik Geo yang masih memperlihatkan wajah datarnya. Jadi, apa yang dikatakan oleh Geo itu adalah benar. Mereka malah sempat berpikir Geo hanya sekedar beralasan sebab tidak ingin diganggu oleh mereka. "Maaf Nyonya, kami tidak tahu kalau dia sudah menikah," balas seorang wanita.


"Tapi Nyonya, saran saya … Anda jangan meninggalkan suami Anda sendiri," tambah seorang wanita.


Cara mendengkus kesal sambil mendongak menatap wajah tampan suaminya. "Kami permisi Nyonya." Setelah mengucapkan itu, empat wanita itu pergi dari sana.


Cara masih saja memeluk erat tubuh suaminya seakan tidak ingin berpisah. Geo terkekeh kecil melihat wajah cemberut milik istrinya itu. "Masih ingin bermain?" tanya Geo.


"Ck … mood aku langsung hilang karena ini. Lihatlah, Kak Ge masih berpakaian saja mereka sudah kecentilan. Apa lagi kalau seperti tadi, tidak pakai baju. Atau jangan-jangan Kak Ge sengaja tebar pesona ya?" Cara melepas pelukannya dan menatap Geo dengan mata memicing.


Cara mendengus kesal. "Sombong sekali Anda Tuan Vetro," ucap Cara.


"Tapi memang benar kan Sayang?" Geo menunduk menyamakan wajahnya dengan wajah Cara.


Cara berdecak, tetapi setelahnya wanita itu terkekeh. "Benar, aku bahkan sampai sekarang tidak sadar-sadar dari hipnotismu itu." Cara mencubit kedua pipi suaminya gemas.


Geo terkekeh, laki-laki itu menahan tubuh Cara saat dengan tiba-tiba istrinya itu memeluk lehernya. "Gendong, ayo kita main air bersama …. Lihatlah, awan sudah berwarna merah." Cara menunjuk ujung laut begitu antusias.


...*****...

__ADS_1


"Jadi sekarang kamu sedang di mana?" tanya Cara.


"Aku sedang di kampus, kenapa kamu harus menitipkan aku kepadanya? Aku tidak apa-apa Cara, keberadaannya malah membuat aku takut," rengek Siera.


Cara tertawa mendengar itu. "Tidak apa-apa, santai saja. Aku tidak akan tenang kalau meninggalkanmu tanpa pengawasan," sahut Cara.


"Aku ini jago karate Cara, jadi tidak perlu ada pengawal," kesal Siera.


Cara kembali terkekeh. "Aku tahu Nona Siera, tapi aku tetap ingin berpikir tenang di sini. Sudahlah, bagus bukan mendapat pengawal tampan seperti itu?" goda Cara.


"Iya bagus, dia memang tampan. Aku tahu dan aku akui itu. Tapi … jantungku yang tidak bagus Cara." Siera berteriak sambil merengek.


"Pfft … kalau begitu dia tidak seram bukan? Kenapa malah kamu takut?" tutur Cara.


"Astaga, bagaimana pun dia itu anggota inti Death. Kau tidak tahu bagaimana gugupnya aku menghadapinya," sahut Siera kesal.


"Sudah, kamu bisa menyuruhnya apa saja. Aku yakin dia akan menuruti keinginanmu," jelas Cara.


"Benarkah? Kalau begitu aku akan menyuruhnya untuk tidak mengikutiku lagi," balas Siera.


Cara terbahak. "Kalau itu tidak bisa Nona Siera," ejek Cara. Cara dapat mendengar decak kesal keluar dari mulut Siera di seberang telepon. Pembicaraan sepasang sahabat itu terus berlanjut dengan pembahasan yang bercampur aduk.

__ADS_1


__ADS_2