Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
42. Permainan sebelum Honeymoon (lb)


__ADS_3

Cara tertawa senang mendengar pertengkaran dari dalam ponselnya. Wanita itu memang belum mematikan sambungan telepon itu sebab begitu penasaran dengan kemarahan Torih kepada Jesy. "Sayang," panggil Geo.


Cara menoleh saat mendengar suara Geo, wanita itu tersenyum saat melihat sang suami baru saja keluar dari kamar mandi. Tato berukiran Death di perut sebelah kanan laki-laki itu terpampang jelas di mata Cara. 'Seperti arti ukiran tato itu, perut itu benar-benar berbahaya untukku,' batin Cara.


"Sedang apa? Kenapa sepertinya senang sekali." Geo mengecup puncak kepala Cara yang sedang duduk di atas ranjang.


"Aku sedang mencari mood, ternyata tidak sia-sia. Aku senang sekarang," balas Cara.


Geo mengernyit sambil menatap layar ponsel Cara yang terus mengeluarkan suara pertengkaran. "Aku hanya ingin meninggalkan sedikit permainan untuk mereka sebelum kita berangkat honeymoon." Cara tersenyum manis ke arah Geo.


Geo tersenyum mendengar itu, setelahnya Reo duduk di samping Cara dan memeluk sang istri dari samping. "Kira-kira Tuan Carves itu mau tidak bertanggung jawab Kak?" tanya Cara.


"Aku tidak tahu Sayang, dia bukan laki-laki yang memiliki keinginan untuk menikah," papar Geo.


"Iya juga sih, dari sifatnya yang suka bermain wanita sudah jelas kalau dia tidak berniat menikah," ujar Cara.


"Tidak usah membahasnya, sekarang ayo kita sarapan," tutur Geo.


"Kak Ge saja masih memakai handuk, sana pakai celanannya," ucap Cara.


"Tidak ingin menyapanya dulu Baby?" bisik Geo.

__ADS_1


Bulu kuduk Cara merinding. "Kita sudah selesai mandi Kak, sudah sana pakai celanannya," balas Cara.


"Tidak masalah jika sudah selesai mandi Sayang, itu tidak akan menghalanginya bukan?" Geo menarik tubuh Cara dan meletakkan tubuh wanita itu di atas pangkuannya.


"Masih ada beberapa waktu lagi sebelum kita sarapan," ucap Geo pelan.


'Astaga, aku bisa apa selain pasrah?' batin Cara.


"Ingin mulai dari mana Baby?" bisik Geo.


"Terserah Kak Ge saja, aku pasrah," sahut Cara. Geo tersenyum mendengar jawaban sang istri. Geo berdiri sambil mengangkat tubuh Cara dengan begitu mudah. Cara melingkarkan kakinya di pinggang Geo dan memeluk leher sang suami erat. Kegiatan panas mereka kali ini dipandu oleh Geo sambil berdiri. Setiap suara yang keluar dari mulut Cara terasa begitu merdu di telinganya. Suara indah yang mampu membuat hasrat Geo semakin terpanggil.


"Kau benar-benar memalukan Jesy," bentak Torih.


Jesy sudah menangis, begitu pula dengan Sasdia yang sudah terisak sambil menatap Jesy dengan pandangan kecewa. "Siapa laki-laki itu?" desis Torih.


Jesy menelan salivanya sebelum menjawab pertanyaan Torih. "Rical," sahut Jesy pelan.


Torih melotot terkejut. "Rical Carves?" tanya Torih.


"Iya," lirih Jesy.

__ADS_1


"Bodoh! Kau benar-benar bodoh Jesy, kenapa kau mau tidur dengan laki-laki itu, hah? Sudah aku katakan untuk berhati-hati dengannya," murka Torih.


Jesy diam dengan tubuh bergetar, Sasdia pun sudah tidak mampu untuk bersuara. "A-aku, tidak sadar waktu itu Pa. Aku …."


"Kau memang bodoh! Ini aib, jika tersebar maka nama keluarga kita akan semakin buruk, bangsat!" potong Torih marah.


"Mama sudah katakan untuk tidak usah berurusan dengannya, tapi kamu tetap keras kepala." Sasdia bersuara disela isak tangisnya.


"Aku sudah memberi tahunya, aku akan terus mendesaknya untuk bertanggung jawab. Bagaimana pun ini anaknya, pasti ke depannya dia akan luluh dengan keberadaan anaknya di perutku," terang Jesy.


"Kau pikir dia laki-laki seperti apa, heh? Sudah aku katakan kalau dia bukan laki-laki sembarangan Jesy, kau belum tahu apa-apa tentang dia. Tidak akan semudah itu untuk membuatnya bertanggung jawab," ujar Torih frustasi.


"Aku akan terus berusaha Pa, sekarang aku sedang mencari cara supaya dia mau menikahiku. Karena Papa sudah tahu ini semua, sekarang tolong bantu aku untuk mencari setidaknya satu kelemahan Rical. Kalau aku bisa menikah dengannya, kehidupan kita pasti akan berubah Pa. Bukankah Papa sendiri yang mengatakan itu?" papar Jesy.


"Cukup Jesy, sudahi ini semua. Mama tidak ingin kamu melangkah lebih jauh lagi, kalau memang dia bukan laki-laki sembarangan. Maka, jangan masuk terlalu jauh ke dalam kehidupannya. Cukup sampai di sini, Mama tidak ingin kamu semakin sengsara, Sayang. Tidak apa-apa kamu hamil, tidak usah meminta pertanggung jawabannya. Kita saja yang merawat anak di dalam kandunganmu ini, tidak usah menyenggolnya lagi," tutur Sasdia.


"Tidak bisa begitu Ma, dia tetap harus bertanggung jawab. Aku akan terus memintanya untuk menikahiku, aku tidak ingin anakku lahir tanpa seorang ayah nanti," sahut Jesy.


"Tapi Sayang …."


"Tidak apa-apa Ma, Mama tenang saja. Kehidupan kita juga tidak baik-baik saja sekarang, mana tahu setelah aku menikah dengannya nanti … kita bisa kembali seperti dulu," sela Jesy.

__ADS_1


__ADS_2