
"Setidaknya jika kita terus di sini, masih ada kemungkinan untuk kamu mencari perhatian Rical. Meski dia seperti ini sekarang, tidak tahu ke depannya bagaimana dan seperti apa. Kita harus bisa bertahan, Sayang. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu tidak bisa jauh dari Rical. Kita harus tunggu dulu ya," tutur Sasdia mencoba memberi kekuatan kepada anaknya.
"Rical sudah terlena dengan wanita itu, aku jadi kesal kepada … siapa namanya itu? Dia juga tidak mengerti bahasa Indonesia, aku jadi bingung ingin menceramahinya bagaimana," tutur Jesy kesal.
Torih menghela napas berat mendengar perkataan Jesy. "Itulah, kenapa dulu kamu tidak ingin mengikuti kelas bahasa inggris?" papar Torih.
Jesy mengerucutkan bibirnya kesal. "Aku tidak tahu akan jadi seperti ini," jawab Jesy.
"Siapa juga yang mau seperti ini, meski tidak untuk ini pun, bahasa inggris itu tetap perlu," jelas Torih.
"Aku …." Kalimat Jesy terhenti saat melihat orang yang baru saja mereka bicarakan muncul.
Helen yang memang begitu sering ke area kolam renang, kini sudah terlihat keberadaannya. Perempuan bule itu berjalan santai, mendekat ke arah tiga manusia yang sedang menatapnya tidak suka. "Hai." Helen menyapa mereka dengan senyum termanis yang dimilikinya.
__ADS_1
Jesy mendengus menatap Helen tidak suka. "Tidak usah sok dekat kau," ketus Jesy.
Helen yang masih belum mengerti bahasa Indonesia, hanya bisa mengernyit bingung. Perempuan itu berdiri di tepian kolam, seperti hari-hari sebelumnya. "Pa, coba ajak dia bicara. Beri tahu dia kalau aku ini istrinya Rical, aku jamin dia pasti belum tahu statusku di sini," tutur Jesy.
"Nanti Tuan Carves marah, Jes. Keberadaan kita di sini bisa semakin rumit, kita belum ada tempat untuk pergi," sahut Torih.
"Tapi dia harus tahu, Pa. Aku tidak terima suamiku bersama wanita lain," protes Jesy.
"Hei." Jesy sedikit berteriak kepada Helen.
Helen menoleh dan menatap bertanya ke arah Jesy. "Aku?" tanya Helen dengan bahasa inggrisnya.
Torih menatap was-was Jesy yang mulai mendekat ke arah Helen. "Sa, kita harus bisa menenangkan Jesy. Dia bisa berbuat aneh-aneh kepada wanita itu. Bisa-bisa semuanya semakin kacau," ucap Torih cemas.
__ADS_1
"Biarkan saja, Mas. Jesy sudah terlalu menderita, kita lihat apa yang ingin Jesy lakukan kepada wanita penggoda itu," papar Sasdia.
Torih menghela napas panjang mendengar perkataan Sasdia. "Bukan begitu caranya, Sasa. Hidup kita dipertaruhkan di sini, bukannya kamu sendiri yang mengatakan kalau Tuan Rowin memperingati kita?" ujar Torih.
"Tapi tidak harus membuat Jesy menahan amarahnya, wanita itu juga terlihat polos. Sepertinya dia tidak akan melawan, kalau kamu ingin berbicara kepadanya … beri tahu dia kalau Rical sudah memiliki istri. Pasti dia memilih pergi, dengan begitu kesempatan Jesy jadi lebih besar, Mas," ungkap Sasdia.
Torih mengusap wajahnya kasar. "Sudah aku katakan, sistemnya tidak seperti itu, Sasa. Kalau seandainya wanita itu pergi, dan Tuan Carves tahu penyebabnya adalah kita … dia bisa marah besar. Apa kalian tidak berpikir sampai ke sana?" terang Torih tidak habis pikir.
Sasdia terdiam merasa apa yang dikatakan oleh Torih ada benarnya. "Iya, tapi …."
Byur …. Kalimat Sasdia terpotong saat mendengar suara gemericik air kolam yang begitu jelas. Mereka menoleh dan melotot saat melihat Helen sedang berkecimpung di dalam air kolam. Torih panik saat melihat ternyata Helen tidak bisa berenang. "Astaga, apa yang kamu lakukan, Jesy? Dia sepertinya tidak bisa berenang," teriak Torih.
Byur …. Kepanikan Torih terinterupsi oleh seseorang yang tiba-tiba melompat ke dalam air. Wajah tiga manusia itu langsung memucat saat mengetahui siapa yang sedang menolong Helen. "Kau memang tidak punya hati."
__ADS_1