Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
84. Kehilangan Nyawa (lb)


__ADS_3

"Apa maksud Anda, Nyonya? Apakah Anda menyindir saya?" geram Berli merasa tersinggung.


"Loh? Kenapa Anda marah, Nyonya Berli? Padahal saya hanya bercerita sesuatu yang sedang marak sekarang ini. Bahkan di seluruh belahan dunia, apa Anda tersinggung? Jadi … Anda sedang mengincar suami orang sekarang? Atau mungkin, laki-laki tua bekas orang lain?" ejek Cara.


Tepat saat Cara sedang menyindir Berli dengan kata-kata itu. Farel masuk ke dalam ruangan itu, laki-laki datar yang satu itu mengernyit bingung kala mendapati aura ruangan sudah begitu mencekam. Farel juga sempat mendengar beberapa kalimat terakhir yang diucapkan Cara. Dia bisa menebak sepertinya ada masalah di antara Cara dengan calon rekan bisnisnya itu.


Berli melotot tidak terima. "Saya tidak terima diperlakukan seperti ini Tuan Vetro. Istri Anda ini sangat keterlaluan, apa dia tidak berpikir kalau saya adalah tamu kehormatan di sini? Sebaiknya Anda menyuruh istri Anda untuk keluar dari ruangan ini," murka Berli.


"Tenang, Mrs. Berli," ucap Max mencoba menenangkan.


"Bagaimana aku bisa tenang jika mulut wanita ini sudah keterlaluan. Apa kamu tidak mendengarnya sedari tadi? Dia sengaja menyindirku!" teriak Berli.

__ADS_1


"Astaga, apa Anda sedang tidak enak badan Nyonya Berli? Saya bahkan tidak menyebutkan lebel nama tadi, tapi kenapa Anda malah mengamuk? Intinya, jika Anda mengamuk dan merasa tersindir … berarti Anda memang melakukan apa yang saya katakan tadi," tutur Cara santai.


Berli terdiam merasa perkataan Cara tepat sasaran dan mampu membuatnya kehilangan pembelaan. "Saya sangat menyesalkan hal ini, apa Anda tidak bisa mencari istri yang lebih pintar lagi Tuan Vetro?" ucap Berli.


Perkataan itu sukses membuat Geo mendongak dan menatap tajam Berli. Berli dan Max tersentak kala melihat tatapan mematikan Geo yang tertuju ke arah Berli. Geo yang sedari tadi diam sambil memainkan rambut sang istri terusik dengan kata-kata kasar Berli untuk Cara. "Kau salah sudah membangunkan iblis yang sedang tidur Nyonya Berli." Cara tersenyum miring.


Berli menelan salivanya kasar kala Geo masih saja menatapnya tajam. Cara meraih tangan suaminya dan menggenggam lembut telapak tangan kekar itu. Geo tersadar dan menoleh ke arah Cara yang sedang tersenyum manis ke arahnya. "Its oke, Hubby," tutur Cara lembut.


Berli dan Max terkejut dan menoleh ke arah Farel yang tak kalah datarnya. "Apa kau sedang mencoba uji nyali di sini? Lancang sekali mulutmu mengatai istri Ketua kami. Saya berani bertaruh, jika otakmu diadu dengan otak Nyonya Vetro. Kau belum ada apa-apanya, Nyonya Vetro adalah mantan direktur utama VT Group. Jabatan yang bahkan jika dibandingkan dengan CEO KT Company, masih begitu jauh," desis Farel.


Berli terkejut mendengar perkataan Farel. Dia pikir Cara hanyalah seorang wanita bodoh yang hanya mengandalkan wajah cantiknya. "Sudahlah, sepertinya KT Company tidak berniat bekerja sama dengan VT Group, Kak. Ternyata buang-buang waktu saja kita di sini," kata Cara.

__ADS_1


Berli dan Max melotot terkejut, perusahaan mereka sekarang sangat membutuhkan sokongan dari VT Group. Jika VT Group tidak bersedia, maka akan sangat sulit untuk mereka mengembangkan perusahaan yang bahkan sempat bangkrut itu. "Maafkan Mrs. Berli, Nyonya. Dia hanya kelelahan sehingga perkataannya melantur ke mana-mana," ucap Max.


"Anda tidak salah Tuan Max. Jadi Anda tidak perlu meminta maaf untuk suatu kesalahan yang tidak Anda perbuat. Kalau begitu kami permisi." Sera berdiri bersama Geo yang masih mencoba mengontrol amarahnya.


Satu langkah sebelum tubuh sepasang suami istri itu menghilang dibalik pintu. Cara membalikkan badannya menatap wajah Berli yang masih terdiam. "Oh iya, Nyonya Berli. Selain suka berdiam diri, saya juga suka sekali mengikuti suami saya ke penjara markas Death. Melihat proses penyiksaan para tawanan di sana. Yang paling membuat saya semangat itu … saat tibanya penyiksaan untuk para wanita yang begitu berani menatap mendamba kepada suami saya," tutur Cara.


Deg …. Berli terkejut, wajahnya pias mendengar hal mengerikan dari mulut Cara. "Jadi … yang merasa tadi begitu berani menatap suami saya dengan keinginan memilikinya. Bersiap saja, biasanya meski saya tidak memberi perintah. Suami saya malah bergerak lebih cepat." Setelah mengucapkan hal itu, Cara pergi dari sana meninggalkan Berli yang sudah pucat.


"Kenapa Anda tidak berpikir dulu sebelum bertindak? Padahal sedari awal Tuan Besar sudah memperingati untuk tidak menyinggung istri Tuan Vetro. Aku yakin setelah ini Anda akan kehilangan jabatan Anda," papar Max kesal.


"Masih syukur jika saya kehilangan jabatan, bagaimana kalau sebelum itu terjadi … saya sudah kehilangan nyawa?" lirih Berli bergetar.

__ADS_1


Max menatap Berli tidak berminat. "Urus sendiri, saya tidak ingin terkena dampak dari perilaku bodoh Anda itu." Setelah mengucapkan itu, Max pergi meninggalkan Berli sendiri di sana.


__ADS_2