
Tiara mengusap punggung anaknya pelan, mencoba memberi kekuatan kepada Siera. Meski dia juga merasa sedih, tetapi dia tahu jika Siera lebih merasa sedih. "Sabar, Sayang. Cara pasti akan segera bangun, Mama yakin," tutur Tiara.
"Benar, Cara adalah putri Papa yang paling kuat. Jika kamu kuat fisik, maka Cara lebih kuat akan hal itu. Kamu adalah orang yang lebih tahu itu, bukan?" tambah Bagas.
Siera menghela napas panjang mendengar itu semua. Siera mendongak dan menatap wajah pucat Cara yang masih memejamkan matanya. "Ini sudah dua hari, tapi dia masih setia memejamkan matanya. Aku sudah sepakat dengan Kak Farel, jika Cara masih belum bangun sampai hari H pertunganku. Kami akan mengundurkan acara itu, aku ingin Cara hadir di dalam acara bahagiaku," lirih Siera.
Tiara dan Bagas saling pandang, setelahnya kedua paruh baya itu hanya bisa menghela napas pelan. "Kita terus support Cara supaya cepat sadar, Sayang. Terus panggil dia untuk menemukan jalan pulang. Saat ini dia pasti sedang tersesat di alam bawah sadarnya. Itulah pentingnya peran kita di sini, kita terus ajak dia berkomunikasi untuk memandunya di sana," terang Tiara.
Siera menoleh dan menatap wajah Tiara dengan pandangan bertanya. "Begitukah, Ma?" tanya Siera memastikan.
Tiara tersenyum sambil mengangguk pelan. "Benar, Sayang. Jadi teruslah berusaha, kalian kan banyak. Apa lagi suaminya, suara Tuan Vetro pasti akan sangat membantu," balas Tiara.
"Kak Geo hampir setiap menit mengajak Cara berbicara, Ma. Jika dalam waktu seperti ini saja dia tidak berbicara, ya karena sedang tidak ada ditempat," tutur Siera.
__ADS_1
"Maka, kamu yang menggantikan selagi dia tidak ada," sahut Tiara.
Cklek …. Pintu ruangan rawat Cara terbuka, sosok Geo muncul dari balik pintu itu. Secara tiba-tiba Tiara dan Bagas berubah kaku. Siera mengerti dengan hal itu, ini adalah pertama kalinya bagi kedua orang tuanya berhadapan langsung dengan Geo, sang pemimpin mafia yang terkenal kejam itu.
Geo menatap sepasang paruh baya itu dengan pandangan datarnya seperti biasa. "Mereka kedua orang tuaku, Kak," ucap Siera pelan.
Geo tidak menyahut, laki-laki itu melanjutkan langkahnya ke arah ranjang sang istri. Sedangkan tiga manusia yang berada didekat ranjang memilih menyingkir secara kaku. Semenjak Cara tidak sadarkan diri, Geo semakin dingin dan datar. Bahkan suaranya hanya akan terdengar jika sedang mengajak sang istri berbicara. Keadaan Geo juga sangat kacau, tubuh yang nampak tidak terurus. Sepertinya laki-laki itu benar-benar merasa frustasi dengan keadaan Cara.
"Mama tidak menyangka ternyata Tuan Vetro itu memang sangat mendominasi. Bahkan hanya diam, dia mampu membuat orang lain serasa terintimidasi." Tiara berucap sambil mengusap tengkuknya.
"Iya, Papa juga merasa bagaimana. Tapi, rasanya bangga bisa melihatnya secara langsung seperti itu," tambah Bagas.
Alisa terkekeh kecil mendengar kalimat kedua orang tuanya. "Tapi, kamu bisa tahan berdekatan dengannya seperti itu?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Tidak, meski sudah biasa, aku masih saja takut dan segan. Apa pergerakanku tidak terlihat?" balas Siera.
"Terlihat sih," sahut Tiara.
Alisa kembali terkekeh kecil mendengar perkataan Tiara. "Sudahlah, ayo kita pulang, Ma. Kamu kembalilah ke dalam, Sie," papar Bagas.
"Iya, Mama dan Papa hati-hati," pesan Siera.
...*****...
Geo menatap wajah Cara yang masih nampak begitu pucat. "Apa yang membuat kamu begitu betah di sana, Sayang? Apa kamu sudah melupakan aku? Apa ada laki-laki yang lebih tampan di sana? Apa aku sudah nampak membosankan?" celoteh Geo yang hampir setiap hari laki-laki itu lontarkan.
Geo mengusap wajahnya kasar merasa begitu frustasi dengan keadaan sang istri yang sampai saat ini belum juga sadarkan diri. "Kalau aku sudah kurang tampan, ada anak kita yang melebihi ketampanan aku, Sayang. Matanya bahkan lebih tajam dari pada aku. Bola matanya berwarna biru laut, seperti bola mata mendiang Papaku. Bola mata yang kata kamu begitu bagus. Kamu pernah mengatakan ingin melihat laki-laki berbola mata biru laut secara langsung, bukan? Anak kita … dia sangat tampan, seperti keinginan kamu."
__ADS_1