Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
172. Minta Maaf (lb)


__ADS_3

"Sayangnya aku sama sekali tidak takut kepadamu." Suara berat seseorang mengalihkan perhatian seluruh pasang mata di dalam ruangan kepala sekolah itu.


"Maaf, Pak. Saya sedikit terlambat." Alex menyambung kalimatnya sambil menatap kepala sekolah ramah.


Kepala sekolah berdiri sambil tersenyum tipis ke arah Alex. "Tidak apa-apa, Tuan Rowin. Silakan duduk, Tuan," balas kepala sekolah.


Sedangkan Pak Andra sudah menegang ditempat saat mendengar marga Rowin yang baru saja dilontarkan oleh kepala sekolah. "Tuan Rowin?" gumam Pak Andra.


Andini yang sedari tadi terpesona menatap wajah tampan Juan, tersadar saat mendengar suara kecil Papanya. "Kenapa, Pa?" tanya Andini.


Pak Andra tidak menyahut, laki-laki paruh baya itu meneguk ludahnya kasar saat menatap secara langsung wajah sang wakil Death itu. Selain sebagai wakil Death, Alex juga terkenal sebagai pebisnis persenjataan di manca negara. Alex menoleh dan menatap datar wajah pucat Pak Andra. Setelahnya laki-laki tampan itu menoleh ke arah Lamira yang sedang menunduk, sepertinya gadis itu takut Alex marah karena membuat Alex harus datang ke sekolah.


Alex tersenyum tipis melihat Lamira yang masih menunduk. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Alex.


Mendengar suara Alex yang bertujuan kepadanya, Lamira mengangkat kepalanya dan menggeleng pelan. "Pak Andra, sesuai keinginan Anda tadi. Mari kita mulai pembahasannya, Tuan Rowin adalah wali dari Lamira," tutur kepala sekolah.


"Apa?" ucap Pak Andra terkejut.


Lamira yang melihat itu tersenyum sinis. "Kenapa, Tuan? Lebih menakutkan dari pada polisi ya?" ejek Lamira.

__ADS_1


Alex terkekeh kecil melihat sifat berani Lamira. Laki-laki itu mendekat ke arah telinga Lamira dan berbisik singkat. "Aku suka, jangan lemah."


Lamira menoleh dan menatap Juan dengan pandangan terkejut. 'Aku pikir dia akan marah karena aku membuatnya terpanggil ke sekolah. Kalau begini, aku jadi tenang,' batin Lamira.


"Pa." Pak Andra tersadar saat Andini memanggilnya sambil menggoyangkan lengan laki-laki paruh baya itu.


"Tidak perlu dibahas, Tuan. Putri saya memang salah di sini," cetus Pak Andra pelan.


Andini yang mendengar itu melotot tidak percaya. "Kenapa jadi aku, Pa? Bukannya tadi Papa bilang akan membuat dia keluar dari sekolah ini?" protes Andini tidak terima.


"Diam lah, Andini," tegur Pak Andra.


"Aku bilang diam!" geram Andra.


Andini terkejut mendengar nada suara Papanya, ditambah dengan tatapan tajam Andra untuknya. Sedangkan Lamira yang melihat itu kembali tersenyum sinis. "Bukannya tadi Anda mengatakan kalau putri Anda itu manja. Tidak pernah tersentuh kata kasar apa lagi perlakuan kasar? Kenapa sekarang malah Anda marahi, di depan banyak orang seperti ini lagi," sindir Lamira.


Pak Andra terlihat gugup mendengar perkataan Lamira. "Maafkan putri saya. Andini, minta maaflah," papar Pak Andra.


Andini yang mendengar itu melotot tidak terima. "Aku tidak mau, Pa. Papa bagaimana sih? Dia yang harus minta maaf kepadaku," protes Andini.

__ADS_1


"Minta maaf saja, Andini. Jangan banyak protes," tegur Pak Andra.


"Tapi …."


"Kamu salah di sini Andini, tidak seharusnya kamu membahas masalah orang tua Lamira. Apa lagi orang yang sudah meninggal dunia. Meski Lamira sebenarnya juga salah karena main hakim sendiri. Tapi semua itu bermula dari kamu, lebih baik kalian saling meminta maaf saja," tukas kepala sekolah berwibawa.


"Tidak, Pak. Andini yang salah di sini, dia saja yang meminta maaf. Ayo Andini," balas Pak Andra.


"Minta maaf kalau kamu masih ingin hidup enak, nanti Papa jelaskan," bisik Andra kepada Andini.


Dengan terpaksa Andini menatap wajah Lamira dengan tatapan marah. "Maaf," ketus Andini.


"Mana ada orang minta maaf seperti itu," balas Lamira sinis.


"Baik-baik Andini," tegur Pak Andra.


"Aku minta maaf," tekan Andini kesal.


"Karena aku orang baik, aku maafkan. Tapi tidak jika kau masih mengulangi kesalahanmu," sahut Lamira.

__ADS_1


"Tidak, dia tidak akan mengganggu kamu lagi," balas Pak Andra cepat.


__ADS_2